Semiotika dan Musik yang Mempengaruhi Proses Kreasinya

Sedikit yang mungkin menoleh ke Jambi bila berbicara soal kancah musiknya, dengan geliat yang hanya dirasakan oleh pelakunya di kota itu. Tapi ada satu nama yang bisa dibilang menjadikan kota di pulau Sumatera itu menjadi bahan perbincangan para scenester, nama itu adalah Semiotika.

Band dalam format trio yang dibentuk tahun 2014 silam itu pun memainkan musik yang mungkin tak pernah terpikirkan akan muncul dari Jambi. Bibing (gitar), Riri (bass) dan Gembol (drum) menjadikan post-rock sebagai genre yang dipilih untuk menuangkan ide musikal mereka. “Bukannya karena apa atau bagaimana, sebenarnya karena kita malas bikin lirik. Kami menemukan kesamaan visi dari segi instrumen dan dari jamming bareng yang direkam. Itu langsung kita rekaman di studio.” Terang Riri akan perjalanan band-nya yang awalnya hanya iseng karena mereka bertiga sering nongkrong bareng.

 

Gembol, Riri dan Bibing. (Arsip Semiotika)

 

Tapi keisengan itu berbuah album perdana Semiotika yang berjudul Ruang yang dirilis secara mandiri di tahun 2015 silam. Bermodalkan album itu mereka pun menjajal tur Jawa secara swadaya, hingga sempat menjadi rekan tandem tur ke beberapa kota di Sumatera bersama unit post-rock asal Bandung, Under the Big Bright Yellow Sun.

Tiga tahun kemudian tepatnya tahun 2018, Semiotika merilis mini album Gelombang Darat. Album yang inspirasinya muncul dari pengalaman mereka menjalankan tur dengan membawa kendaraan sendiri melintas Jawa dan Sumatera. Secara musikal album itu menunjukkan kepiawaian dan kematangan Semiotika dalam mengeksplorasi kekuatan komposisi musiknya yang instrumental.

 

 

Alhasil atensi publik nasional pun semakin kuat diraih oleh Semiotika, hingga membawa mereka ke panggung besar Soundrenaline 2018, sebagai bagian dari rangkaian Siasat Calling on the Road Tour bersama Navicula dan Wake Up Iris. “Bila ditanyakan bagaimana perasaan kami, ya jelas senang sekali. Ini semacam mimpi kami,” ujar Bibing.

Apreasiasi terhadap Semiotika pun diberikan bukan hanya dari sembarang orang, bahkan seorang Iga Massardi dari Barasuara pun menunjukkan perhatian khusus terhadap mereka. “Unit instrumental yang punya bakat tersembunyi, mereka itu dari Jambi hal yang menarik. Jadi bukti bahwa banyak band tersebar daerah yang juga patut disimak,” kata Iga Massardi dilansir dari sebuah berita di jpnn.com.

Berbicara tentang proses kreatif sebuah band selain hanya ihwal kemampuan musikal masing-masing personil, tak lepas pula pastinya peranan referensi musik yang menginspirasi kreasi. Untuk sedikit mencari tahu itu dari Semiotika maka penulis menanyakan kepada anggota band ini tentang album rekaman musik apa saja yang paling berpengaruh bagi mereka secara musikal.

 

Under The Big Bright Yellow Sun Painting of Life (2012)

Album inilah merupakan sang inspirasi utama yang memacu untuk pergi ke studio, jamming dan tanpa pikir panjang membuat musik tanpa adanya vokal. Kenapa tidak, pikir kami pendek, musik mereka sudah cukup membuat hari-hari saat bekerja sangat menyenangkan tanpa harus bersenandung bernyanyi dan punya lirik. Kami harus membuat musik seperti mereka pada saat itu. Kami pikir, musik yang bisa membuat orang senang tanpa ada lirik. Album ini tidak membosankan, tidak bertele-tele, tidak melulu bertema sendu, kami pikir album ini memang sebuah lukisan dalam hidup kami. Suatu karya yg kekal dan berpengaruh besar untuk Semiotika, kami adalah penggemar berat mereka. (Bibing)

