Tiga kali pergantian vokalis cukup membuat perbedaan yang signifikan dalam perkembangan band yang sering disebut publik sebagai band pop gemes ini. Tahun 2018, Olski asal Jogjakarta merilis album In the Wood. Ini merupakan salah satu tujuan bermain musik yang layak diperhitungkan.

Bagi kebanyakan musisi di kota ini, mungkin akan menjadi sebuah tantangan ketika memutuskan hidup sepenuhnya di musik. Olski punya empat orang personil: Dea Febrina, Dicki Mahardika dan Shohih Febriansyah. Yang paling penting untuk dibuktikan adalah melawan pandangan sebelah mata tentang profesi musisi.

“Kemarin masih ada tawaran dari orang tua kami untuk jadi PNS (pegawai negeri sipil), jadi kayaknya menjadi musisi itu maish dipandang sebelah mata,” jelas Dicki. “Mindset orang tua ada yang berbeda, kadang yang membebaskan mau jadi apa asal bertanggung jawab, tapi ya masih banyak yang ingin masa depan anaknya itu jelas,” tambah Dea.

Olski memulai karir mereka dengan menjadikan sejumlah band asal Jogjakarta sebagai influence mereka, di antaranya Summer in Vienna dan Brilliant at Breakfast. Perjalanan membawa mereka berkembang dan segmentasinya makin sempit. “Ternyata musik Olski lebih diterima yang lebih ngepop. Ini terasa terutama setelah merilis single Titik Dua dan Bintang,” kenang Dicki.

Ia melanjutkan, “Saat itu kami merasa responnya luar biasa. Kayaknya Olski memang cocok dengan musik yang lebih ngepop dan lucu gitu.”

Salah satu evolusi musik yang cukup terasa hadir ketika Olski merilis single baru Terang, yang dirasa terdengar lebih matang.

“Kami sudah mulai lepas dari tema cinta-cintaan dan lebih dewasa dalam menulis liriknya. Kemudian kami lebih memilih mendalami musik pop. Beberapa orang menulis musik kami sebagai pop gemes, ya nggak apa sih,” ujar Dicki yang kemudian diamini Dea.

Sebelumnya banyak pendengar yang sering merujuk musik yang dibawakan Olski sebagai musik folk.”Kayak Banda Neira gitu, karena banyak yg mengidentikan alat musik yang kami bawa sebagai bagian dari alat musik folk,” jelas Dicki.

Gitar akustik yang didapuk Olski sebagai alat musik utama memang saat ini sudah identik dengan musik folk. Padahal Olski memilih instrumen tersebut karena tidak punya instrumen yang lebih baik dari itu.

“Jadi ceritanya kami pengen menggunakan alat yang ada untuk dimaksimalkan dalam membuat karya. Beberapa instrumen yang ada merupakan pinjaman. Misalnya glockenspiel yang dimainkan oleh Shohih Febriansyah,” kata Dicki lagi.

Olski sendiri secara instrumen merasa terinspirasi oleh Lullatone, band asal Nagoya, Jepang. Lullatone sendiri memakai alat-alat yang sederhana dan minimalis yang bercirikan musik dengan kualitas lo-fi yang polos dan kekanak-kanakan.

Kisah Olski adalah tentang berjalan mencoba hal-hal baru. Salah satu yang patut dicatat adalah penampilan mereka di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) tahun 2018 yang lalu. Waktu itu, mereka berkolaborasi dengan orkestra musik, menghadirkan pengalaman yang berbeda ketimbang menyaksikan Olski bermain seperti biasanya.

Ide awal untuk mengejar format ini, hadir dari sebuah wawancara radio. Di sesi itu, mereka secara terbuka untuk melakukan eksplorasi musik dalam format orkestra. Gayung bersambut dengan tawaran dari panitia FKY. Pertunjukan ini terjadi bulan Agustus 2018 lalu.

Ada yang kurang, penampilan itu dirasa tidak maksimal. “Total persiapannya waktu itu hanya dua minggu dan latihannya juga hanya dua kali,” cerita Dicki. Untuk menebusnya, tahun ini, mereka kembali membuat pertunjukan dengan model begini yang lebih tertata bulan Februari 2019 yang akan datang.

“Kami ingin yang datang itu ya memang mereka yang datang menonton dan mengapresiasi Olski. Berbeda dengan yang di FKY tahun lalu, yang kemarin cuma orang lewat di dalam festival,” tambah Dea.

Dicki melanjutkan, “Sebenarnya gambling juga sih, karena kita tahu banyaknya acara di Jogjakarta yang gratisan. Akhirnya budaya beli tiketnya masih rendah. Sampai ada gerakan no ticket no party. Tapi sampai saat ini, tiket yang terjual sudah lumayan sih.”

Dalam kesempatan ini, Olski mengajak beberapa orang teman lulusan Sekolah Menengah Musik Yogyakarta untuk mengisi departemen orkestra. Yang ditawarkan di Olschestra, nama pertunjukan tersebut, nanti adalah lagu lagu di album In The Wood dengan sentuhan orkestra. “Kami terinspirasi oleh kepuasan diri, Olski dengan musik yang gemas ditambahin orkestra itu kan nggak sejalan, Olski yang ceria dengan musik orkestra yang klasi dan mewah, akancoba kami kawinkan,” papar Dicki mencoba menjelaskan apa yang akan disajikan di pertunjukan tersebut.

Pertunjukan Olchestra akan digelar di Societet, Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada 16 Februari 2019 mendatang. Menurut rencana, proyek ini akan direkam dalam bentuk audio dan video. (*)

 

Teks: Indra Menus
Foto: Titis Haryo/ Olski