Pulau Rempah Ini Sangat Diburu oleh Dunia

Siapa sangka seorang penjelajah dan navigator kenamaan asal Italia Cristoforo Colombo alias Christopher Columbus pernah kesasar hingga daratan Amerika – dan kemudian diduga kuat sebagai penemu pertama benua ini – hanya karena ia menebak lokasi yang telah disinggahinya itu adalah tanah Maluku, sebuah pulau yang ia ingin capai sebab ditumbuhi banyak rerempahan kala itu? Secara terbuka, ambisinya itu sempat ia tulis dalam sebuah surat untuk Francis Drake, seorang perwira Inggris di era Ratu Elizabeth I. Pada teks itu, yang belakangan hari dihimpun dalam buku bertahun 1868 The Philippine Islands, Moluccas, Siam, Cambodia, Japan, and China, at the Close of the Sixteenth Century oleh Antonio de Morga, Columbus berujar: “Dengar-dengar kabar di dekat Malaka ada suatu daratan yang bernama Maluku dan Banda, area di mana orang-orang Portugis mendapat cengkeh dan pala.”    

Masuk akal apabila Columbus dan sejumlah besar kekaisaran dari seluruh penjuru ketika itu menghendaki demikian. Sepanjang sejarah masakan berikut model pemrosesannya dirasa-rasa sulit melupakan peran penting rempah-rempah, entah sebagai pengawet atau perisa. Sejak 2.000 tahun lalu bahkan cengkeh, merica, dan pala sudah diburu masyarakat Romawi, Mesir, dan Cina untuk kegunaan serupa. Sedari masa itu pula, tumbuhan beraroma kuat ini sesekali dijadikan obat atau bahan dasar pembalsaman, dan ada kalanya berfungsi mengharumkan udara saat berlangsungnya acara pemakaman. Sementara di India, rempah dibikin bermacam produk parfum dalam skala besar dari periode kuno sampai Abad Pertengahan.

Peta Indonesia

Dari tahun ke tahun, lantaran beragam manfaat yang bisa dihasilkannya itu, permintaan rempah dari seluruh wilayah meningkat pesat. Sayangnya, sebelum abad ke-15 hanya sedikit yang tahu daerah mana rempah bisa diperoleh kecuali di India. Artinya, tuntutan pasar tak sebanding dengan ketersediaan barang. Menyebabkan harganya jauh lebih tinggi ketimbang emas atau logam mulia lainnya ketika itu. 

Pencarian sumber barang langka dan mahal ini terus diupayakan. Orang-orang Eropa pada awal-awal abad ke-16, yang semasa itu lebih butuh rempah jenis cengkeh, berhasil menemukan lokasi baru. Sejarawan dan ahli geografi berkebangsaan Inggris Robin Arthur Donkin, dalam ulasannya berjudul Between east and west; The Moluccas and the traffic in spices up to the arrival of Europeans, mengungkap tempat baru yang dimaksud ialah “cinco Ilhas do Cravo” alias lima pulau kecil: Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan. Semuanya terletak di Maluku. Sebelum ini, untuk dijadikan olahan wine, mereka memasoknya dari pedagang Timur Tengah yang telah menguasai pasar rempah di India, namun kecewa dengan harga yang ditentukan. “Penjelajahan mereka ke daerah Maluku itu diawali catatan Nicolo de ‘Conti – seorang pedagang, penjelajah, dan penulis Italia,” Robin menambahkan dalam bukunya bertahun 2003 itu.

Sejatinya, perburuan sukses Eropa mendarat di Kepulauan Rempah itu telah dibuka para pedagang asing India, Timur Tengah, Persia, Byzantium, dan Cina. India, misalnya, walau telah menjadi pemasok utama saat itu, tapi karena memerlukan rempah tambahan sebagai bahan dasar parfum yang banyak diminati kala itu, mereka mencarinya hingga Maluku. Sejumlah literatur di India, dari klasik sampai Abad Pertengahan, kemudian menjuluki pulau ini dengan Suvarnabhumi atau Negeri Emas. “Rempah jenis kayu cendana, cengkeh serta pala banyak dibawa ke India,” tulis Robin lagi.

Rempah Indonesia

Secara geografis, di Timur Tengah dan Persia sendiri sulit ditemukan rempah yang memang menjadi tumbuhan khas beriklim tropis. Setidaknya sejak abad ke-7 mereka sudah mengenal tumbuhan ini saat berada di Cina untuk berdagang. Dari sini, mereka bertolak langsung ke Maluku. Setelahnya, rempah Maluku diangkut ke dua Negeri Padang Pasir itu. Banyak cendekiawan besar muslim yang kemudian tak sungkan merekam ihwal kesan mereka terhadap Maluku beserta produk rempahnya. Dalam karya magnum opusnya Kit?b al Mas?lik w’al Mam?lik, misalnya, geographer muslim kenamaan Ibn Khordadbeh menuturkan: “Ternyata ada sebuah pulau yang bisa ditumbuhi rempah, yakni Salahit, yang jaraknya sekitar 15 hari perjalanan menuju ke tempat itu.” Di jurnalnya Early Muslim Traders in South-East Asia, seorang sejarawan ulung Timur Tengah dan Asia Tenggara G. R. Tibbetts berpendapat bahwa Salahit yang dialamatkan Ibn Khordadbeh tak lain ialah Maluku.

Di samping India, Cina barangkali jadi salah satu bangsa lain yang paling lama mengenal betapa sedap dan multi fungsinya rempah Maluku. Indikasi paling awal ialah kurang-lebih di abad ke-3 SM alias ketika banyak permintaan cengkeh sebagai penghilang bau mulut dari bangsawan Tionghoa di beberapa wilayah bekas pemerintahan Dinasti Han, dan kemungkinan yang pertama kali membawanya ke Cina adalah orang-orang dari Yueh, suku yang terkenal handal sebagai pelaut dan pembuat kapal pada pertengahan milenium pertama SM. Namun demkian, kata ‘cengkeh’ dan ‘Maluku’ baru disebutkan di buku-buku penulis China, terutama ahli farmakologi, pada abad ke-3.

Terlepas dari sejarah yang mengagumkan itu, di mana Maluku pernah menjadi produsen utama rempah dunia, ironisnya saat ini Indonesia lebih banyak mengimpornya dari luar cuma untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.   

Teks: Emha Asror
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

PARTIKILAS Part II: Favorit Siasat Partikelir di 2021

Ada begitu banyak jumlah karya yang dirilis oleh para musisi di sepanjang tahun 2021. Seperti yang sudah diulas dalam Partikilas Part I, berdasarkan pantauan di email Siasat Partikelir, setiap harinya...

Keep Reading

PARTIKILAS Part I: Mereka yang Berbagi Kabar di 2021

Untuk menyambut tahun 2022 yang penuh harapan, di bawah ini kami menyuguhkan kilas balik yang bersumber dari data dan dokumen internal Siasat Partikelir di sepanjang tahun 2021.

Keep Reading

5 Alasan Kenapa Rock In Celebes 2021 Begitu Penting Untuk Disimak

Memasuki tahun ke-12, Rock In Celebes kian menunjukan taji atas kiprahnya di ranah festival musik. Tahun ini, festival yang berbasis di pulau Sulawesi tersebut kembali menggulirkan agendanya dan akan digelar selama 10...

Keep Reading

Interview: Caccia dan Perjalanannya Menyusuri Musik

Apa rasanya bisa band-bandan dengan pasangan? Caccia mungkin salah satu dari beberapa unit musik yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Duo asal Jakarta ini dimotori oleh sepasang kekasih, Anya (vokal) dan...

Keep Reading