Rage Againts The Machine Rilis Film Pendek Soal Rasisme

Banyak hal menarik ketika kita membicarakan salah satu unit nu metal veteran asal Amerika, The Rage Againts The Machine –terlebih dalam urusannya dengan kondisi sosial-politik saat ini, di mana banyak masalah kembali mencuat ke permukaan. Salah satu lagu hitsnya yang berjudul ‘Killing in The Name’ secara politis mampu merobohkan banyak sekat kehidupan anak muda yang tumbuh di penghujung dekade akhir abad 20, terutama soal sekat ‘warna kulit’. Baru-baru ini salah satu kolektif seniman internasional bernama The Ummah Chroma (jika dapat berarti ‘Komunitas Warna’) telah mengadaptasi isi dari lagu tersebut dan berkolaborasi langsung dengan Rage Againts the Machine untuk merilis film dokumenter pendek berjudul “Killing In Thy Name”.

Secara garis besar, film pendek ini bercerita tentang hal hal yang beririsan dengan sejarah rasisme dan nasionalisme di Amerika Serikat. Film ini mencoba untuk menemukan akar permasalahan yang terjadi mengenai pelbagai konflik yang ditimbulkan hanya karena perbedaan warna kulit. Hal tersebut bisa kita lihat sedari pembukaan film, di mana ada seorang guru di sebuah lapangan terbuka dengan sekelompok anak-anak membicarakan sejarah penindasan dan irisannya dengan rasisme, juga konsep “putih” dalam konteks Amerika.

“Menurutmu dari mana orang kulit putih berasal?” tanya guru. Setelah anak-anak menjawab dengan berbagai jawaban Eropa dan Amerika Utara, guru berkata, “Sebenarnya, tidak ada orang ‘kulit putih’ yang datang dari tempat-tempat itu. Ketika mereka datang dari Inggris, menurut kamu apa mereka menyebut diri mereka? Inggris. Ketika mereka datang dari Prancis, mereka menyebut diri mereka apa? Perancis. Ketika mereka datang dari Rusia, apakah mereka? Rusia.

Dia melanjutkan, “Mereka tidak menyebut diri mereka ‘putih’, jadi pada titik mana orang-orang ini, yang tidak pernah benar-benar menganggap diri mereka sebagai satu keluarga besar yang bahagia – sebenarnya, mereka telah saling membunuh selama bertahun-tahun – ketika apakah mereka memutuskan bahwa mereka ‘putih’?

Film sepanjang berjalan, himne anti-kolonialis ‘Killing In The Name’ terus mengiringi nyaris di semua bagian film. Tak hanya itu para personel RATM pun saling berbagi pemikiran mereka tentang rasisme dan betapa pentingnya hal tersebut dalam etos seni mereka, seperti yang dikatakan oleh Tim Commerford “Menulis lagu yang berisi tentang apa yang terjadi secara sosial dan politik tulisan pilihan bagi kami,” kata sang bassist “Itu adalah kewajiban. Saya ingin menggunakan musik sebagai senjata dan mulai menghantam orang-orang tertentu ”lanjutnya

Di adegan lain, Tom Morello turut merespon film tersebut dengan sedikit sentimentil masa lalu mengenai ibunya “Ibu saya (Mary Morello) adalah wanita kulit putih dengan suara radikal,” terang Morello. “Selama tiga dekade dia adalah seorang guru progresif di sekolah menengah konservatif yang menginspirasi siswanya untuk menantang sistem, dalam tindakan dan perkataannya dia selalu mengajarkan bahwa rasisme tidak boleh diabaikan dan harus selalu terhubung”.

Dramer Brad Wilk turut berkomentar secara eksplisit mengenai relasi antara musik dan politik: “Musik nggak akan ada tanpa politik” kata Brad “Saat kami memainkan suatu pertunjukan, jika ada sesuatu yang cocok untuk salah satu anak di antara penonton, (untuk) memulai perubahan itu , proses berpikir untuk diri mereka sendiri, waktu yang paling potensial yang dimiliki Rage Against The Machine sebagai sebuah band ”pungkasnya.

Tahun 2020 kemarin seharusnya menjadi tahun di mana band legendaris melakukan sejumlah tur untuk reuninya. Namun sayang, karena adanya pandemi total tur yang sudah dijadwalkan seketika harus ditunda sampai waktuu yang belum bisa dipastikan.

“Rage Againts the Machine akan dimulai ketika kami yakin waktu itu akan aman bagi penggemar kami yang akan datang” tulis RATM melalui situs resminya.

Teks: Dicki Lukmana

Visual: Arsip dari berbagai sumber

 

Fragmen Keinginan sheisjo di Nomor "OOE"

Solis asal Jakarta Chika Putri Bagaskara dengan moniker sheisjo telah melepas materi lagu berikutnya yang bertajuk “OOE” (15/08). Sedikit berbeda dari tiga single sebelumnya yang memiliki sound acoustic, “OOE” diracik...

Keep Reading

Inspirasi Film di Materi Teranyar Eastcape

Tahun 2021 lalu menjadi tahun yang bisa dibilang ‘manis’ bagi Eastcape karena di tahun tersebut mereka resmi memperkenalkan dirinya di kancah industri musik dengan menelurkan sebuah single dan Split EP...

Keep Reading

Bersama Ello dan Virzha, Dewa19 Rilis Ulang Materi Lama "Still I’m Sure We’ll Love Again"

Dewa19 melanjutkan perilisan karya-karya lama mereka dalam format baru. Kali ini, mereka merilis “Still I’m Sure We’ll Love Again”, sebuah lagu dari album Format Masa Depan yang aslinya menampilkan vokal...

Keep Reading

Langkah Berikutnya dari Bilal Indrajaya

Usai melepas beberapa materi singel dan album mini Purnama (2019) solis dari Jakarta, Bilal Indrajaya, akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan meluncurkan karya terbarunya bertajuk “Saujana” lewat label rekaman legendaris yang kini...

Keep Reading