Sebuah Dokumenter Oleh Alaskaeight

Kesenian adalah ladang yang bisa dikaryakan dan diisi dengan berbagai macam kolaborasi. Baik yang satu maupun yang lintas disiplin. Banyak kemungkinan yang bisa diciptakan. Menggabungkan seni tari dan musik menjadi satu paduan yang merupakan sesuatu yang coba diterapka oleh tiga orang pemuda asal Bandar Lampung yang tergabung dalam Alaska Eight.

Band post rock ini, berdiri sejak 2014. Dalam perjalanannya hingga sekarang, banyak karya yang sudah mereka ciptakan. Salah satunya adalah Moktika yang dirilis tahun 2018. Lagu ini dimaknai tentang sesuatu berharga yang harus dijaga dengan sangat baik, sama seperti arti dari katanya yang berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti mutiara. Di dalam Moktika, sentuhan ambient diberikan untuk memberi nuansa ketenangan seperti melihat sebuah mutiara yang indah. Lagu ini juga dikemas dengan balutan nada-nada yang memecah sebagai tujuan untuk menjaga definisi dari kata itu sendiri.

Alaska Eight bekerja sama dengan Komunitas Biroe (Kombir). Komunitas Biroe merupakan satu komunitas yang ada di Universitas Darmajaya Bandar Lampung yang bergerak di bidang seni terutama seni rupa, seni tari dan seni teater. Seni Tari dipilih untuk berkolaborasi membawakan Moktika. Dikemas bersama tari kontemporer dan nuansa musik Alaskaeight, menjadikan lagu ini lebih terasa hidup.

Bentuk kolaborasi ini melibatkan banyak pihak di dalamnya, salah satunya dari kolektif Gerus.in. Mereka terlibat secara penuh untuk membuat konsep lighting untuk di panggung hingga pembuatan video dokumentasi. Karya kolaborasi ini dipentaskan di gelaran Soundsations pada tanggal 1 Maret 2019 silam. Kolaborasi ini bisa jadi sebuah momen yang belum pernah ada sebelumnya di skena musik instrumental yang ada di Bandar Lampung.

Dengan adanya kolaborasi antara musik dan tari, Alaskaeight mendapat pengalaman baru. Hasil akhir dari kolaborasi kemarin juga dikemas ke dalam bentuk sebuah film dokumenter yang berdurasi 6 menit. Film ini memperlihatkan bagaimana mereka berproses.

Filmnya, bisa disaksikan di sini:

Teks: Adjust Purwatama
Video: Arsip Alaskaeight

Geliat Kreatif Dari Sulawesi Tengah Dalam Festival Titik Temu

Terombang-ambing dalam kebimbangan akan keadaan telah kita lalui bersama di 2 tahun kemarin, akibat adanya pandemi yang menerpa seluruh dunia. Hampir semua bentuk yang beririsan dengan industri kreatif merasakan dampak...

Keep Reading

Memaknai Kemerdekaan Lewat "Pasar Gelar" Besutan Keramiku

Di pertengahan bulan Agustus ini, ruang alternatif Keramiku yang mengusung konsep coffee & gallery menggelar acara bertajuk “Pasar Gelar” di Cicalengka. Gelaran mini ini juga merupakan kontribusi dari Keramiku untuk...

Keep Reading

Semarak Festival Alur Bunyi Besutan Goethe-Institut Indonesien

Tahun ini, Goethe-Institut Indonesien genap berusia 60 tahun dan program musik Alur Bunyi telah memasuki tahun ke-6. Untuk merayakan momentum ini, konsep Alur Bunyi tetap diusung, namun dalam format yang...

Keep Reading

Head In The Clouds Balik Lagi ke Jakarta

Perusahaan media serta pelopor musik Global Asia, 88rising, akan kembali ke Jakarta setelah 2 tahun absen karena pandemi pada 3-4 Desember 2022 di Community Park PIK 2. Ini menandai pertama...

Keep Reading