Presentasi Karya dari Kifu di Gubuak Kopi

Bila beberapa waktu kemarin kami mengabarkan perihal rilisnya sebuah laman khusus untuk melihat presentasi karya dari Theo Nugraha beserta para kolaborator yang terlibat di dalamnya. Kini hadir profil dari salah satu orang yang juga turut terlibat dalam presentasi tersebut, dia adalah Taufiqurahman atau yang akrab dipanggil Kifu. Dirinya merupakan seniman sekaligus desainer grafis yang berasal dari Palu, Sulawesi Tengah, dan juga salah satu dari penggagas hadirnya Forum Sudutpandang, yang merupakan sebuah kolektif non-profit yang diprakarsai serta diurus oleh beberapa pegiat seni di kota Palu. Sejak 2018, ia bergabung di MILISIFILEM Collective dan 69 Performance Club. Beberapa karyanya dan pameran yang pernah ia ikuti, diantaranya “Hello Red: Photography Series” di ICAD X: Indonesian Contemporary Art & Design, 2019. “Proyek Bunga Matahari” Pekan Seni Media: Local Genius, 2018. “TYPING” On Stage: Imagining Objects, 69 Performance Club, GoetheHaus Jakarta, 2019. “Soundscape Project: Bunyi di Zona Terlarang” Recollecting the Unfinished, 2020. “Self Portrait & Distancing”, Milisifilem, 2020. “Montage: Found Objects”, Milisifilem, 2020. “Domestic Formation”, 69 Performance Club, 2020.

Dalam presentasi karyanya tersebut, dirinya membawa judul “Basuo jo babagi” yang dalam bahasa Minangkabau memiliki arti “bertemu lalu berbagi”. Proyek ini dibuar oleh dirinya dalam rangkaian Lapuak-lapuak Dikajangi (LLD) #3. Yang mana ini adalah sebuah gelaran atas  studi nilai-nilai tradisi yang dicanangkan oleh Komunitas Gubuak Kopi melalui proyek seni berbasis media. Pada tahun ini kuratorial LLD #3 mengundang para seniman merespon fenomena “silaturahmi” baik dalam konteks tradisional maupun di situasi normal baru. Para seniman melakukan riset dan residensi singkat secara daring, diskusi terarah, kolaborasi, dan presentasi karya.

Dalam merespon fenomena yang disuguhkan, Kifu mempelajarinya secara performatif bersama sejumlah anak muda Solok pengguna media sosial. Mereka berkumpul dalam sebuah grup media sosial yang difasilitasi Komunitas Gubuak Kopi. Para anggota grup mengagendakan sebuah silaturahmi “daring” sederhana. Mereka diminta menyeleksi benda di sekitarnya, dan membawakannya dalam bentuk foto secara “japri” kepada Kifu sebagai buah silaturahmi. Proses ini berlangsung selama satu minggu. Kifu menerima “benda” itu, kemudian mengintervensi dan mereproduksinya menjadi sebuah imajinasi benda baru yang “entah”. Dan kini ia bagikan kembali ke publik media sosial.

Karya-karya ini akan dipresentasikan melalui feed instagram @gubuakkopi secara berkala dalam rentang 19-26 September 2020, selain itu bingkaian artisitik proyek ini juga disajikan dalam halaman gubuakkopi.id/basuojobabagi. Halaman ini sudah bisa diakses sejak 19 September 2020, pukul 20.00 WIB.

 “Dalam tradisi Minangkabau, beragam perlakuan khusus diberlakukan dalam merayakan silaturahmi. Kita mengenal penamaan-penamaan spesial untuk aktivitas ini, seperti manjalang mintuo (mengunjungi mertua), manjalang induak bako (mengunjungi keluarga ayah), pulang basamo (mudik), dan lainnya. Semua ditata sebagai bahasa untuk tradisi menunjukan martabatnya. Mulai dari penetapan hari khusus, simbol makanan, pakaian, dan seterusnya. Simulasi sederhana ruang silaturahmi “Basuo jo Babagi”, mengajak kita melihat kembali serta mengalami secara singkat, berspekulasi tentang bagaimana praktik tradisi itu muncul, beradaptasi pada situasi zaman dan kesadaran pelakunya. Tentang “benda-benda” yang menjadi sakral dengan perlakuan khusus terhadapnya.” Tutur Albert Rahman Putra selaku kurator.

“Menarik mengundang teman-teman seniman muda ini, yang dalam catatan kami memiliki prespektif menarik dalam merayakan dan merespon kehadiran teknologi ini dalam bingkaian kesenian, merespon nilai-nilai tradisi, serta menghadirkan bahasa-bahasa artisitik yang lebih segar dalam konteks publik Sumatera Barat. LLD #3 juga berupaya melihat bagaimana “normal baru” dan platform teknologi komunikasi, mampu mengakomodir pertukuaran pengetahuan serta kebutuhan artisik para seniman.” Tambah Albert.

Selain Kifu dan Theo Nugraha dalam proyek seni Lapuak-lapuak Dikajangi #3 terdapat 4 seniman lainnya yang juga segera mempresentasikan karyanya, antara lain: Siska Aprisia (penari, koregrafer, dan pegiat budaya asal Pariaman dan kini berdomisili di Yogyakarta) Avant Garde Dewa Gugat a.k.a AGDG (komposer dan sound artist asal Padangpanjang) Robby Ocktavian (pegiat budaya dan seniman performans asal Samarinda) dan Utara Irenza (penari dan aktor asal Agam). LLD #3 sudah berlangsung sejak 5 September 2020 dan para partisipan secara bergantian mempresentasikan karyanya hingga 26 September nanti.

 

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Kifu

Bersama Ello dan Virzha, Dewa19 Rilis Ulang Materi Lama "Still I’m Sure We’ll Love Again"

Dewa19 melanjutkan perilisan karya-karya lama mereka dalam format baru. Kali ini, mereka merilis “Still I’m Sure We’ll Love Again”, sebuah lagu dari album Format Masa Depan yang aslinya menampilkan vokal...

Keep Reading

Langkah Berikutnya dari Bilal Indrajaya

Usai melepas beberapa materi singel dan album mini Purnama (2019) solis dari Jakarta, Bilal Indrajaya, akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan meluncurkan karya terbarunya bertajuk “Saujana” lewat label rekaman legendaris yang kini...

Keep Reading

Themilo Rangkum Perjalanannya di Nomor "Flow"

Dua dekade berlalu dan Themilo tetap berjalan dengan syahdu. Pada akhir Juli 2022, unit shoegaze dari Bandung yang berdiri sejak 1996 ini baru saja merilis single terbaru mereka berjudul “Flow”....

Keep Reading

Adaptasi Kehidupan Digital di Koleksi Terbaru Monstore

Jenama pakaian dan gaya hidup Monstore mengumumkan koleksi terbaru mereka dengan nama “New Fictional Temptation”. Koleksi ini diluncurkan sebagai rilisan ‘solo’; non-kolaborasi dari Monstore setelah berbulan-bulan lebih fokus bekerja sama...

Keep Reading