Rock Sentimentil Nirvokal

Genre musik instrumentalia di Indonesia seolah terus menerus berproduksi. Ada banyak karya dihasilkan, mulai DirtyLight, Ellipsis, dan Murphy Radio yang condong ke Math Rock sampai yang terbaru ada Niskala dari Jogjakarta.

Setelah sebelumnya sering disebut sebagai band side project dari drummer band almost Rock, barely art, FSTVLST, tampaknya Niskala perlahan melepas bayangan tersebut dengan merilis sebuah album. Bertajuk “Hourglass”, Niskala mencoba merangkum empat tahun perjalanan karier mereka sebagai sebuah band.

Digawangi oleh Damar Puspito (bass), Danish Wisnu (synth), Danar Puspito (gitar), Inderajaya (drum) dan Daniel Bagas (gitar), kesembilan komposisi nirvokal di “Hourglass” ini berdurasi total 41:16 menit. Album yang dikemas dalam format CD dengan packaging layaknya sebuah buku ini dirilis oleh Trauma Irama Record, records label asal Yogyakarta yang juga merilis album band favorit banyak orang, Melancholic Bitch serta solo album dari Yennu Ariendra (personil Melbi dan Belkastrelka).

Packaging CD berbentuk buku 26 halaman dengan sampul hardcover, deboss, dan hotprint berwarna emas ini berisi photo dari fotografer kenamaan asal Jogjakarta, Bram (@bramsky). Keseluruhan karya foto Bram tersebut merepresentasikan kesembilan lagu Niskala menjadi sebuah karya yang utuh.

Simak obrolan kami dengan band postrock yang musiknya sungguhlah aduhai ini. (*)

Hai Niskala! Kenapa kalian memilih musik instrumentalia? Bisa nggak kalian deskripisikan musik Niskala tanpa harus menyebut nama sebuah genre musik?

Lebih sentimentil dan naratif mungkin ya, setiap musik di Niskala punya cerita dan emosi yang berbeda. Pun setiap imajinasi buat orang yang dengar pasti juga beda-beda. Nah asiknya itu tuh, nggak ada batasan buat interpretasinya, meskipun ada judul yang menjadi key untuk setiap lagu Niskala.

Oke, cukup deskriptif tanpa nyebut aliran musik. Sekarang ceritain dong tentang proses produksi album Hourglass. Kenapa memilih judul album Hourglass? Bagaimana kalian bisa dirilis Trauma Irama Records? Sekalian ceritakan juga tentang tema kover album ini dong.

Hourglass ini start pada bulan puasa tahun 2017 dan kemudian kelar pada bulan puasa juga pada tahun 2018. Pengerjaan album ini menjadi lama karena banyak pertimbangan dan bongkar pasang isian selain mood player yang naik turun. Hourglass merupakan rangkuman dan interpretasi perjalanan naik turun band ini sejak terbentuk 2014 silam. Filosofinya seperti jam pasir (hourglass); satu sisi menuju untuk dipenuhi, setelah penuh ada lagi kan tuh sisi yang kosong. Bukannya perjalanan hidup itu ngomongin soal mengisi dan mengurangi, datang dan pergi, ya ngomongin soal proseslah secara gamblangnya. Di album ini kita kerjasama sama Masbray Bram, seorang fotografer kesohor asal Jogja untuk menginterpretasikan setiap lagu Niskala dalam karya-karyanya. Dirilis Trauma Irama, mungkin kita yang harus bersyukur di sini, band ini adalah band gurem yang beruntung. Ya, beruntung!

Setahun berarti ya pengerjaan albumnya. Lalu apa perbedaan proses song writing kalian sebagai band instrumentalia dibandingkan dengan band genre lain yang memakai vokal?

Nyaris tidak ada perbedaan, cuman eksplorasinya lebih tak terbatas kami rasa.

Oh jadi titik temu-nya di eksplorasi. Oh ya, apa sih yang kalian harapkan dari pesan musik yang kalian bawakan? Apa yang kalian harapkan dari orang setelah mendengar lagu kalian atau menonton gig kalian?

Kalau mendengar audio, harapan terbesarnya adalah semoga lagu-lagu kita dapat menjadi soundtrack hidup yang selalu naik turun kayak kurs dollar. Kalau yang dateng ke gigs semoga energi kita waktu main bisa tersampaikan ke audience.

Harus diakui pemilihan karakter tone dan teksture dalam komposisi musik kalian cukup menarik, bagaimana kalian memilih tone dan eksture yang kalian gunakan di album ini?

Katanya Pakdhe Picasso, “Good artists copy, great artists steal”.

Terus seberapa ketat kalian dalam membedakan antara improvisasi dengan komposisi baik dalam studio ketika rekaman maupun di kala live on stage?

Karena sejauh ini kami memakai backtrack/ sampling, jadi kami hampir 80% bermain rapih sesuai komposisi. Sisanya, “Bakar!!!”

Waduh, maen bakar aja. Lanjut ya, bagaimana kalian melihat relasi antara suara, ruangan dan komposisi?

Hal-hal ini tidak bisa dipisahkan, saling melengkapi satu sama lain.

