Duo Senyawa kembali ke kampung halaman sang vokalis, Rully Shabara, Palu.

Ada yang tak biasa dengan suasana perpustakaan mini bernama Nemu Buku pada Selasa, 09 April 2019 kemarin. Budaya hening di perpustakaan dihilangkan untuk sementara waktu. Ada kebisingan yang bersuara sejak sore.

Sekitar hampir seratus orang dengan latar belakang yang beragam memadati tempat yang tidak terlalu besar itu. Mereka menyatukan pikiran untuk menolak kebijakan pemerintah yang hendak merancang sebuah tanggul di sepanjang Teluk Palu.

Mereka beranggapan bahwa pembangunan tanggul bukanlah solusi yang tepat untuk meminimalisir korban ketika kembali terjadi gelombang tsunami. Solusi yang mereka tawarkan adalah penanaman mangrove yang jadinya menghadapi gejala alam dengan elemen alam pula.

Fakat mencatat bahwa lokasi-lokasi di di daerah pemukiman sekitaran bibir pantai yang rawan tsunami, tingkat kerusakannya tidak terlalu parah karena gelombang yang datang akan berhadapan langsung dengan mangrove yang sengaja ditanam warga.

Diskusi yang dimulai sejak sore hari hingga malam itu ditutup lalu dilanjutkan oleh penampilan Senyawa yang memang sengaja membuat sebuah micro show mandiri bertajuk Sujud di Tanah Palu. Pertunjukan ini diselenggarakan dengan berkerjasama dengan komunitas lokal. Sekaligus di dalamnya, dilakukan diskusi dan penandatanganan petisi Tolak Tanggul Teluk Palu.

Memang penampilan Senyawa malam itu semakin menyempurkan malam untuk mengokohkan perjuangan kelompok-kelompok yang hadir urun rembug. Tidak hanya sampai di situ, untuk pertama kalinya juga Senyawa membawakan album baru Sujud yang dirilis Oktober 2018 kemarin di wilayah Indonesia.

Bermain tanpa panggung, orang-orang langsung berdecak kagum saat multi instumentalis Wukir Suryadi, memainkan beberapa chord dengan gitar yang ia buat sendiri.

Konsep album Sujud agak berbeda ketimbang karya-karya Senyawa sebelumnya. Di album ini, Bambuwukir, instrumen andalan Wukir, absen. Nuansa eksperimental dari album ini tidak seagresif album-album sebelumnya. Kumpulan lagunya lebih harmonis. Di beberapa lagu, Wukir mencoba meramu suara reverb dan delay yang menggambarkan ambience alam yang tenang lalu kemudian diloop terus menerus. Lalu, ia juga membuat suara yang terdengar seperti pukulan-pukulan kayu yang dilengkapi aksi Rully memutar knob-knob stompbox mengeluarkan berbagai macam suara noise.

Karakter vokal dari Rully sendiri tidak sesangar album-album sebelumnya, ia terlihat mencoba sedikit lembut sesuai porsi dari konsep album Sujud tapi tidak menghilangkan karakter Senyawa.

Di sela-sela penampilan mereka, Rully Shabara sempat menjelaskan tentang makna Sujud yang menekankan pada konsep bersyukur atau berserah diri terhadap tanah tempat kita hidup, tempat kita kembali. Itu sekaligus menjelaskan alasan dia menggunakan kopiah malam itu.

“Senyawa memang harus berbagi di Palu, khususnya pasca 28 September. Diharapkan bisa membantu menyemangati, menginspirasi dan menjaga silaturahmi. Sesederhana itu sebenarnya, tapi sangat penting bagi saya pribadi khususnya sebagai orang yg lahir di Palu,” katanya.

“Kebetulan juga teman-teman di Palu sekarang sedang berjuang menolak pembangunan tanggul Teluk Palu yang sesungguhnya sangat berisiko karena menghiraukan solusi yang lebih masuk akal seperti merestorasi ekosistem mangrove. Jadi pertunjukan di Palu kali ini juga sekaligus bertujuan membantu kampanye yang baik ini,” lanjutnya ketika ditemui selepas pertunjukan.

Acara malam itu ditutup dengan makan bersama selepas penampilan Senyawa sambil menikmati cuplikan dokumenter musik yang dibuat oleh The Volcanic Winds. (*)

Teks: Inuputra Pratama
Foto: Budi Kurniawan