Band pendatang baru asal Jogjakarta, Rubah di Selatan, akhirnya merilis debut album mereka yang diberi judul Anthera. Untuk saat ini, album tersebut baru tersedia di sejumlah kanal layanan musik digital. Album fisiknya sendiri, menurut rencana akan dirilis pada bulan maret mendatang. Band yang beranggotakan Mallinda Zky (vokal), Gilang Pultn (gitar), Ronie Udara (perkusi) dan Adnan YP (kibor) ini, telah mengisi pundi-pundi cerita mereka dengan segudang pengalaman. Album ini jadi catatan sekaligus saksi mereka berkarya hingga hari ini.

Nama Anthera mereka ambil dari bahasa modern latin yang memiliki arti kepala sari. Juga memiliki makna bahwa mereka akan terus melanjutkan perjalanannya dan menyebarkan kembang-kembang selanjutnya.

Kami berkesempatan untuk mengobrol panjang bersama Gilang, gitaris dan sekaligus desainer visual dari Rubah di Selatan. Dia bercerita banyak soal album perdana ini, secara spesifik berbicara tentang konsep visual album ini. Selamat menyimak. (*)

Album ini secara keseluruhan bercerita tentang apa?

Bercerita tentang perjalanan, tapi aku dan teman-teman sebenarnya tidak dengan sengaja mengatur kalau album ini mesti soal perjalanan. Karena ini album perdana, jadi semuanya kami tuangkan. Setelah terkumpul baru ketahuan kalo benang merahnya tuh bercerita tentang perjalanan. Album ini dibuka dengan lagu Selaba. Sebenarnya kata Selaba ini sendiri tidak ada arti namun memiliki makna. Kata ini ditemukan pada saat kami pertama manggung, Adnan (keyboard) ngomong coba sebutin Selaba. Kami pun mengiyakan dan jadilah Selaba sebagai gerbang (lagu pertama) di album ini (sebagai tanda juga kalo kata ini muncul diawal kami manggung). Lalu di lagu penutup ada Leaving Anthera yang bermakna sebagai penutup perjalanan sekaligus memiliki arti bahwa kehidupan manusia pasti berputar. Sementara ke delapan lagu yang ada menjadi bagian si perjalanan album ini.

Dalam pengerjaannya memakan waktu berapa lama?

Sebenernya prosesnya tuh berjalan bersamaan dari awal kami ada sampai akhirnya album ini rilis. Kurang lebih hampir empat tahun. Kenapa prosesnya bersamaan, karena kami juga bukan orang-orang yang memiliki latar belakang musik yang berangkat dari tidak tahu cara memproduksi sebuah lagu dan album seperti apa. Semuanya kami coba angkat satu persatu secara perlahan hingga prosesnya sampai jadi album ini. Ya, sambil menyelam juga minum air hehe. Seluruh produksinya juga kami kerjakan di berbagai tempat di Jogjakarta. Ada di Padepokan Seni Bagong, Jogja Audio School dan studio keyboardist kami Adnan yang bernama YP Record. Untuk mixing mastering kami serahkan ke Adnan, karena dia juga player dan kami anggap dia pasti paham betul apa yang dimaui dan juga yakin dia punya ramuan tersendiri untuk album ini.

Di lini penulisan lirik nih, isu apa yang kalian angkat?

Kebanyakan kami mengangkat soal petuah-petuah yang ada di sekitar, seperti lagu Mata Air Mata yang menceritakan soal kisah di balik kanal Yoshiro atau yang sekarang dikenal sebagai Selokan Mataram. Juga di Leaving Anthera soal perjalanan hidup manusia itu sesungguhnya berputar. Yang paling berkesan buat kami adalah lagu Merapi Tak Pernah Ingkar Janji. Kami sampai mengunjungi ke daerah Gunung Merapi, berkunjung ke makam Mbah Marijan dan melihat kondisi di sana seperti apa. Lagu ini kami buat sebagai pengingat bahwa alam pasti akan murka pada waktunya.

