Meski tidaklah mudah bagi sebuah festival musik untuk bisa menginjak usia hingga satu dekade, tetapi berkat berbekal kerja keras tim, strategi andalan, serta dukungan dari banyak pihak, Rock In Celebes pun akhirnya mampu menapakinya. Atas nama merayakan keberlangsungan umur 10 tahun tersebut, perhelatan itu kembali digelar pada 23 hingga 24 November 2019 di Parking Lot Ambalat Trans Studio Makassar, dengan menyajikan suguhan yang berbeda dari seri-seri sebelumnya.

“Perkembangannya kian tahun makin keren, meski tajuk acaranya menyertakan nama ‘rock’, genre musik yang disajikan sangat beragam,” kata Oji, warga asli Makassar yang telah menyimak perkembangan Rock In Celebes sejak tahun 2010. Ia merupakan punggawa dari unit punk lokal bernama The Game Over. Bandnya tersebut pernah pula bermain di salah satu seri Rock In Celebes.

“Sekarang kan panggungnya tiga, nih, saya pengennya tahun depan Rock In Celebes mencoba lima panggung,” ujar Oji mengungkapkan harapannya.

Bila dari pintu gerbang, maka tiga panggung tersebut posisinya seperti ini: sebelah kiri adalah Milisi Stage, bagian tengah merupakan Genio Stage, dan pada sisi kanan ada Chambers Stage. Totalnya ada 42 penampil pada perhelatan yang tergelar selama dua hari tersebut.

Di antaranya ada Kelompok Penerbang Roket, Seringai, Frontxside, Kunto Aji, Kapal Udara, Tashoora, Feast, Jogja Noise Bombing, Manjakani, Feel Koplo, Rocket Rockers, Padi Reborn, Efek Rumah Kaca, Hondo, Eisen, Padi Reborn, Deruh, Deadsquad (Horror Vision Reunion), The Adams, serta Reality Club.

Ada pula penampilan spesial dari unit sludge metal asal New Orleans yaitu Eyehategod. Perhentian band tersebut di Kota Makassar merupakan penutup dari rangkaian tur Indonesia yang sebelumnya tergelar di Surabaya, Bali, Yogyakarta, dan Bandung. Meski kondisi para personil tengah kelelahan dan tampil tanpa sang gitaris, Jimmy Bower, mereka tetap berhasil membuat semarak hari terakhir dari perayaan 10 tahun Rock In Celebes.

 

Selain sederet penampil di atas, ada juga dua instalasi seni yang cukup menarik perhatian para pengunjung. Pertama, ada “Unity Of Diversity” karya kolaborasi antara tiga visual artist yaitu Misbo, Halil dan Adil. Melalui karya berupa tumpukan container bertumpuk yang berhiaskan gambar graffiti, perbedaan karakter para senimannya menyiratkan makna tentang prinsip Bhineka Tunggal Ika.

Ada juga instalasi bertajuk “ Euforia” karya Adi Gunawan atau Benang Baja. Karya berupa kepala ayam raksasa yang menyertakan gambar banyak sosok rekaan di sekujur badannya tersebut adalah interpretasi dari sebuah kemeriahan yang melibatkan banyak manusia dengan berbagai macam latar belakang untuk bersatu padu tanpa diskriminasi demi merayakan momen gembira seperti festival.

Ayam sendiri sudah menjadi simbol Rock In Celebes sejak lama. Ini berkaitan dengan julukan Sultan Hasanuddin yaitu De Haantjes van Het Osten yang artinya adalah Ayam Jantan dari Timur. Nama tersebut ia dapatkan dari pemerintah kolonial Belanda sebagai pengakuan atas keberaniannya. Lalu, pemakaian ayam sebagai icon pun menegaskan posisi Rock In Celebes sebagai festival terbesar di Tanah Sulawesi.

“Ayam iini kan sebenarnya icon dari Kota Makassar juga, ini ada kaitannya dengan istilah ayam jantan dari Timur. Saat menentukannya, kami ingin sebuah simbol yang bisa menggambarkan Rock In Celebes, dan kami rasa simbol ayam ini sangat pas,” ucap Ardy Siji selaku penggagas festival tersebut.

 

Bagi Ardy, usia 1 dekade dari festival yang ia rintis sedari awal ini merupakan momen berharga. “Perjalanannya berasa, 10 tahun Rock In Celebes ini juga merupakan tanda bahwa 10 tahun juga usia dari penikmat festival ini. Selain itu, dalam jangka waktu 1 dekade ini hadir juga para wajah-wajah baru, entah itu di lini pengunjung, panitia, dan para penampil. Hal tersebut menandakan kalau Rock In Celebes ini sudah cukup besar,” kisahnya.

Maka dari itu, tidaklah berlebihan bila menyebutkan bahwa perayaan Rock In Celebes merupakan pesta rakyat kebanggaan Kota Makassar. Setidaknya itu dibuktikan dari usianya, yang menandakan bahwa banyak orang yang mencintainya.

Kesimpulan: Rock In Celebes 2019 adalah manifestasi dari perayaan kehidupan.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Mas Jawjaw & Resolusi