Saling melengkapi seperti sebuah hubungan? Ngomongin tentang hubungan nih, jadi sepertinya hubungan antara musik dan jenis kesenian yang lain semakin erat. Album Hourglass juga melakukan kolaborasi dengan fotografer untuk mengejawantahkan lagu kalian dalam bentuk fotografi. Bagaimana kalian melihat relasi ini dan seberapa jauh kalian merasa musik itu harus berkaitan dengan indera yang lain selain pendengaran?

Hal itu timbul secara natural, kalau seni itu timbul setelah perasaan menjadi pengalaman, hal-hal kolaboratif itu menjadi media yang menguatkan apa yang ingin kita capai atau tuju. Waduh berat ya?

Nggak berat juga, pertanyaan selanjutnya ini yang berat. Nah, musik instrumentalia bisa saja memiliki subyek yang kritis dengan keadaan sosial dan politik, misalnya Godspeed You Black Emperor. Gimana pendapat kalian mengenai awareness musisi hari ini terhadap keadaan sosial politik? Apakah Niskala juga aware?

Cukup banyak musisi yang sangat aware terhadap keadaan sosial politik yang cukup “embuh” hari-hari ini dengan berbagai kapasitas dan pergerakannya. Kita berlima lahir di era 90-an, sedikit banyak memori soal carut marut keadaan negeri ini membekas di ingatan kita. Secara disadari atau tidak, hal itu tinggal di ingatan kita. Kalau sedikit boleh promosi, track 4 (Commemorate) di album ini menceritakan tentang kekisruhan dan ketakutan kita dalam bernegara atas segala ketidakadilan, absurditas dan hal-hal “konyol” yang diciptakan para elite untuk rakyatnya. Lirik spoken words di track ini ditulis oleh gitaris kami, Daniel.

Ngomongin awareness dalam lingkup bermusik nih, beberapa waktu lalu sedang rame tentang isu RUU Permusikan yang berakhir dengan kesepakatan bersama untuk membatalkannya, gimana pendapat kalian mengenai RUU tersebut?

Tidak setuju! Denger-denger udah masuk Prolegnas Prioritas 2019 juga kan? Ngapain diprioritasin? Banyak hal yang lebih masuk akal untuk diprioritasin, soal peradilan untuk pelecehan seksual, misalnya? Setelah kami pelajari, kami menangkap kemudian bertanya-tanya. Kenapa bukan regulasi industri yang dibenahi? Bukankah itu yang lebih penting? Sedangkan point demi point dari RUU ini malah membatasi musisi dalam setiap proses kreatifnya. Jadi kami rasa ini belum tepat. Niskala tumbuh dan bergerak melalui panggung-panggung kecil, dari acara pelajar hingga kolektif skala kecil. Dengan segala keterbatasan seperti sewa sound, venue gratisan, dan kendala lain si penyelenggara yang biasanya non-sponsor, sepertinya mustahil untuk mereka melegalkan acaranya hingga layak dan berlisensi sesuai maksud RUU. Itu juga pasti akan berimbas dan semakin membelenggu kegiatan mulia ini. Hahaha, karena kami yakin bermusik adalah hal yang mulia.

Oke, untungnya sudah pada sepakat untuk dibatalin ya. Lalu pendapat kalian mengenai nilai dari musik di hari ini itu gimana?

Musik sudah bukan cuman soal estetika atau untuk didengar saja, namun sudah menjadi “media” sebagai kebutuhan dan juga untuk menjangkau ranah-ranah lain diluar musik itu sendiri.

Nah kali ini ngomongin orang nih. Bagaimana kalian melihat peran pendengar dalam proses komunikasi bermusik di Niskala?

Semakin banyak pendengar, semakin banyak cerita yang diciptakan lewat lagu-lagu kami. Harapannya gitu sih…

Oke, itu tentang pendengar ya. Terus kalo perspektif kalian mengenai sistem promosi di Indonesia gimana? Dalam hal apa jurnalisme musik bisa merubah bagaimana musik diterima oleh publik?

Sistem promosinya sudah sangat berkembang dan bervariasi, banyak records records store mandiri yang kooperatif menjadi wadah dan titik distribusi di berbagai kota.

Last but not least, apa rencana Niskala ke depannya?

Rencana kami ke depan adalah masih dalam tahap menyusun rencana.

 

Teks dan wawancara: Indra Menus
Foto: Dok. Niskala/ Andreas Joko

Tur Jepang Bangkutaman & Logic Lost

Bangkutaman, grup asal Jogja, melanjutkan seri TauTauTur mereka dengan edisi spesial. Mereka memutuskan untuk bertandang ke Jepang. Tur ini dimulai dari tanggal 27 – 30 November tahun ini. Bukan tanpa...

Keep Reading

Video Musik Bintang Massa Aksi .Feast

Abdi Lara Insani yang merupakan single utama dari album teranyar .Feast berjudul Bintang Massa Aksi ini ternyata masih memiliki keberlanjutan dengan dirilisnya sebuah video klip resmi di kanal YouTube .Feast (22/11/22). Video klip ini melibatkan...

Keep Reading

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading