Sebuah Dilema Besar antara Ngeband atau Ngantor

Hobi dan profesi agaknya masih menjadi pembicaraan yang selalu menarik hari ini. Banyak hal unik ketika kita membicarakan kedua hal tersebut. Segala macam cerita tumpah ruah di sana, di antaranya ada yang menjadikan hobi sebagai profesi ada juga yang berprofesi di lain ranah untuk menghidupi hobinya. Namun banyak juga cerita tentang hobi dan profesi yang berujung pada perdebatan batin atau dilema seseorang yang datang dari kelas pekerja.

Kebutuhan dan keinginan selalu berkelindan dalam kehidupan dan sering pula bertabrakan. Tak jarang faktor ekonomi adalah salah satu batu sandungan dalam menjalani sebuah keinginan, katakanlah hobi. Khususnya di ranah musik, dilema semacam ini sangat mudah  untuk ditemui. Seseorang yang bekerja kantoran kadang harus rela melepas hobinya demi memenuhi kebutuhan ekonomi. Tapi tak sedikit juga yang rela bekerja kantoran hanya untuk menghidupi hobinya, dan tentu masih banyak juga yang menjalani keduanya dengan sepenuh hati, ngantor oke ngeband jalan. Kalau keduanya saling jalan dan potensi tabrakannya kecil menyenangkan lah ya pastinya.

Persoalan menjalani kehidupan pada akhirnya adalah sebuah pilihan. Masih beruntung jika seseorang bisa menjadikan hobinya dalam bermusik sebagai profesi dan kebutuhan ekonominya terpenuhi dari sana. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang masih bekerja secara konvensional, semacam duduk di kantor berjam-jam demi menafkahi keluarga maupun kehidupannya yang lain terlebih pekerjaannya tersebut bertolak belakang dengan hobinya.

 

Salah satu faktor terbesar yang memungkinkan seseorang untuk meninggalkan aktivitas bermain musiknya adalah kurang menjanjikannya aktivitas ini secara finansial maupun karir. Terlebih bagi mereka yang bermusik di jalur arus pinggir. Di kantor kami, ada satu orang yang berprofesi sebagai orang kantoran dan juga musisi. Dia adalah Gilang Wahyu Apriliawan, dari Rubah Di Selatan. Seperti yang dikemukakannya saat kami interogasi perihal alasan, suka duka sebagai orang yang berprofesi di dua bidang. Bagaimana dia membagi waktu dengan waktu manggung, dan membagi pikiran akan dua hal ini. Sepengetahuan kami banyak orang akan sulit menjatuhkan pilihan karirnya ke dunia musik karena belum bisa menjanjikan di dunia itu.

“Ga ada sulitnya sebenernya. Cuma kadang buat menuhin pengennya main band misal beli alat, buku, bm bm lainnya gitu-gitu salah satu caranya kerja. Terus kan kantor makin ke sini makin beragam tuh, mulai dari yang kaku banget sampe yang santai banget, banyak macemnya, banyak pilihannya, akhirnya milih kantor yang sesuai dan bisa menyesuaikan ngebandnya. Cuma paling ada hal-hal yang dikorbanin, waktu istirahat terlebih, misal pagi ngantor, malem latihan atau manggung, beres manggung ada lemburan, gitu-gitu harus dinikmati tuh. Tapi enaknya jadi lebih bisa ngatur waktu, lebih lebar pengalaman, lebih bisa banyak yang didapet lah, mau materi ataupun non materi.” Terang Gilang ketika kami tanyai.

Namun hari ini agaknya segala kekurangan maupun batasan dapat sedikit diakali dengan memanfaatkan semaksimal mungkin fasilitas yang ada, mamanfaatkan dunia digital misalkan. Toh kultur industri musik jaman kiwari dengan jaman dulu sudah jauh berbeda, sedari produksi sampai distribusi. Dimana seseorang dapat tetap produktif berkarya meskipun waktunya harus terbagi dengan aktivitas kerja.

