Program Kolaborasi ke Jerman Persembahan Goethe-Institut

Pusat kebudayaan Jerman Goethe-Institut dalam perjalanannya terus memberikan ragam program yang menarik. Setelah sebelumnya mereka mengundang seniman grafis perorangan atau seniman grafis yang berkolaborasi dengan penulis/pengarang/penyusun skenario sebagai satu kelompok untuk mengajukan proposal pembuatan komik baru mengenai gerakan dan aktivis feminis indigenous dari kawasan Selatan Global (Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Oseania). Kini mereka kembali lagi dengan program terbaru yang akan mengajak para seniman untuk berjejaring hingga ke Jerman.

Dalam rencananya, mereka akan mengundang para pelaku yang termasuk di dalamnya adalah pendiri, pemimpin, dan pengelola ruang seni dari Asia, Australia dan Selandia Baru. Adapun yang terlibat tak terbatas apakah mereka dalam pengkaryaannya sudah sangat lama/mapan, atau mereka yang sedang berkembang. Semua bisa untuk mengajukan aplikasi agar dapat mengikuti program “Arts Spaces & Collaborative Projects —Networking Travel to Germany”. Peserta yang terjaring dan terpilih dari hasil kurasi para panitia akan diberi kesempatan besar untuk bekerja sama dengan para pengkarya lainnya yang menggarap ruang seni dan proyek kolaboratif di Jerman. Dengan berfokus pada ruang seni dan proyek kolaboratif, program ini tentu saja berfokus pada ragam ide untuk menciptakan lingkungan tempat setiap peserta dapat tumbuh dan membuka seluruh potensi yang dimiliki, yang pada gilirannya akan memicu pertukaran dan kerja sama jangka panjang di antara para peserta.

Program ini akan mendorong peserta yang terpilih untuk mengeksplorasi tema-tema seputar ruang seni dan karya kolaboratif, seni sebagai ruang sosial dan ruang berpikir, politik kebudayaan, serta bagaimana pandemi COVID-19 mengubah cara seni bekerja dan berfungsi. Goethe-Institut mencari pelamar yang pernah mendirikan/memimpin/mengelola dan/atau sekarang sedang berkiprah di ruang seni. Selain itu, pelamar yang pernah terlibat dan/atau sekarang sedang berkarya dalam proyek artistik kolaboratif juga memenuhi syarat untuk berpartisipasi.

“Kami mengundang pelamar yang sangat berminat mengejar keberlanjutan ruang seni dan proyek artistik lainnya. Lebih lanjut, kami juga membuka kesempatan untuk mereka yang sangat ingin melibatkan diri dalam dialog dan bersedia berempati dengan orang-orang dengan beragam latar belakang dan perspektif,” ujar Dr. Ingo Schöningh, Kepala Bagian Progam Budaya di Goethe-Institut Indonesien.

Pelamar harus mampu berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Inggris dan bertempat tinggal di Indonesia, Kamboja, Malaysia, Myanmar, Thailand, Filipina, Singapura, Vietnam, Australia atau Selandia Baru. Batas waktu pengajuan aplikasi untuk pelamar dari Indonesia adalah tanggal 23 Agustus pukul 23.59 WIB (GMT+ 7). Sehubungan dengan kondisi pandemi saat ini, program akan terbagi ke dalam dua tahap. Pertama, pelamar yang diterima akan mengikuti pertemuan daring melalui platform digital yang diadakan sampai dengan tiga kali seminggu dari tanggal 20 September hingga 10 Oktober 2020. Peserta yang terpilih akan bertemu dan berinteraksi dalam perbincangan daring terpandu dan tur virtual.

Selanjutnya, mereka akan mengikuti kunjungan 7 hari ke Berlin pada musim semi/musim panas 2021, sepanjang dimungkinkan oleh penerbangan internasional. Goethe-Institut akan menanggung biaya perjalanan, termasuk akomodasi dan makanan di Jerman, dan akan membantu peserta dalam pengurusan visa. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi goethe.de/indonesia/networkingtravel.

Tertarik? Untuk mengikuti bisa cek syarat di bawah.

Harap mengirim aplikasi berikut ke maya.maya@goethe.de:
– Sebuah tautan untuk mengunduh video berdurasi maks. 3 menit mengenai Anda, kerja Anda, dan ruang/proyek (besar file maks. 50 MB).
– Formulir aplikasi yang telah diisi lengkap dalam bahasa Inggris. Silakan unduh formulir di situs resmi Goethe-Institut Indonesien.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Goethe-Institut Indonesien

My Bloody Valentine Kritik Spotify Soal Lirik yang Salah

Di antara kalian pasti ada dong yang pernah memutar lagu di Spotify sambil menikmati fitur lirik yang disediakan. Lewat fitur ini, para pengguna Spotify bisa sambil bernyanyi sesuka hati. Tapi,...

Keep Reading

Patahan Imajinasi Masa Kecil di Nomor Terbaru Latter Smil

Latter Smil, duo asal kota Palu yang dihuni oleh Dian dan Eko, dipermulaan tahun 2022 ini kembali melepas karya teranyarnya bertajuk “Kalila”. Lewat single ini Latter Smil mencoba untuk memberikan...

Keep Reading

Perjalanan Skena Musik Ambarawa dalam Album Kompilasi They Hate Us

Terlihat dalam beberapa tahun terakhir, produksi album kompilasi skena musik lokal mulai kembali marak. Tercatat ada beberapa deretan kompilasi yang terbit pada setahun-dua tahun ke belakang, seperti Bikin Kompilasi: Bless...

Keep Reading

Dua Album Milik Semiotika Akhirnya Dilepas Secara Digital

Usai merilis album penuh bertajuk Eulogi, unit post-rock asal Jambi, Semiotika akhirnya merilis dua album terdahulunya Ruang (2015) dan album mini Gelombang Darat (2018) ke dalam format digital. Sementara album...

Keep Reading