Rangkuman dari Festival Fiktif Bernama Fyre

Setelah dibukanya blokir terhadap layanan Netflix oleh Telkom group di waktu kemarin, sontak orang-orang mulai ramai membahas apa saja yang menarik untuk ditonton di platform tersebut. Mulai dari film seri hingga dokumenter pun tak terlewatkan untuk dibahas. Kami? Jelas tak mau ketinggalan. Netflix hadir di Indonesia sejak 4 tahun silam, tepatnya di 2016. Mulai dari sana, beragam film dan dokumenter telah ditayangkan. Penikmatnya pun bisa dibilang tidak sedikit. Walaupun dulu terkendala masalah pemblokiran pihak Telkom, nyatanya antusias untuk menjelajahi layanana ini tak memudar. Toh bukan cuma Telkom yang punya jaringan baik di negeri ini. Oke balik lagi ke topik. Menonton film seri mungkin akan sangat membutuhkan waktu yang ekstra banyak, tapi beda cerita dengan film dokumenter. Selain mendapatkan hiburan, menyaksikan dokumenter pun bisa membuka wawasan ke ranah yang lebih luas lagi. Kali ini, kami mau membahas dokumenter tentang sebuah festival fiktif yang sempat menghebohkan jagat maya di tahun 2017 silam. Film dokumenter tersebut berjudul “Fyre: The Greatest Festival That Never Happened”.

Apa yang paling membahagiakan dari dunia internet? Jawabannya adalah kita tidak perlu hadir di tempat tersebut secara langsung. Seperti banyak orang katakan, “lewat internet, dunia seakan digenggaman kita”. Hal inilah yang dihadirkan oleh dokumenter tersebut. Kita tidak perlu datang jauh-jauh ke Bahama untuk melihat kejadian yang menghebohkan saat itu. April 2017 adalah hari di mana festival ini memperlihatkan kebobrokannya, sesuatu yang berbanding terbalik dengan promo-promo menarik yang mereka (pihak penyelenggara) hadirkan ke khalayak ramai. Semua tahu dalam masa promonya pihak Fyre Festival menjanjikan banyak kemewahan, mulai dari private jet, kapal pesiar, vila yang mewah, dan setumpuk supermodel yang tentunya menggugah selera untuk berkunjung ke festival itu.

Kisah Fyre Festival Fyre yang dibuat dan ditayangkan oleh Netflix ini adalah bukti dari jejak digital akan keangkuhan yang diperlihatkan oleh Billy McFarland (pendiri Fyre Media), yang mana dirinya merekrut para model yang paling disukai di dunia untuk meyakinkan orang-orang agar mau untuk turut serta di sebuah fantasi kesenangan di sebuah pulau di Bahama. Promosi yang ambisius, serta biaya yang jauh melampaui anggaran. Akibat dari kekacauan itu semua, McFarland akhirnya dipidanakan dan dijatuhi hukuman enam tahun penjara karena tindakan penipuan. Di dokumenter yang disutradarai oleh Chris Smith dari American Movie dan Jim and Andy: The Great Beyond, dengan cerdas menggali mengapa begitu banyak yang setuju festival ini sangat kacau di awal perencanaannya.

Yang sangat penting untuk dicatat adalah, bahwa sesungguhnya film dokumenter ini adalah hasil produksi dari Jerry Media dan Matte Projects. Keduanya adalah perusahaan yang memegang keseluruhan produk promosi untuk festival itu di berbagai media sosial, dan juga yang mengerjakan ragam video untuk Fyre Festival. Berkat adanya kedua belah pihak ini, sudah bisa dipastikan dokumenter ini akan menggali sampai ke dasar mengenai beragam intrik dari proses pengadaan festival tersebut. Dalam dokumenter ini diperlihatkan secara gamblang bagaimana proses dibalik layar dari promosi si festival, dan betapa arogannya McFarland. Sosok ini benar-benar tidak tahu apa yang harus dibuatnya, yang lebih parahnya adalah dia hanya memikirkan bagaimana mendulang uang yang banyak dari para calon penonton, tanpa memikirkan dampak yang hadir di depannya.

