Sekelumit Kultur Kaos Band Bootleg di Indonesia

Hari ini, ketika industri musik kian mapan, siapa yang tak punya kaos band? Pertanyaan mendasar ihwal sejauh mana musik dimaknai bukan hanya sebatas karya audio semata, tetapi juga sebagai pembentuk identitas khalayak penggemar musik. Ketika segala sesuatu bermigrasi ke dunia digital, khususnya musik, agaknya merchandise lah (dalam hal ini kaos) rilisan fisik yang paling bisa bertahan dari gerusan dunia digital itu. Sejauh ini belum ada sandang dengan teknologi digital semacam hologram bukan? Namun hal ini juga berbanding lurus dengan rentannya pembajakan di ranah merchandise.

Setiap orang setidaknya pernah memakai  kaos bertema musik, entah itu kaos official dari salah satu band maupun versi unofficial atau bootleg atawa bajakan, dan sejauh ini versi bootleg masih bertumpah ruah bahkan menguasai pasar merchandise kita. Selain memang harganya  lebih murah, versi bootleg ini sangat mudah untuk dijumpai. Kalian bisa menemukannya dimanapun, di pasar digital, pasar konvensional, bahkan di  sebuah lapakan acara musik besar maupun gigs kecil, dimana band yang kaosnya dibajak itu manggung di acara tersebut. Ironi memang, tapi itu lah yang terjadi. 

Ihwal bajak membajak di Indonesia, kita bisa menilik kembali kejadian di tahun 1980-an. Kala itu sang inisiator gelaran amal bertajuk Live Aid, Bob Geldof, marah besar dimana audio dari konser Live Aid dan Band Aid  itu dibajak dan beredar secara  luas di Indonesia. Dari sana pemerintah Indonesia mulai  mengendalikan pembajakan. Hal itu ditandai dengan dikeluarkannya Keppres No.17/1988 tertanggal 27 Mei 1988 yang mengesahkan perlindungan Hak Cipta atas rekaman suara. Sedikit demi sedikit kultur pembajakan mulai bisa dikendalikan. Namun seperti kita ketahui pembajakan masih dan akan terus terjadi. Sampai saat  ini belum ada regulasi yang bisa mematikan virus pembajakan ini.

foto kaos bootleg

Hal di atas adalah pembajakan di ranah rilisan fisik berupa kaset. Untuk pembajakan merchandise atau kaos sendiri belum diketahui pasti kapan dimulainya. Namun menurut saya pembajakan mechandise memang sudah terjadi sejak lama, dimana akses membeli rilisan resmi berupa merchandise asli masih sulit ditemui. Yuka Narendra dalam bukunya berjudul Heavy Metal Parents mengatakan pada tahun 1980-an kaos metal sulit diperoleh di Indonesia dan harus di impor dari Amerika Serikat. 

Masuk abad milenium ketiga, terhitung dua dekade terakhir pembajakan merchandise semakin buas menggeliat, dan tentu ini adalah kabar tidak baik. Dimana persoalan hak cipta diabaikan begitu saja. Jangan muluk-muluk ke ranah hak cipta, agaknya persoalan apresiasi saja masih sangat minim di kalangan masyarakat Indonesia. Membuat desain atau artwork untuk kaos dan rilisan fisik lainnya tidak semudah membalikan telapak tangan bukan? Disana ada proses kreativitas yang perlu dihargai, ada roda bisnis berskala kecil yang dilakukan oleh si musisi demi menghidupi bandnya.

foto kaos bootleg

Persoalan produksi kaos band bajakan memang begitu kompleks. Tidak hanya terjadi di skala penggemar saja, namun terkadang perusahaan besar pun turut meraup untung dari fenomena pembajakan ini. Pentolan Seringai, Arian13, pernah mengungkapkan salah satu penemuannya tentang fenomena kaos bootleg yang ternyata ada kaitannya dengan perusahaan raksasa.  

“salah satu sumber bootleg itu adalah Bandung produksinya. Burgerkill pernah nyari siapa nih produser bootlegnya. Dia (Burgerkill) udah siap dengan lawyernya dan ini dan itu, dan ternyata ketahuan tapi ternyata yang bikin bootleg itu adalah anak perusahaan dari sebuah perusahaan besar yang ada hubungannya sama mafia Orba jadi waktu itu ga jadi dituntut” kata Arian di Archipelago Festival 2017. 

