Pada tanggal 15 November – 1 Desember 2019 lalu telah berlangsung pameran bertajuk Out of Register yang diselenggarakan di Bale Tonggoh, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Pameran tersebut merupakan sebuah pameran yang difokuskan pada salah satu medium tertua dalam sejarah seni rupa: seni grafis. Medium seni grafis yang mencakup beragam teknik seperti cetak tinggi (woodcut, hardboardcut, linocut), cetak dalam atau intaglio (etching, dry point), lithografi (teknik mencetak dengan media batu), cetak saring (populer dengan istilah teknik sablon), hingga cetak digital dan fotografi. Berbeda dengan medium 2 dimensi lainnya dalam seni rupa (misalnya seni lukis), medium seni grafis memiliki karakteristik khusus seperti transfer image (memindahkan gambar dari satu media ke media lain) dan aspek reproduksi (karya seni grafis bersifat edisi).

Dari beragam teknik yang bisa dieksplorasi oleh para pegrafis, medium seni grafis memiliki beberapa aturan yang seringkali diterapkan dengan ketat, salah satunya adalah metode presentasi karya. Pameran Out of Register, yang melibatkan dua kolektif asal Jakarta (Bremol dan Grafis Huru Hara), lima seniman Bandung (Egga Jaya Prasetya, Irfan Hendrian, Nurrachmat Widyasena, Rega Rahman, dan Sigit Ramadhan), dan dikuratori oleh Gesyada Siregar, setidaknya nampak berupaya untuk membongkar aspek-aspek konvensional yang melekat pada medium yang juga populer dengan istilah printmaking ini.

(Detail karya kolektif Grafis Huru Hara asal Jakarta di pameran Out of Register)

Apa saja kira-kira aspek konvensional yang berupaya dibongkar dalam Out of Register? Dalam sejarah praktiknya, medium seni grafis lekat dengan kertas sebagai media transfer image. Mulai dari kertas pabrikan, hingga upaya-upaya mengolah kertas secara manual. Irfan Hendrian, salah satu seniman yang terlibat dalam pameran Out of Register, menghadirkan media kertas dengan cara yang agak berbeda. Irfan tidak lagi melihat kertas sebagai media transfer dalam seni grafis, ia mengolah media kertas (yang tidak bersahabat dengan waktu dan juga tidak kokoh) menjadi sebuah media serupa kayu. Lapisan-lapisan kertas Irfan berjudul Piles of Paper (2019) nampak dieksplorasi oleh sang seniman layaknya teknik mematung. Secara puitik seolah mengembalikan dan merekonstruksi asal muasal kertas.

Dipajang bersebrangan dengan karya Irfan, karya Rega Rahman berjudul Bow to Your Sensei (2019) justru masih memanfaatkan kertas sebagai media transfer image dalam seni grafis. Meskipun begitu, karya Rega tampil dengan bentuk presentasi yang jauh dari konvensi seni grafis dan cenderung instalatif. Rega menekankan gagasan seni grafis yang hampir selalu mengacu pada matriks/master (kayu, pelat, atau bidang dimana gambar dibuat sebelum ditransfer ke media lain seperti kertas). Matriks disimbolisasi menjadi seorang guru/sensei yang diikuti oleh muridnya, sebuah analogi yang ditunjukkan oleh Rega dalam bentuk olahan presentasi karya: dipajang di dinding secara melingkar dengan satu pusat. Terlepas dari bentuk presentasi yang eksploratif, karya Rega masih memanfaatkan teknik seni grafis konvensional seperti cetak saring.