Seperti seorang kawan yang bekerja di sebuah Bank swasta. Ia bekerja secara konvensional, pekerjaannya  pun cukup berjarak dengan ranah-ranah kreatif. Suatu kali ia bercerita bahwa ia rela bekerja demi membeli alat-alat musik elektonik yang diinginkan. Namun ia tidak bermain di sebuah  band, melainkan hanya bermusik untuk dirinya sendiri. Fenomena semacam ini memang kerap terjadi, musik hanya dijadikan untuk konsumsi pribadi, bisa dikatakan musik juga sebagai pelarian dari stress-nya aktivitas berkantor. Namun hal yang unik dari apa yang dia lakukan adalah selain memproduksi musiknya sendiri ia pun secara iseng mendistribusikan karyanya tersebut ke berbagai kanal pemutar musik streaming, alih-alih hanya menjadi konsumsi pribadi musiknya pun mendapat atensi dan dinikmati oleh orang banyak. Akhirnya ia mendapatkan uang tambahan dari hobinya tersebut. Barangkali ini adalah salah satu  manfaat kemajuan dunia digital yang dapat memudahkan segala sesuatu.

Ada juga cerita lain dari seorang kawan yang bekerja di perusahaan swasta di ibu kota dan tergabung di sebuah band. Di mana aktivitas berkantornya kerap bertabrakan dengan jadwal manggung maupun proses bermusiknya yang lain –terlebih ia bekerja di kota berbeda dengan para personil bandnya. Cukup merepotkan memang di batasi dengan jarak juga aktivitas yang padat. Namun banyak cara agar si band-nya tersebut dapat tetap berjalan, salah satunya adalah ia merekrut seorang additional jaga-jaga kalau ia absen dari jadwal manggung, namun kenyataannya ia masih bisa membagi waktu dengan menyusun jadwal sedemikian rupa. Pun ketika workshop lagu maupun meeting bersama band, ia kerap lakukan secara virtual, memanfaatkan piranti teknologi yang ada. Meskipun tidak semaksimal bertemu langsung, namun upaya tersebut salah satu yang bisa dilakukan oleh setiap orang.

Cerita yang paling menarik adalah dari seorang teman yang berprofesi sebagai seorang guru alias PNS. Alih-alih ia keluar dari band dan menjalani profesinya yang sudah pasti, ia malah membuat gerakan baru di tempat ia mengajar, yakni membentuk dan membina sebuah band dari sekumpulan siswa yang memiliki minat kepada musik. Kini, selain di kenal sebagai pengajar di lingkungan keluarga dan lingkaran teman, doi pun kini mentereng namanya sebagai anak band di lingkungan kerjanya. Dan lingkungannya ini (keluarga, teman, dan rekan kerja) tak mempermasalahkan apa yang ia jalani.

Sebetulnya antara hobi dan profesi bukan suatu hal yang wajib untuk dipilih salah satunya. Akhirnya ini semua kembali lagi ke diri kita masing masing, sejauh mana kita bisa membagi waktu di dua dunia itu. Selama bisa menjalani keduanya dengan senang dan sepenuh hati ya kenapa tidak untuk dua-duanya dijalani. Kalaupun disuatu waktu ada tabrakan pasti bakal banyak solusinya kok.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Sebuah Pertanyaan Residensi, Mengapa Jalan-jalan untuk Seniman itu Penting?

Seperti apa sebenarnya peran residensi seni, dan bagaimana dampak sebuah kunjungan sementara terhadap proses kreatif seniman? Karena makin ke sini istilah residensi jadi template untuk sekadar program plesir yang dilakukan...

Keep Reading

Tambah Line Up, Hammersonic Siap Hadirkan 53 Band Metal dan Rock Dunia!

Setelah mengalami beberapa kali penundaan, festival musik metal raksasa Hammersonic akhirnya dipastikan siap digelar pada awal tahun 2023. Sebelumnya salah satu headliner yakni Slipknot telah mengumumkan konfirmasi lewat unggahan twitter...

Keep Reading

Tahun ini, Synchronize Fest Balik Lagi Secara Luring!

Penantian panjang akhirnya terjawab sudah! Synchronize Fest memastikan diri akan digelar secara offline pada 7, 8 , 9 Oktober 2022 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Mengusung tema “Lokal Lebih Vokal”,...

Keep Reading

Mocca Gelar Konser di Metaverse

Di ranah musik, kini istilah blockchain bukan lagi suatu hal yang asing. Sebelumnya, penjualan karya lewat NFT sudah banyak dilakukan oleh musisi, kini konser musik di metaverse pun menjadi salah...

Keep Reading