 

Toe The Book About My Idle Plot On A Vague Anxiety (2012)

Menonton Toe pertama kalinya dalam sesi live RGB seperti menemukan harta di dunia musik bagi kami. Setiap mendengar album ini tidak ada satupun lagu di album ini yang kami skip sama seperti pertama kali mendengarkannya. Album ini membuka pandangan baru kami dalam meracik musik-musik Semiotika. Album ini salah satu referensi yang paling sering kami dengar saat proses pembuatan album Ruang (2015). (Bibing)

 

Tides Of Man Young And Courageous (2014)

Simple sebenarnya, sejak mereka memutuskan untuk membuat karya tanpa ada vokalis disetiap lagu album ini, kami tertarik untuk mendengarkannya. Dan sedikit banyak membantu saya menambahkan referensi untuk pengerjaan mini album Gelombang Darat yang dirilis oleh Rimauman Music. (Gembol)

 

And So I Watch You from Afar All Hail Bright Futures (2013)

Percakapan komposisi yang emosional nan ceria yg turut menyumbangkan bentuk ritmik dan melodi yg berbeda sebagai stimulan pada Semiotika. Elemen eksperimental di album ini banyak berpengaruh pada proses pembuatan lagu-lagu di album Gelombang Darat terutama dalam teknis sound instrumen dan proses produksi mixing dan mastering. (Gembol)

 

Tame Impala Innerspeaker (2010)

Album penuh yang penuh serta padat, analog dan digital yang mempengaruhi proses berkarya dalam Semiotika. Salah satu album non post-rock yang kami jadikan bahan referensi untuk beat dan segi sound yang vintage dan lo-fi. (Riri)

 

Teks: Farid Amriansyah/Semiotika

Visual: Arsip Semiotika

 

Film dokumenter dari Siasat Calling on the Road yang melibatkan empat grup musik dari berbagai kota: Navicula (Bali), Wake Up Iris! (Malang), Semiotika (Jambi), dan Frontxside (Makassar) yang menyinggahi 18 kota di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku, akan segera bisa disimak di SPTV, kanal siar alternatif yang akan menjadi ruang bersama pengarsipan video musik dari grup musik/musisi tanah air sebagai apresiasi redaksi Siasat Partikelir atas kreasi audio visual dan musik. Pantau terus jangan sampai terlewatkan suguhan kejutan dari SPTV.

Bersama Ello dan Virzha, Dewa19 Rilis Ulang Materi Lama "Still I’m Sure We’ll Love Again"

Dewa19 melanjutkan perilisan karya-karya lama mereka dalam format baru. Kali ini, mereka merilis “Still I’m Sure We’ll Love Again”, sebuah lagu dari album Format Masa Depan yang aslinya menampilkan vokal...

Keep Reading

Langkah Berikutnya dari Bilal Indrajaya

Usai melepas beberapa materi singel dan album mini Purnama (2019) solis dari Jakarta, Bilal Indrajaya, akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan meluncurkan karya terbarunya bertajuk “Saujana” lewat label rekaman legendaris yang kini...

Keep Reading

Themilo Rangkum Perjalanannya di Nomor "Flow"

Dua dekade berlalu dan Themilo tetap berjalan dengan syahdu. Pada akhir Juli 2022, unit shoegaze dari Bandung yang berdiri sejak 1996 ini baru saja merilis single terbaru mereka berjudul “Flow”....

Keep Reading

Semeti Medley, MV The Dare Besutan Allan Soebakir

Pantai! Lombok! Apa yang pertama terlintas di benak kita mendengar dua kata diatas. Tentunya hamparan garis pantai nan panjang lengkap dengan pasir putih, ombak yang riang dan air laut yang...

Keep Reading