Di Instagram, akun yang memiliki ribuan pengikut dan telah terdapat centang biru, adalah sumber kepercayaan besar bagi orang banyak. Tetapi influencer dan supermodel yang berkontribusi dalam kampanye promosi Festival Fyre tidak tahu apa yang mereka promosikan atau apapun tentang festival itu. Meskipun ini bukan kesalahan sepenuhnya dari para figur publik tersebut yang telah dibayar untuk sesuatu yang mereka tidak ketahui. Film dokumenter ini menunjukkan bagaimana para influencer ini sangat dipercayai oleh para pengikut mereka dan bagaimana orang-orang dan pelanggan tersebut adalah korban ketidaktahuan mereka sendiri, meyakini bahwa apa pun yang menjadi viral adalah benar adanya. Pilihan lain yang luar biasa dalam film ini adalah upaya untuk memahami McFarland sebagai seorang kapitalis yang tidak dapat membedakan garis antara menjadi optimis dan menjadi delusi sampai hari terakhir sebelum festival. McFarland telah menciptakan harapan bagi ribuan peserta dan ketika dia tidak dapat memenuhi angka-angka itu, dia kemudian berubah menjadi sesuatu yang lebih gila lagi.

Sebagian pembahasan di dokumenter ini berfokus pada para pengunjung, karyawan, dan McFarland itu sendiri, sampai tiba di mana para penonton disuguhkan kenyataan pahit bahwa para pekerja yang berasal dari pulau itu sama sekali tidak diupah untuk pekerjaan yang mereka lakukan. Maryann Rolle, pemilik Exuma Point Bar dan Grille di Bahama, berhasil menyajikan makanan untuk para tamu terlepas dari disorganisasi di hari pertama. Tidak seperti anggota tim dan tamu Fyre yang mimpi buruknya berakhir ketika mereka naik pesawat untuk pulang, Rolle harus menghadapi staf yang bekerja tanpa lelah di bawah janji pembayaran yang tak kunjung ada. Dia mengklaim telah menghabiskan sekitar $ 50.000 dari tabungannya untuk membayar para staf, hal tersebut tentu saja merusak kreditnya dan merusak bisnisnya. Meskipun scammed terdengar mengerikan, orang-orang kaya dan makmur yang menghadiri festival ini dapat menghabiskan tiga kali tabungan Rolle dalam sekali klik, sementara Rolle dan pekerja lokal lainnya menemukan diri mereka dalam ketidakstabilan keuangan tanpa batas waktu yang pasti.

Tidak jelas apakah McFarland memiliki niat untuk mengadakan pesta yang luar biasa atau apakah gagalnya festival ini adalah bagian dari rencananya. Sesungguhnya, acara ini dimaksudkan untuk mempromosikan aplikasi pemesanan milik McFarland. Tetapi para kenyataannya, aplikasi tersebut telah menerima banyak kritik dan tuduhan penipuan atas apa yang telah dilakukan oleh sang pemilik. Kesimpulannya, jika ada satu hal yang ingin kalian tonton di Netflix, cobalah menengok dokumenter ini. Jalan cerita yang dihadirkan sangat mudah untuk dicerna, dan pastinya akan membuka mata kita bagaimana cara yang baik untuk mengelola suatu festival musik. Terlepas nantinya akan menguntungkan atau tidak.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Bersama Ello dan Virzha, Dewa19 Rilis Ulang Materi Lama "Still I’m Sure We’ll Love Again"

Dewa19 melanjutkan perilisan karya-karya lama mereka dalam format baru. Kali ini, mereka merilis “Still I’m Sure We’ll Love Again”, sebuah lagu dari album Format Masa Depan yang aslinya menampilkan vokal...

Keep Reading

Langkah Berikutnya dari Bilal Indrajaya

Usai melepas beberapa materi singel dan album mini Purnama (2019) solis dari Jakarta, Bilal Indrajaya, akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan meluncurkan karya terbarunya bertajuk “Saujana” lewat label rekaman legendaris yang kini...

Keep Reading

Themilo Rangkum Perjalanannya di Nomor "Flow"

Dua dekade berlalu dan Themilo tetap berjalan dengan syahdu. Pada akhir Juli 2022, unit shoegaze dari Bandung yang berdiri sejak 1996 ini baru saja merilis single terbaru mereka berjudul “Flow”....

Keep Reading

Semeti Medley, MV The Dare Besutan Allan Soebakir

Pantai! Lombok! Apa yang pertama terlintas di benak kita mendengar dua kata diatas. Tentunya hamparan garis pantai nan panjang lengkap dengan pasir putih, ombak yang riang dan air laut yang...

Keep Reading