Reruntuhan Akhir Dunia di Album Keempat Extreme Decay

Usai melepas beberapa materi pemanasan menuju album barunya, unit Grindcore kota Malang, Extreme Decay, akhirnya secara resmi melepas album keempatnya pada 29 April 2022 lalu yang diberi tajuk Downfall Of A God Complex. Setidaknya ada 22 nomor lagu yang disajikan dalam album penuh agresi ini, lengkap dengan tema-tema akhir dunia serta formula musik brutal yang mungkin saja bisa merobek gendang telinga para pendengarnya.

Sisi kebaruan di wilayah distribusi pun turut dihadirkan. Tak terpusat hanya di satu label rekaman dan format rilisan saja. Album ini dirilis dalam format cakram padat (CD) oleh label rekaman Selfmadegod Records dari Polandia yang juga menaungi rilisan dari band hardcore klasik seperti Antigama, Nasum, Unholy Grave, hingga Agathocles. Untuk label rekaman lokal, album ini dirilis dalam format kaset pita oleh label mandiri dari Jakarta, Grieve Records, yang menjadi rumah bagi band-band metal di Indonesia macam Kelalawar Malam, Masakre, sampai Marax.

Sementara untuk format piringan hitam, album Downfall Of A God Complex bakal dirilis kemudian di tahun ini juga melalui kerjasama antara sepuluh label rekaman bawah tanah yang tersebar di Eropa dan Amerika Selatan. Namun sejauh ini belum ada kabar apakah Downfall Of A God Complex akan dirilis secara digital atau tidak.

Menurut keterangan yang diterima oleh Siasat Partikelir, Extreme Decay mengambil tajuk Downfall Of A God Complex untuk menggambarkan keruntuhan bagi orang-orang yang suka bertindak selayaknya tuhan. Tentang kalangan yang selalu merasa paling benar dan tak mau dibantah. Kolot dan bebal. Emosi yang hendak ditularkan oleh Extreme Decay tertuang secara jelas dalam semua lirik yang ditulis di album ini. Lugas mengkritisi perilaku tersebut sekaligus mendesain suasana distopia dan akhir dunia. Tema utama tersebut bisa dikaitkan dengan isu kehancuran sosial, politik, reliji, ekonomi, budaya populer, hingga ekologi yang terjadi di belahan dunia.

       Baca juga: Extreme Decay Lepas Ulang EP Antiviral dalam Format Piringan Hitam

Di wilayah proses kreatif, semua musik dan lirik pada album Downfall Of A God Complex ditulis oleh para personel Extreme Decay. Sedangkan untuk produksinya sendiri album ini direkam di Natural Studio (Surabaya) selama tiga hari penuh pada tanggal 15-17 Oktober 2021 bersama Irwan selaku operator. Sementara proses mixing dan mastering dkerjakan oleh Yobbi Ananta di Grim Studio (Jakarta).

Untuk sisi artistik sampul album, Extreme Decay melibatkan nama Rio Krisma dari Penahitam sebagai ilustrator untuk artwork yang dilukis di atas kanvas. Sementara foto-foto di album ini dikerjakan oleh Inspired27 team, dan tata letaknya digarap oleh katarsisme.

Grieve Records sempat memberikan sinyal bahwa Downfall Of A God Complex adalah album yang sarat akan ekstrimitas dan misantrofik. Extreme Decay memainkan versi modern dari irama klasik grind/crust ’90-an, dengan pengaruh yang luas dari S.O.B, Disrupt, Despise You, hingga Napalm Death. Semua lagu di album ini dipacu secara non-stop layaknya kekuatan meteorik dari agresi dan brutalitas ala grindcore yang bahkan melampaui karya-karya mereka sebelumnya. Setelah lebih dari dua dekade, Extreme Decay dibilang tidak menunjukkan tanda-tanda untuk melunak. Mereka telah kembali dan siap melanjutkan terornya melalui Downfall Of A God Complex.

      Baca juga: Extreme Decay Luncurkan Video Live dan Situs Resmi Sekaligus

Sedikit tentang Extreme Decay. Unit yang dihuni oleh Ravi (gitar/vokal), Ruli (gitar/vokal), Nizar (bass/vokal), dan Eko (drum) merupakan pengusung musik grindcore yang terbentuk di kota Malang pada tahun 1998. Sejak awal karirnya, mereka sudah langsung memproduksi berbagai karya rekaman dalam beragam format. Extreme Decay telah merilis beberapa album melalui berbagai label rekaman di berbagai negara, termasuk sejumlah proyek album split dan kompilasi internasional.

Kabarnya, selepas merilis album Downfall Of A God Complex, Extreme Decay juga masih punya agenda lain di tahun 2022 ini. Di antaranya adalah proyek reissue salah satu album klasik mereka, Sampah Dunia Ketiga. Dua tahun ini agaknya menjadi fase paling sibuk sekaligus produktif bagi Extreme Decay. Kita nantikan saja kejutan-kejutan selanjutnya!

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Extreme Decay

Semeti Medley, MV The Dare Besutan Allan Soebakir

Pantai! Lombok! Apa yang pertama terlintas di benak kita mendengar dua kata diatas. Tentunya hamparan garis pantai nan panjang lengkap dengan pasir putih, ombak yang riang dan air laut yang...

Keep Reading

Morgensoll Luncurkan Nomor Ganda “NT/M(o)” dan “Till I’m Forgiven”

Unit post-metal Jakarta, Morgensoll baru-baru ini telah memperkenalkan karya teranyanyar. Kali ini mereka datang dengan nomor ganda “NT/M(o)” dan “Till I’m Forgiven” yang sudah bisa dinikamti di semua kanal musik...

Keep Reading

Cerita Iblis dan Manusia di Album Kedua Parakuat

Ranah musik elektronik di Indonesia selalu menarik untuk di simak, terlebih geliatnya di arus pinggir. Banyak seniman bunyi muncul dengan coraknya sendiri dan membawa hasil eksperimentasinya masing-masing. Ranah ini terus...

Keep Reading

The Jansen Persembahkan Album Ketiga

Usai melepas nomor “Mereguk Anti Depresan Lagi” yang cukup mencuri perhatian, The Jansen, trio punk rock dari kota hujan Bogor akhirnya meluncurkan album ketiganya bertajuk “Banal Semakin Binal” (29/7) dalam...

Keep Reading