Renungan Unconsciousness dari Album Debut Black Horses

“Secara lirik di lagu kami bercerita banyak ragam,” buka Jul, penggebuk drum Black Horses. Black Horses hadir ke publik musik skena Tanah Air di tahun 2015. Sejak itu, kelompok musik asal Jakarta ini pakem mengusung rock organik. “Tentang dinamika unconsciousness, hasrat, kegagalan, juga trial error,” ungkap dia untuk alur cerita di album debut studionya, Ballads of the Freedom Youth. Kata pria bernama lengkap Julian Aditya Karnajaya itu, sebagai anak muda, ia sendiri atau orang lain bahkan, ketaksadaran mengalami suatu kegagalan mungkin kerap terjadi. “Di saat bersamaan kita acap kali tak sadar dengan itu. ‘Eh, ternyata gua pernah ngalamin itu, sebenarnya’.”

Sedikit tentang rock organik. Asing barangkali menyangkut subgenre rock itu, yang awam terutama. Di tengah usai berkecamuknya Perang Dunia II, di tahun 1950’an, pendengar musik di Amerika Serikat, juga di Inggris tak lama sesudahnya, kala itu dihadirkan sebuah komposisi dan gaya musik yang sama sekali berbeda. Disebut “Race music” oleh pendengar di sana ketika itu. Sebutan yang sama untuk jazz dan reggae ataupun hip hop, tapi subgenre termaksud ialah rock ‘n roll. Mengutip sosiolog David Riesman, dalam risalahnya Beyond and Before Progressive Rock Since the 1960’s Paul Hegarty dan Martin Halliwell di tahun 2011 berujar: “Masih ada upaya lain bagi kaum minoritas-tertindas untuk melawan mayoritas-penindas, adalah melalui musik populer, rock ‘n roll namanya.” 

Di tahun-tahun itu, bangsa kulit berwarna sedang menghadapi ramainya stereotip dan kekerasan penduduk kulit putih. Rock ‘n roll jadi perangkat perlawanan sang negro saat itu. Di suatu seminar musik di London tahun 1992, John Covach membawa sebuah makalah berjudul Progressive Rock, “Close to the Edge”, and the Boundaries of Style. Di situ, ia yang seorang profesor musik berdarah Inggris itu menuliskan: “Di satu sampai dua dekade berikutnya, di akhir 1960 hingga 1970’an, rock ‘n roll menjelma jadi rock progresif – ahli musik, dan musisi di British khususnya, menyebutnya rock klasik, art rock, dan sesekali rock organik.” Tapi tak jarang ia dinamai prog rock juga. Rock organik, atau apapun ia punya nama, bercirikan musik dengan authentic delivery atau berpembawaan “alami”.

“Kenaturalan”, atau “kejujuran” barangkali, dalam bermusik rock itulah yang jadi arah rock organik, termasuk rock organiknya Black Horses. “Bermain dengan jujur,” kata Jul, yang mewakili tiga anggota lainnya – Kevin Indriawan (gitar), Salim Lubis (vokalis), dan Lucky Azary (bass) – itu saat dihubungi Siasat Partikelir beberapa waktu lalu.

Seperti “Martyr”, sebuah single dan juga kemudian jadi track keempat di EP Black Horses: Live at Hard Rock Cafe Jakarta, pesan liriknya lugas. Suara voxnya keras menyayat tapi terasa halus. Keseluruhan, lagu ini beraransemen klasik, seklasik musik jazz dan blues yang cocok dibawakan di sebuah hall. Betul, rasa-rasanya tak kebetulan EP rilisan 2019 ini mereka rekam secara live di ruangan tertutup, Hard Rock Cafe. Rock organik, atau apapun ia disebut, memanglah erat dengan musik klasik era avant-garde di pertengahan abad ke-19 dulu, dan konser hall termasuk karakternya ketika itu. Bila unsur klasik jelas tertampak lewat konser hall di EP berisikan enam lagu itu, ke-klasikan lainnya akan terlihat pula pada album debut studionya nanti.

“Bukan di platform digital, eksklusif dirilis dengan kaset. Nostalgia dengan rilisan fisik zaman dulu,” tutur Jul. “Mudah-mudahan, di album-album ke depan kami punya rilisan vinyl.”

Black Horses, band yang diawali dari sekumpulan teman sejawat di bangku berbeda-beda sekolah itu, berencana mengeluarkan album studio pertamanya itu di 16 Oktober 2020 nanti. Menariknya, yang patut ditunggu penggemar, atau untuk pecinta rock klasik umumnya mungkin, album yang diagendakan berisi delapan lagu ini akan menandai baru masuknya Salim sebagai vokalis. Di EP, dan dua single terdahulunya – “Mr. Glass” dan “Martyr” – Block Horses divokalisi oleh Rafy. “Lagu ‘Horsemen’ yang kami posting di Instagram itu bagian album terbaru kami. Bentuk live performancenya kira-kira seperti itu, tapi dalam seri album pastinya berbeda.”                        

Teks: Emha Asror
Visual: Arsip dari Black Horses

The Box Perkenalkan Formasi Baru Lewat Live Session

Pandemi yang sudah berlangsung selama dua tahun ini telah membuat kita semua kembali dari awal. Menyusun ulang rencana dan mulai menata kembali langkah-langkah yang akan diambil. Kini industri sudah mulai...

Keep Reading

Sajian Ska Berbeda dari Slowright

Slowright, unit ska dari kota Malang baru-baru ini telah melepas album mini teranyarnya bertajuk Believe. Dirilis oleh label rekaman yang bermarkas di Yogyakarta, DoggyHouse Records, lewat rilisannya kali ini Slowright...

Keep Reading

Zizi yang Menyapa Kampung Halaman Lewat Hometown Tour

Setelah menyelenggarakan showcase perdananya yang bertajuk Unelevated Intimate showcase di Bandung pada akhir Februari lalu. Kini, Zizi kembali ke rumah tempat ia tumbuh dan menemukan passion terbesar dalam dirinya. Ia...

Keep Reading

Realita Kaum Pekerja di Nomor Kolaborasi Dzulfahmi dan Tuantigabelas

Dzulfahmi, MC dari kolektif Def Bloc dan Dreamfilled yang bermukim di Jakarta baru-baru ini (6/5) telah memperkenalkan karya terbarunya bertajuk “Rotasi”. Lewat rilisannya kali ini Dzulfahmi menggaet salah satu nama...

Keep Reading