Jatiwangi, sebuah kecamatan di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat ini terkenal luas sebagai kawasan produsen genteng. Selain sebagai penghasil yang terbesar di Jawa Barat, Jatiwangi juga terkenal di kalangan seniman baik dalam maupun luar negeri. Jatiwangi Art Factory (JAF), komunitas seni yang nirlaba, adalah otak dari banyak kegiatan berkesenian di Jatiwangi. Bensin gerakannya adalah ide-ide lokal yang ada di sekitar ruang hidup sekaligus ladang berkarya mereka.

JAF berdiri sejak 2005, niatnya untuk memberi tanda jelas bahwa Jatiwangi adalah salah satu daerah yang punya andil besar dalam membangun berbagai macam kota di Indonesia dengan produksi gentengnya. Di setiap kegiatan yang dilakukan, keterlibatan warga adalah kandungan besar yang dibawa. Komunitas ini dikelola mandiri dan memberdayakan hasil penjualan genteng produksi para pendirinya.

Selain aktif memproduksi genteng, JAF juga memiliki banyak program didalamnya. Antara lain lokakarya, residensi seniman, pementasan musik, siaran radio, binaraga jebor (Jatiwangi Cup) dan festival. Tujuannya adalah untuk memperbaharui warisan leluhur dengan metode kekinian yang tetap menjaga apa yang sudah ada. Di sana juga terdapat banyak ruang, antara lain ruang pameran, dan ruang lokakarya keramik.

Di dalamnya ada beberapa program yang dikhususkan dan fokus terhadap musik beserta alatnya, antara lain adalah Ruang Kosmik dan Studio Keramik. Ruang Kosmik sendiri merupakan sebuah program yang dibentuk untuk mengapresiasi musik dan musisinya lewat jalur diskusi, pementasan serta video. Lalu Studio Keramik, tujuannya untuk mengedukasi serta membuat alat musik yang berasal dari tanah, membuat musik bebunyian tanah.

Jika berbicara soal Jatiwangi, kurang lengkap rasanya jika tidak berbincang tentang Hanyaterra. Band ini bisa dibilang lain dari yang lain. Mereka memainkan musik dengan menggunakan alat musik yang berasal dari tanah liat dan telah menghasilkan sebuah EP berjudul Janji Tanah Berani. Alat musik yang mereka mainkan bentuknya beragam, mulai dari alat tiup, petik, pukul hingga gamelan yang terbuat dari tanah. Adalah Sadatana nama alat perkusi yang mereka ciptakan, nama Sadatana sendiri diambil dari Bahasa Sunda. Sada yang berarti suara dan Tana yang berarti tanah, jika digabungkan maka bisa berarti suara indah yang dihasilkan dari tanah. Dalam proses kreatifnya tentu saja tak selalu berjalan mulus dan lancar. Untuk mendapatkan bebunyian yang bagus, tidak semua tanah liat dan genteng yang ada bisa dijadikan alat musik begitu saja. Butuh kesabaran ekstra di dalam proses menjalaninya.

Untuk festival sendiri, JAF memiliki agenda yang digelar setiap tahun tanah atau tiga tahun sekali. Namanya adalah Rampak Genteng. Tujuan utama diadakannya festival ini adalah untuk penghormatan kepada leluhur kebudayaan di Jatiwangi, selain itu festival ini direncanakan sebagai wadah bagi siapapun yang ingin berkontribusi. Di dalam proses persiapan menuju festival, setiap harinya JAF berkunjung ke desa, sekolah dan berbagai tempat lainnya untuk membuat serta menjalankan praktek komposisi yang akan ditampilkan di Rampak Genteng.

Ami, salah satu pengurus JAF, bercerita, “Setiap harinya kami selalu membiasakan warga untuk praktek membunyikan, tujuannya agar terbentuk tali silaturahmi yang erat serta kekompakkan bersama.”

Festival ini diselenggarakan di sebuah bekas pabrik gula. Ada alasan tersendiri kenapa tempat ini dijadikan lokasi gelaran festival: Spirit untuk menduduki sebuah lahan bekas pemerintahan Belanda dengan entitas baru yang memiliki memori budaya dan dilengkapi bebunyian tanah yang dihasilkan oleh warga Jatiwangi itu sendiri.

Di tahun 2018 ini total warga yang ikut berkontribusi di festival ini sebanyak 11.000 orang dan angka ini  selalu bertambah di setiap penyelenggaraannya. Berbagai instrumen tanah liat dimainkan, mulai dari suling tanah, terranika (xylophone dari keramik), tambur, gitar dan banyak lainnya. Semuanya dibuat dengan tanah yang dimiliki oleh Jatiwangi. Juga ada penampilan tari tradisional, penabuh tambur dan paduan suara yang semakin membuat suasana festival ini begitu meriah.  Melalui media festival ini, warga bersepakat untuk membentuk sebuah rancangan kota yang berbasis budaya serta membangun melalui tangan dan pikiran warga yang ingin keberlangsungan tanah genteng di Jatiwangi selalu hidup. Para warga sendiri memiliki motto di setiap festival ini berlangsung, “Bersatu kita Rampak, bercerai kita retak.” Ini merupakan sebuah moto yang diambil dari filsafat genteng itu sendiri.

Teks: Adjust Purwatama
Foto: Dokumentasi Jatiwangi Art Factory/ Rampak Genteng