Kenapa kalian lebih memilih merilis album ini di digital platform terlebih dahulu ketimbang merilis bentuk fisiknya?

Kami pribadi menganggap hari ini semua orang di manapun bisa mengakses digital platform, lebih mudah terdistribusi dan juga teman-teman pendengar kami bisa terbiasa mendengarkan album kami. Lalu kenapa fisiknya menjadi pilihan kedua adalah karena saat ini album fisik tuh menjadi suatu collectible item yang memiliki value lebih dari digital.

Hampir empat tahun berkarir di dunia musik, hal apa yang bisa kalian pelajari dari kurun waktu itu?

Yang kami dapat adalah bermusik itu bukan hanya sekedar bermain bagus, materi bagus tapi lebih dari itu adalah sebuah rangkaian attitude. Maksudnya adalah banyak hal yang bisa kami dapat di dunia musik ini selain hal yang udah aku sebutkan di atas. Di mana hal-hal itu sangat berguna buat kami.

Di album ini kalian mengubah total tampilan visual, mulai dari visual digital hingga visual tampilan kalian di atas panggung dengan warna yang lebih cerah dibanding yang kemarin. Ada apa?

Kami berjalan sudah hampir 4 tahun, di perjalanan itu kami menggunakan tampilan yang gloomy. Itu yang selalu kami tampilkan bahwa kami itu gelap haha. Pada saat proses finalisasi album ini, kami banyak mencari konsep baru untuk album perdana ini dan akhirnya mentok. Tapi kementokan ini malah menjadi sebuah konsep. Ketika semua hal kami coba cari dan gapai, akhirnya kami kembali ke awal. Bersih putih dan suci haha. Aku sendiri menemukan kalimat yang sangat mewakili tampilan kami dan album ini, “Ketika semua ingin terlihat lebih, kami ingin lebih terasa.” Maksudnya adalah ketika semua orang bermain visual, kami malah mengurangi aksen visual yang banyak dengan visi ingin album ini lebih bisa dirasakan dan tersampaikan kepada pendengar.

Kalo tentang logo rubah yang berhologram, ada ceritakah di balik itu? Mengingat kamu sebagai orang yang bertanggung jawab akan visual branding?

Kami mengambil konsep refleksi, di mana kami ingin mengembalikan semua kesan yang didapatkan ketika mendengarkan album ini sebagai warna yang masuk ke kami. Bidang putih sebagai kami, teman-teman pendengar sebagai warna refleksi. Kami ingin bahwa teman-teman di luar sana juga menjadi bagian dari tubuh dan proses kami berkarir.

Di press release yang kami terima ada satu point yang menyebutkan bahwa kalian akan menampilkan konsep special show di beberapa tempat yang akan kalian kunjungi. Seperti apa konsep special showcase itu?

Sebenarnya konsep special showcase itu adalah bentuk rancangan dari manajemen yang kami naungi bersama beberapa kawanan band lain. Namanya adalah SPXN. Konsepnya adalah menambah value untuk penampilan kami. Seperti konsep kolaboratif, antara lain band, visual wardrobe dan visual panggung. Di mana kalo Rubah Di Selatan adalah penambahan visual panggung dengan wayang. Konsep ini akan ada di beberapa tempat yang kami kunjungi. Ditunggu saja

Di album fisik (regular dan boxset) nanti adakah sesuatu yang berbeda dari album digital?

Jelas ada, kami akan menambahkan beberapa value di album fisik kami nanti. Di dua tipe itu ada hal yang berbeda di masing-masingnya. Yang umum adalah lirik haha. Pokoknya album fisik kami nanti akan menjadi sesuatu hal yang wajib dimiliki. Janji.

Bagi kamu sendiri, lagu apa yang paling mewakili dirimu?

Bagi aku pribadi lagu Light Of Night, karena lagu ini menurutku absurd, multi tafsir dan memiliki energi yang luar biasa saat dibawakan tampil.

Teks dan wawancara: Adjust Purwatama
Foto: Dokumentasi Rubah di Selatan