(Presentasi karya Irfan Hendrian berjudul Piles of Paper)

Sigit Ramadhan juga mengkombinasikan teknik konvensional seni grafis dengan bentuk presentasi yang lebih interaktif. Sigit memanfaatkan teknik hardboardcut yang dicetak di atas kertas dalam karya berjudul Bhayangkara, the Premise (2019). Sementara dalam karya berjudul Bhayangkara, Identifying the Dark Side (2019), Sigit menampilkan matriks kayu karya cetaknya dalam bentuk puzzle yang bisa dimainkan pengunjung pameran. Upaya untuk turut menampilkan matriks dari karya cetak seni grafis memang cukup populer dilakukan oleh para pegrafis (tidak hanya menampilkan hasil cetak di atas kertas atau media lain). Karya Nurrachmat Widyasena berjudul PT Besok Jaya: LAPAN Suit Studies #1 – #10 (2016) menghadirkan eksplorasi teknik cetak di atas logam, dalam hal ini teknik etching. Olahan teknik tersebut ditampilkan Nurrachmat dengan tambahan sentuhan cat minyak. Seperti halnya karya Rega Rahman, Nurrachmat juga menampilkan karya lain yang memanfaatkan teknik cetak saring atau sablon. Karya tersebut berjudul Celestial Cartographic Table #4 (2014) dan merupakan karya cetak saring di atas logam kuningan.

(Dua karya Sigit Ramadhan yang ditampilkan dalam pameran Out of Register)

Pameran Out of Register tidak hanya menampilkan karya-karya dari seniman individu, namun juga karya-karya kolektif. Bremol dan Grafis Huru Hara merupakan dua kolektif asal ibu kota yang turut menampilkan karyanya di pameran ini. Dalam karya videonya berjudul Nyablon Terus (2019), Bremol menunjukkan aktivitas proses mencetak yang diiringi oleh musik keras. Hasil akhir dari proses mencetak tersebut kemudian dibagikan dan bisa dibawa oleh pengunjung. Sementara itu, Grafis Huru Hara menghadirkan dua karya berjudul Peak-Nik (2019) dan Cigehaha (2019). Kedua karya tersebut merupakan bentuk pemaknaan ulang akan salah satu aspek fungsional teknik cetak grafis: iklan atau reklame.

Pameran ini menampilkan karya-karya seniman grafis yang bermotivasi dari konteks teknologi dan ekonomi akan masing-masing kota, Bandung dan Jakarta. Ketujuh seniman yang aktif berkarya pasca 2010 ini menyajikan bermacam modus kerja untuk menjelajahi kemungkinan seni grafis; dari atribut seperti kertas, plat, kimiawi, dan gestur mencetak, baik yang dilakukan secara konvensional dan mandiri hingga olahan massal.

Mengutip teks kuratorial Gesyada Siregar, Out of Register memang tidak hanya menghadirkan ragam bentuk presentasi seni grafis, tetapi juga ragam isu yang muncul di sekitarnya. Satu seniman lagi yang terlibat dalam pameran ini, Egga Jaya Prasetya, nampak cukup holistik merespons tema besar pameran melalui 7 karya yang ia tampilkan. Letter in A Bottle #1 hingga #4 (2019), Noong: Sugar-Peek (2019), dan Then Comes the (Corn) Essence #1 dan #2 (2019), dipresentasikan dalam format instalatif. Karya Egga fokus pada teknik sugar aquatint yang memang merupakan salah satu teknik seni grafis dengan gula sebagai aspek pentingnya. Tidak hanya mengangkat gula sebagai elemen artistik seni grafis, Egga juga sedikitnya melakukan riset khusus terkait gula yang populer dikonsumsi manusia sehari-hari. 

(Presentasi karya Egga Jaya Prasetya)

Pameran Out of Register merupakan sebuah pameran yang menawarkan kemungkinan-kemungkinan eksploratif seni grafis, sebuah medium yang erat dengan beragam aturan-aturan atau konvensi yang berlaku di sekelilingnya. Meskipun begitu, keragaman seniman partisipan, dalam hal ini asal kota, nampak masih sangat terbatas. Kembali merujuk pada teks kuratorial, semoga dalam perhelatan-perhelatan berikutnya (jika ada), pertimbangan pemilihan seniman tidak hanya soal kota bersuhu panas dan dingin.

Teks: Bob Edrian
Visual: Arsip Bob Edrian