Raja Laut dari Jatinangor yang Bernama The Panturas

Aliran musik surf rock mungkin belum menjadi genre yang begitu popular di Indonesia, namun jangan salah, peminat dari musik jenis ini bisa dibilang tidak sedikit. Selain itu, kalau ngomongin band-band surf rock di Tanah Air, ada beberapa nama yang sudah cukup terkenal, sebut saja Southern Beach Terror dari Yogyakarta, lalu ada The Mentawais, hingga The Sailors. Seringkali band-band surf rock dikaitkan dengan kehidupan pantai. Makanya, namanya aja “surf” rock. Kalau membicarakan jenis musik surf rock di Indonesia, sepertinya terasa kurang bila tidak membahas The Panturas, band surf rock asal Jatinangor ini. Nama The Panturas beberapa tahun belakangan memang sering muncul dalam line up acara-acara musik baik di Bandung maupun luar Bandung. Bersama Siasat Partikelir pun mereka pernah menjajal jalanan Sumatera dalam tur yang bertajuk Stand A Chance pada awal tahun 2019 kemarin. Dalam tur ini, Panturas, yang berasal dari Jatinagor, Jawa Barat, mengalami pengalaman baru yang tidak bisa mereka dapatkan di pulau tempat mereka tinggal.

Band ini berawal dari Uya, Ijal, dan satu orang anggota yang sekarang sudah keluar dan tergabung dalam band lain. Musik yang dipilih untuk identitas band ini adalah Surf rock, yang memang berjenis musik pantai, musik-musik yang terkenal di Amerika tahun 60an. Nama The Panturas dipilih berdasar nama dari band The Ventures, band asal Amerika, yang kemudian diplesetkan menjadi The Panturas. Bagi yang belum familiar dengan mereka, band ini berisikan Abyan Zaki (vokal/gitar), Rizal Taufik (gitar), Surya Fikri alias Kuya (drum), dan Bagus Patrias (bass).

Mereka telah merilis satu buah EP yang diberi judul “Mabuk Laut” di bawah label La Munai Records. Bila kebanyakan band sejenis menceritakan tentang keindahan pantai dan laut, lain halnya dengan mereka. Di setiap karyanya mereka selalu menghadirkan beragam isu kelautan. Tentu saja mereka sangat tahu betul karakter musik apa yang harus dikeluarkan, tidak seperti pada biasanya band surf rock yang menciptakan karya-karya instrumental, mereka malah menghadirkan vokal unik ke dalam tiap karyanya, yang tentu saja tidak menghilangkan ciri khusus dari surf rock. Suara nyaring gitar, riff-riff yang ngejreng, serta ketukan drum yang berwarna, tetap ada mewarnai. Efek dari arus informasi yang kian hari kian membludak yang membuat nilai karya dari mereka semakin baik dan sarat akan isu terkini. Hal ini bisa ditengok di lirik-lirik dari EP “Mabuk Laut”. Di sana ada yang bercerita tentang perdagangan manusia, dinamika kehilangan orang tersayang, hingga cerita klenik dari sebuah pantai yang terkenal di Indonesia.

Satu hal yang memiliki nilai lebih dari mereka, yaitu The Panturas sangat akrab terlihat dengan hal-hal yang jenaka dan seringkali berasal dari luar akal sehat. Melalui media sosial, mereka seing kali memperlihatkan printilan-printila lucu dan merakyat. Hal itulah yang lantas menjadi pesona mereka, sederhana dan apa adanya. Rasanya semua orang sedang menunggu sosok-sosok paramuda seperti ini untuk diidolakan. Salah satu yang paling diingat adalah ketika mereka akan merilis single baru yang berjudul “Queen of The South” dan melakukan promo di aplikasi pencari jodoh, Tinder. Sistemnya begini, bila kalian saat itu bermain Tinder dan tiba-tiba match dengan akun mereka, selanjutnya link Youtube dari single tersebut akan dikirimkan oleh mereka. Cukup nyeleneh bukan? Tapi itulah mereka. Berbekal musik dan aksi panggung yang memang sangat pantas untuk disaksikan, The Panturas kini sedang di posisi yang sangat membanggakan. Banyak hal yang telah dicapai oleh mereka, dan kemungkinan akan terus bertambah.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Siasat Partikelir

Satu video musik dari The Panturas untuk lagu “Fisherman Slut” juga bisa ditonton di SPTV, kanal siar alternatif yang akan menjadi ruang bersama pengarsipan video musik dari grup musik/musisi tanah air sebagai apresiasi redaksi Siasat Partikelir atas kreasi audio visual dan musik. Pantau terus jangan sampai terlewatkan suguhan kejutan dari SPTV.

 

The Box Perkenalkan Formasi Baru Lewat Live Session

Pandemi yang sudah berlangsung selama dua tahun ini telah membuat kita semua kembali dari awal. Menyusun ulang rencana dan mulai menata kembali langkah-langkah yang akan diambil. Kini industri sudah mulai...

Keep Reading

Sajian Ska Berbeda dari Slowright

Slowright, unit ska dari kota Malang baru-baru ini telah melepas album mini teranyarnya bertajuk Believe. Dirilis oleh label rekaman yang bermarkas di Yogyakarta, DoggyHouse Records, lewat rilisannya kali ini Slowright...

Keep Reading

Zizi yang Menyapa Kampung Halaman Lewat Hometown Tour

Setelah menyelenggarakan showcase perdananya yang bertajuk Unelevated Intimate showcase di Bandung pada akhir Februari lalu. Kini, Zizi kembali ke rumah tempat ia tumbuh dan menemukan passion terbesar dalam dirinya. Ia...

Keep Reading

Realita Kaum Pekerja di Nomor Kolaborasi Dzulfahmi dan Tuantigabelas

Dzulfahmi, MC dari kolektif Def Bloc dan Dreamfilled yang bermukim di Jakarta baru-baru ini (6/5) telah memperkenalkan karya terbarunya bertajuk “Rotasi”. Lewat rilisannya kali ini Dzulfahmi menggaet salah satu nama...

Keep Reading