'Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas' Jadi Film Terbaik di Locarno Film Festival

Di bulan kemerdekaan ini, kabar menggembirakan silih datang bergiliran. Setelah sebelumnya para atlit Indonesia berhasil mendulang banyak medali di ajang Olimpiade Tokyo, kali ini kabar baik pun datang dari dunia perfilman tanah air.

Adalah film ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas‘ (atau judul bahasa Inggris-nya ‘Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash’) besutan sutradara Edwin yang berhasil membawa pulang Golden Leopard yang merupakan hadiah utama dari ajang film bergengsi, Locarno International Film Festival 2021.

“Kami dengan senang hati mengumumkan pemenang #Locarno74: ThePardo d’oro, Grand Prize Festival of the City of Locarno untuk film terbaik diberikan kepada: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash) oleh Edwin, Indonesia / Singapura / Jerman,” demikian keterangan  di akun resmi Instagram Locarno Film Festival pada Sabtu, 14 Agustus 2021.

Golden Leopard merupakan penghargaan tertinggi dari festival film Internasional itu. Para sineas yang pernah mendapatkannya pun bukan nama sembarang, katakanlah diantaranya seperti Stanley Kubrick, Mike Leigh, Jafar Panahi, dan sineas kebanggan kaum edgy, Jim Jarmusch. Penghargaan yang diterima Edwin ini menjadikannya orang Indonesia pertama yang meraih penghargaan bergengsi tersebut. Sebagai catatan, biasanya penerima penghargaan di salah satu festival film tertua di dunia ini menjadi tolok ukur pemenang Piala Oscar tahun berikutnya.

“Penghargaan Golden Leopard ini semacam vaksin, booster, atau vitamin yang diharapkan mampu menguatkan kembali film Indonesia dan segenap jiwa raga pecinta film Indonesia di manapun mereka berada,” kata Edwin seperti dikutip Antara, Minggu (15/8/2021).

Ragam respon positif pun muncul dari berbagai kalangan. salah satunya adalah sutradara kondang Joko Anwar. Sineas yang juga gandrung dengan musik itu pun berharap kemenangan ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’ ini harus menjadi pemicu bagi semua sineas Indonesia untuk menaikkan standar mereka. 

“Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (Vengeance is Mine All Others Pay Cash) adalah film Indonesia pertama yang memenangkan top prize dari salah satu festival film internasional terbesar.” tulis Joko Anwar dalam unggahan akun Instagramnya. “Pencapaian historis, justru di masa sulit industri film Indonesia karena pandemi. Sebuah kerja dedikasi untuk sinema. Dengan effort yang besar, tanpa kompromi. Terimakasih dan selamat tim Dendam! Ini harus jadi pemicu semua filmmaker Indonesia untuk selalu menaikkan benchmark dan penyemangat industri yang harus tetap hidup. Salut!” lanjutnya

‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’ merupakan film adaptasi dari novel karya Eka Kurniawan yang mengisahkan seorang jagoan bernama Ajo Kawir. Ia tak kenal takut dan senang bertarung. Rupanya hasrat bertarungnya itu didorong rahasia yang dipendamnya, yakni ia impoten.

Namun suatu hari ia bertarung dengan jagoan perempuan bernama Iteung.  Dalam pertarungan keduanya, Ajo babak belur dan akhirnya sadar ia jatuh cinta pada Iteung.  Filmnya dibintangi oleh Marthino Lio (pemeran Ajo Kawir), Ladya Cheryl (Iteung), Reza Rahadian (Budi Baik), Ratu Felisha (Jelita), dan Sal Priadi (Tokek).

Film ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’ merupakan film kerjasama tiga negara, yaitu Indonesia, Singapura, dan Jerman. Usai Locarno International Film Festival 2021, film ini juga akan berpartisipasi di program Contemporary World Cinema, Toronto International Film Festival 2021.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari berbagai sumber

My Bloody Valentine Kritik Spotify Soal Lirik yang Salah

Di antara kalian pasti ada dong yang pernah memutar lagu di Spotify sambil menikmati fitur lirik yang disediakan. Lewat fitur ini, para pengguna Spotify bisa sambil bernyanyi sesuka hati. Tapi,...

Keep Reading

Patahan Imajinasi Masa Kecil di Nomor Terbaru Latter Smil

Latter Smil, duo asal kota Palu yang dihuni oleh Dian dan Eko, dipermulaan tahun 2022 ini kembali melepas karya teranyarnya bertajuk “Kalila”. Lewat single ini Latter Smil mencoba untuk memberikan...

Keep Reading

Perjalanan Skena Musik Ambarawa dalam Album Kompilasi They Hate Us

Terlihat dalam beberapa tahun terakhir, produksi album kompilasi skena musik lokal mulai kembali marak. Tercatat ada beberapa deretan kompilasi yang terbit pada setahun-dua tahun ke belakang, seperti Bikin Kompilasi: Bless...

Keep Reading

Dua Album Milik Semiotika Akhirnya Dilepas Secara Digital

Usai merilis album penuh bertajuk Eulogi, unit post-rock asal Jambi, Semiotika akhirnya merilis dua album terdahulunya Ruang (2015) dan album mini Gelombang Darat (2018) ke dalam format digital. Sementara album...

Keep Reading