Powerslaves Tuangkan Kisah 30 Tahun Bermusik Melalui Sebuah Buku

Setelah sebelumnya aktif mengarsipkan karya mereka dalam bentuk digital, Powerslaves meluncurkan sebuah buku biografi dengan tajuk Find Our Love Again: 30 Tahun Rekam Jejak Powerslaves. Buku tersebut ditulis sebagai tanda 30 tahun karier bermusik unit rok asal Semarang yang berulang tahun 19 April lalu ini.

Buku setebal 221 halaman ini memaparkan banyak kisah seru yang belum pernah diungkap. Pembetot bas sekaligus pemimpin Powerslaves, Anwar Fatahillah, misalnya, mengungkap sisi lain dari kisah jatuh bangunnya band ini usai ditinggal para personelnya satu persatu. Sementara itu, Heydi Ibrahim (vokalis) menuturkan masa-masa gelap kehidupannya saat terjerumus ke dalam dunia hitam narkoba. Dia juga membuat “pengakuan dosa” soal keputusannya menjalani karier solo di saat Powerslaves berada di puncak popularitas.

   Baca Juga: Powerslaves Tampil Lebih Energik dalam Versi Baru “Jika Kau Mengerti Aku”

Di sisi lain, Wiwiex Soedarno mengisahkan secara detail penyebab dirinya dipecat dari band usai album Metal Cartoon diluncurkan pada 1996. Pembuatan video klip “Sisa” pun berjalan dalam suasana acuh tak acuh. Wiwiex dan empat personel Powerslaves lainnya tidak saling tegur sapa.

“Ya, sang kibordis datang ke lokasi syuting hanya untuk menunaikan kewajibannya sebagai musisi profesional. Setelah itu, pergi!” tulis keterangan pers yang mereka kirimkan.

Hampir semua yang pernah terlibat dalam proses berkarya Powerslaves masuk dalam buku ini. Penggebuk drum Agung ‘Gimbal’ Yudha, dua
gitaris additional  saat ini, Robbie Rahman dan Ambang Christ, Andry Muhammad yang memilih untuk memperdalam agama Islam, gitaris DD Crow yang berkonflik dengan Anwar Fatahillah, hingga Acho Jibrani yang terguncang secara mental karena peristiwa pahitnya dipecat dari Powerslaves pun menjadi bagian dari Find Our Love Again.

Buku ini ditulis oleh jurnalis musik sekaligus founder Indonesia Rock News Media, Riki Noviana. Ia mewawancarai tiga perintis Powerslaves, Anwar Fatahillah, Heydi Ibrahim, dan Wiwix Soedarno, secara intensif selama satu tahun setengah, sejak Februari tahun lalu hingga Agustus tahun ini.

“Ini buku tentang kejujuran, yang saya tulis dengan ‘pena’ dan cinta. Buku ini tidak dibuat dengan konsep ‘rekam-tulis-simpan’ dan setelah
itu saya ikut menyebar kabar bohong. Butuh riset mendalam dan cover both side serta revisi belasan bahkan puluhan kali untuk menjadikannya seperti sekarang. Sejak awal, saya ingin menulis history, bukan sekadar his story atau malahan terjebak dalam kata sorry. Buku ini hadir menuturkan kisah…apa adanya,” tutur Riki Noviana dalam keterangan yang sama.

Teks: Abyan Nabilio
Visual: Arsip dari Powerslaves

Cerita Iblis dan Manusia di Album Kedua Parakuat

Ranah musik elektronik di Indonesia selalu menarik untuk di simak, terlebih geliatnya di arus pinggir. Banyak seniman bunyi muncul dengan coraknya sendiri dan membawa hasil eksperimentasinya masing-masing. Ranah ini terus...

Keep Reading

The Jansen Persembahkan Album Ketiga

Usai melepas nomor “Mereguk Anti Depresan Lagi” yang cukup mencuri perhatian, The Jansen, trio punk rock dari kota hujan Bogor akhirnya meluncurkan album ketiganya bertajuk “Banal Semakin Binal” (29/7) dalam...

Keep Reading

EP Who Suffer?, Jalan Keluar Defy dari Kekacauan Pandemi

Grup metallic hardcore dari kota Palu, Defy, baru-baru ini telah meluncurkan sebuah album mini bertajuk Who Suffer?. Perilisan album ini juga sekaligus sebagai tanda berjalannya kerja sama antara Defy dan...

Keep Reading

Menuju Album Kedua, Modjorido Rilis Nomor "Bebal"

Usai memperkenalkan album perdana self-tittled di tahun 2021 lalu, grup musik dari Bali, Modjorido akhirnya kembali merilis karya teranyar. Kali ini unit yang dihuni oleh Rico Mahesi (Vocal & Guitar),...

Keep Reading