Rebel Notes: Anomali Hidup Seniman dalam Catatan

Menelisik perjalanan seniman tidak akan jauh dari kata perlawanan. Perlawanan kepada diri sendiri ataupun kepada kondisi di luar diri, seperti yang di katakan Jim Morrison “kita hidup dalam masyarakat yang terserang penyakit dan sebagian penyakit ini tidak kita waspadai bahwa kita memang terserang penyakit” (50). Konotasi penyakit di sini tentu memunculkan ragam spekulasi dimana bisa dmaknai sebagai penyakit secara biologis, sosial bahkan ideologis.

Di tengah semakin derasnya arus perkembangan aliran seni dewasa ini para seniman progresif terdahulu sudah merumuskan perlawanan dengan caranya masing-masing. Diantaranya adalah menulis catatan untuk menegaskan posisi mereka bukan hanya sebagai seniman namun juga sebagai manusia yang marah dan gusar ketika penyelewengan terjadi. Buku berjudul ‘Rebel Notes’ hadir sebagai bunga rampai untuk catatan-catatan tersebut.

Catatan para seniman yang menjadi ikon pada jamannya tertuang dalam buku ini. Dari mulai Bob Marley dengan pemaknaannya ‘menghisap ganja bersama Tuhan’ sampai dengan janda Lennon (Yoko Ono) yang membicarakan revolusi feminin: tentang pentingnya persatuan kaum perempuan dengan melihat sejarah bahwa kaum laki-laki telah gagal menjalankan dunia dan sudah saatnya perempuan mengambil bagian dalam dunia yang baru dimana setiap manusia mampu bersatu dan bersama dalam cinta.

Buku terjemahan Adhe Ma’ruf ini adalah manifestasi bahwa memang seniman memiliki peran untuk membicarakan hal-hal yang masyarakat umum tidak membicarakannya. Seperti misal revolusi yang di bicarakan John Lennon melalui lagu revolution: “Dalam politik ada revolusi dan aku memikirkannya lewat lagu revolution” (8). Pergulatan antara para kapitalis dan kelas pekerja ia kupas dalam catatannya tentu dengan kisah-kisah perlawanannya selama berkarir dalam musik yang tidak kalah menarik dengan risalah asmaraya bersama Yoko Ono. Ataupun catatan Thom Yorke (Radiohead)  yang memiliki tendensi kritik kepada kaum pelawan tapi tidak melakukan apa-apa

“….jika yang di sebut anarkis itu hanya duduk di rumah dan menghisap obat bius dan bersenggama, maka kita akan menyembah ekonomi global dan sudi menonton jutaan orang mati tanpa alasan yang baik” tulis Thom Yorke di halaman 71.

Sedikitnya ada 16 catatan seniman termahsur yang terhimpun dalam buku ini. Diantaranya adalah John Lennon (Aku menjadi bintang karena tekanan), Bob Dylan (Aku hanya bernyanyi, Terserah kalian mau apa), Kurt Cobain (Nevermind, it’s me!), Bob Marley (Menghisap ganja bersama Tuhan), Jim Morrison (Aku bukan sang penyelamat), Elvis Presley (Merenungkan hidup dan kematian), Bono (Utang dunia membuatku marah), Marlyn Monroe (Aku satu-satunya), James Dean (Aku meniru kehidupan), Steven Spielberg (Aku, Film dan Kaum Yahudi), Oliver Stone (Percakapan dengan sejarah), Jean Michael Basquiat (Aku), Andy Warhol (Catatan Harian), Pablo Picasso (Mengapa aku bergabaug dengan partai), Yoko Ono (Revolusi Feminin).

Buku Rebel Notes banyak memberikan sudut pandang tentang pentingnya sebuah catatan. Bahwa dengan tulisan, sebuah gagasan tidak akan redup di tiup angin, tidak mati di terjang badai. Begitupun dunia dengan kondisinya yang terus bergerak barang tentu tidak semua hal terjadi dengan baik-baik saja, selalu ada yang perlu untuk dibicarakan, dan dengan seni adalah medium yang paling tepat –menurut seniman- untuk merespon hal-hal tersebut.

Seniman memiliki peran besar untuk menghidupkan kembali hati nurani manusia ketika nilai kemaanusiaan kian di lupakan. Seperti yang di katakan pada awal halaman buku  “BERSATULAH PARA SENIMAN PROGRESIF DUNIA!”. Dengan kondisi saat ini rasa-rasanya semboyan tersebut begitu cukup untuk diamini.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Dicki Lukmana

Semarak Festival Alur Bunyi Besutan Goethe-Institut Indonesien

Tahun ini, Goethe-Institut Indonesien genap berusia 60 tahun dan program musik Alur Bunyi telah memasuki tahun ke-6. Untuk merayakan momentum ini, konsep Alur Bunyi tetap diusung, namun dalam format yang...

Keep Reading

Head In The Clouds Balik Lagi ke Jakarta

Perusahaan media serta pelopor musik Global Asia, 88rising, akan kembali ke Jakarta setelah 2 tahun absen karena pandemi pada 3-4 Desember 2022 di Community Park PIK 2. Ini menandai pertama...

Keep Reading

2022, Jazz Gunung Kembali Lagi!

Setelah lebih dari dua tahun berjibaku beradaptasi dengan pandemi, kini pertunjukan musik kembali mendapatkan ruangnya kembali. Satu persatu festival musik muncul lagi. Salah satunya adalah Jazz Gunung yang tahun ini...

Keep Reading

Turtles. Jr Bakal Jajal Rebellion Fest di Inggris

Grup punk rock asal Bandung, Turtles Jr, baru-baru ini telah berbagi kabar gembira. Unit yang dihuni oleh Boentar (drummer), Boodfuck (vokal), Dohem (bass), dan Buux Frederiksen (gitar) ini di tanggal...

Keep Reading