Di Indonesia sendiri, setiap tahunnya digelar sebuah acara bernama “Band T-Shirt Day Indonesia”. Pertama kali diselenggarakan di Rooftop Plaza Semanggi pada tanggal 18 Desember 2016. Acara tersebut di inisiasi semata-mata untuk mengapresiasi band yang mengeluarkan merchandise juga untuk mendukung keberlangsungan industri merchendise musik di Indonesia. Selain juga acara tersebut berupaya untuk menekan angka pembajakan, yang tak kalah penting adalah ‘Band T-Shirt Day Indonesia’ mendongkrak apresiasi khalayak penggemar musik agar membeli kaos musik yang asli.  

Di luar negeri sendiri, semisal Amerika ataupun Eropa, fenomena pembajakan juga masih terjadi. Namun masih terbantu dengan regulasi pemerintah yang ketat, juga ada lembaga-lembaga tertentu yang konsen dengan bisnis merchandise ini, misal Licensing Industry Merchendisers Association (LIMA) yang berkantor di New York, London, Munich, Tokyo dan Shanghai. 

Deena Weintein dalam buku Heavy Metal: The Music and It’s Subcultures mengatakan bahwa kaos dapat menjelaskan kadar kemetalan seorang penikmat metal sekaligus penanda kultural yang membentuk kode antar penikmat metal. Ya, akhirnya kaos tak hanya berfungsi sebagai sandang saja, lebih jauh dari itu apa yang kita pakai akhirnya bisa membentuk identitas kita juga. Tentang sejauh mana kita menggandrungi dan mengapresiasi si artis atau musisi melalui apa yang kita pakai. Namun tentu keliru juga kalau kita membeli merchandise –dalam hal ini kaos- bajakan si band yang kita sukai. Selain pembajakan tersebut merugikan pihak band secara finansial, pembajakan juga turut menurunkan citra band karena tentu kualitas merchandise bajakan ini sangat jauh kualitasnya dengan yang asli.

Pada akhirnya ini semua menjadi persoalan apresiasi (jika regulasi pemerintah tidak bekerja atau bahkan tidak serius menangani pembajakan). Jalan keluarnya adalah jika kita mendukung band atau musisi yang dicintai  kita mesti membeli merchandise yang asli. Dengan begitu kalian turut mengisi bahan bakar mesin kreativitas mereka, dengan kata lain membeli dan memakai kaos resmi kita juga turut menyokong keberlangsungan ekosistem industri musik di Indonesia. Terlebih di kondisi pandemi seperti sekarang, di mana panggung pertunjukan masih sepi.  

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Sebuah Pertanyaan Residensi, Mengapa Jalan-jalan untuk Seniman itu Penting?

Seperti apa sebenarnya peran residensi seni, dan bagaimana dampak sebuah kunjungan sementara terhadap proses kreatif seniman? Karena makin ke sini istilah residensi jadi template untuk sekadar program plesir yang dilakukan...

Keep Reading

Tambah Line Up, Hammersonic Siap Hadirkan 53 Band Metal dan Rock Dunia!

Setelah mengalami beberapa kali penundaan, festival musik metal raksasa Hammersonic akhirnya dipastikan siap digelar pada awal tahun 2023. Sebelumnya salah satu headliner yakni Slipknot telah mengumumkan konfirmasi lewat unggahan twitter...

Keep Reading

Tahun ini, Synchronize Fest Balik Lagi Secara Luring!

Penantian panjang akhirnya terjawab sudah! Synchronize Fest memastikan diri akan digelar secara offline pada 7, 8 , 9 Oktober 2022 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Mengusung tema “Lokal Lebih Vokal”,...

Keep Reading

Mocca Gelar Konser di Metaverse

Di ranah musik, kini istilah blockchain bukan lagi suatu hal yang asing. Sebelumnya, penjualan karya lewat NFT sudah banyak dilakukan oleh musisi, kini konser musik di metaverse pun menjadi salah...

Keep Reading