Ruang berkesenian di Padang, mungkin tidak sebesar kota-kota di Pulau Jawa. Tapi, nafas masih berhembus kencang untuk menghidupi ruang tersebut. Salah satu penggiat seni yang terus aktif hingga hari ini adalah Khairul Mahmud atau kerap dikenal dengan nama Kapten.

Hidup berkesenian telah menjadi pilihan hidupnya. Lulusan Fakultas Seni Rupa Universitas Padang ini secara konstan terus menyebarkan virus berkesenian pada orang-orang di sekitarnya.

Kapten berusaha memperkenalkan aspek belajar memahami dunia seni yang bisa diterapkan untuk kehidupan sehari-hari, serta bagaimana mengolah rasa dan menyatukan pemikiran dari sebuah persoalan yang ada. Seperti kebanyakan seniman yang memiliki panutan untuk berkesenian, Kapten memilih Patrice Murciano, Affandi dan Andy Warhol sebagai panutannya.

Ia berkarya dengan banyak sekali medium. Alasannya sederhana, sebuah proses berkesenian yang sempurna, harus dicapai dengan mencoba berbagai macam teknik baru dan terus menggali potensi yang ada dari setiap medium untuk dibuat menjadi sebuah karya. Mural, patung, lukisan hingga mendaur ulang sampah untuk menjadi suatu karya sudah pernah dilakukannya sebagai medium. Proses mendaur ulang sampahlah dari awal hingga saat ini yang menjadi fokus utamanya bersama teman-teman di Ruang Fine Art. Ruang alternatif ini sendiri dibangun di 2012, dikhususkan untuk tempat belajar dan mengembangkan potensi seni yang ada pada masyarakat sekitar.

Lokasi Ruang Fine Art berada di bibir pantai. Lewat seni, mereka ingin mempraktekkan paham lama bahwa seni ada untuk masyarakat sekaligus memasyarakatkan kesenian. Yang digarap, tidak jauh-jauh, sesuatu yang ada di depan mata; limbah sampah yang ada di pantai dikaryakan menjadi karya seni.

Makin hari, keberadaan sampah bukannya berkurang malah semakin banyak. Ini yang kemudian diolah menjadi sebuah peluang untuk berkarya. Di Ruang Fine Art, selain masyarakat sekitar yang menjadi anggota, juga ada mahasiswa dan relawan yang turut berkontribusi.

Banyak kegiatan yang sudah dijalankan, salah satu yang menarik adalah program 3R. Program ini sendiri merupakan singkatan dari Reuse, Reduse dan Recycle. Programnya meliputi pergerakan di setiap harinya untuk mengajak warga agar turut berpartisipasi menjaga dan mengolah limbah pantai untuk menjadi karya instalasi, souvenir dan banyak lainnya.

Sebagai orang yang sudah malang melintang di dunia berkesenian, menurutnya kondisi berkesenian di Padang sendiri masih terbilang biasa-biasa saja. Belum ada peningkatan yang signifikan, illustrator baru banyak namun perlu banyak sokongan dukungan agar berani untuk tampil di publik. Banyak faktor yang mempengaruhi, salah duanya adalah minat dan bakat orang tersebut untuk menggali lebih ke dalam potensi yang dimilikinya belum ada.

“Tujuan utama saya membangun Ruang Fine Art ini selain sebagai tempat belajar seni dan mendaur ulang, juga saya pergunakan untuk tempat menggelar acara musik, pameran dan lain sebagainya. Siapa lagi yang mau bergerak kalo tidak dimulai dari diri kita sendiri? Tempat ini sendiri memiliki galeri, studio workshop, spaceworking, mini pustaka dan tentunya tempat untuk menggelar acara musik. Semua titik yang ada di tempat ini bisa dipergunakan,” terang Kapten menjelaskan fungsi umum Ruang Fine Art.

Jika sedang di Padang, sempatkanlah untuk mampir di Ruang Fine Art ini. Lihat dari dekat apa yang mereka lakukan.

Teks: Adjust Purwatama
Foto: Arsip Kapten