Geliat jual beli rilisan fisik tampaknya masih terjadi dengan baik-baik saja di Indonesia. Walaupun, fakta mengenaskan gulung tikarnya sejumlah jaringan toko musik besar terjadi di banyak tempat plus periode-periode spesial seperti Records Store Day dan Cassette Store Day yang digadang-gadang mampu mengembalikan kejayaan rilisan fisik di Indonesia terlihat meredup. Yang menyelematkan: Toko musik level grass root dengan skala kecil sampai menengah yang punya pangsa pasarnya masing-masing.

Salah satu kota yang punya denyut kencang adalah Jogjakarta. Di kota itu, masih bisa ditemui beberapa toko musik online dan offline yang melayani para pemburu rilisan fisik.

Sebut saja misalnya, Toko Musik Luwes yang nyempil di Kampung Krapyak, Otakotor Records Store yang membuka toko di ruang kost, maupun Journey Coffee & Records yang memadukan konsep cafe dengan toko musik. Memang dibutuhkan kemauan yang besar untuk menelusuri keberadaan toko musik ini. Berangkat dari hal tersebut akhirnya dinisiasi sebuah kolektif pemilik toko musik dan records label, Jogja Records Store Club (JRSC) yang resmi lahir pada 10 April 2015.

Beberapa program JRSC diantaranya melakukan kegiatan lapak bersama, workshop, diskusi, menggelar event Records Store Day dan Cassette Store Day. Salah satu program unik mereka lainnya adalah mencetak peta toko musik di Yogyakarta sehingga para kolektor rilisan fisik bisa mengetahui di mana letak “surga tersembunyi” tersebut. Peta tersebut terinspirasi dari proyek Yogyakarta Contemporary Art Map, yang berupa peta dengan gambaran lokasi galeri seni alternatif di Yogyakarta yang digagas oleh Kedai Kebun Forum beberapa tahun yang lalu.

Agung Kurniawan, seniman yang juga salah satu pemilik galeri seni Kedai Kebun Forum, mempunyai ide untuk membuat sebuah pop up market berwujud toko musik. Dalam pelaksanaannya, Agung Leak, begitu ia akrab dipanggil, kemudian menggandeng JRSC untuk mewujudkan hal tersebut. Pasar tiban –pop up market dalam Bahasa Jawa— yang dimulai pertama kali bulan Desember 2016 ini dinamakan Pop Up Podomoro. Podomoro sendiri berasal dari nama sebuah toko musik legendaris yang terletak di kawasan Malioboro yang membuka usahanya sejak tahun 1969 sampai 1996.

Berbeda dari lapakan musik pada umumnya, dengan lokasi di sebuah galeri seni membuat Pop Up Podomoro memberikan porsi yang lebih pada sisi artistiknya. Tidak hanya sekedar berjualan, konsep desain tata letak dan artwork yang dipakai membuatnya serasa berada di dalam sebuah pameran seni.

Untuk menegaskan konsep berpameran di galeri seni, digagas juga pojok pameran yang setiap tahunnya berbeda serta dipandu oleh beberapa pemilik lapak yang bertuga layaknya seorang kurator. Edisi pertama dipilih tema Perpustakaan Hip Hop Nusantara yang diampu oleh Triaman Sambrenk. Selain itu ada pameran koleksi Indonesian Celtic Punk Movement Exhibition yang diemban oleh Jr Miko dari WLRV Records dan kaset bootleg oleh Indra Menus. Dirilis pula zine yang memuat tulisan kuratorial mengenai pameran tersebut.

Tahun kedua yang bertema Seboeah Perdjalanan memuat dua pameran bertemakan perjalanan rilisan dua band lawas Jogja yaitu Death Vomit oleh Ucok Jesuiscidal Records dan Shaggydog oleh Indra Menus serta kumpulan kaset genre dagelan oleh Triaman Sambrenk dan Didit dari Rilisan Fisik.

Dengan tema Dulu Hingga Kini, edisi tahun ketiga ini Pop Up Podomoro menggandeng Lokananta Records untuk memamerkan arsip aktivitas produksi piringan hitam dan kaset yang berawal dari tahun 1956 hingga sekarang.

Tidak hanya menampilkan pameran saja, Podomoro juga bekerjasama dengan beberapa seniman untuk pengelolaan display. Prihatmoko Moki adalah salah satu seniman langganan yang bertugas mengarahkan display ruang pameran supaya terlihat nyeni selain juga menggambar artwork untuk flyer acara. Perlakuan yang model begini, mendorong batas kemampuan mendisplay masing-masing pelapak. Dari tadinya yang hanya berpikir tentang bagaimana caranya menjual barang saja, kini mau tidak mau perlu memikirkan pengemasan display barang.

Pada perkembangan selanjutnya tercetus beberapa ide lain untuk mengembangkan konsep Pop Up Podomoro ini menjadi lebih unik. Salah satunya adalah stand pembuatan lagu di edisi Podomoro tahun 2016. Beberapa musisi kugiran Jogjakarta diantaranya Leliani Hermiasih dari Frau, Irfan Rizkidarajat dari Jalan Pulang, Bagus Dwi Danto dari Sisir Tanah, Fafa dari Agoni serta Ananda Badudu dari Banda Neira diajak untuk mengisi stand pembuatan lagu.

Di stand ini semua orang bisa memesan lagu sesuai dengan tema yang diinginkan untuk kemudian direkam menggunakan ponsel pemesan untuk digunakan dalam hal non komersial. Menarik melihat para musisi yang terbiasa berlama-lama memeras pikiran mereka untuk membuat sebuah lagu, tapi di sini dalam waktu yang sesingkat mungkin mereka harus membuat lagu pesanan orang.

Edisi pertama Podomoro melangsungkan beberapa workshop yang berhubungan dengan rilisan semisal membersihkan rilisan musik baik vinyl, cd maupun kaset serta workshop foto rilisan fisik menggunakan ponsel. Digelar juga diskusi tentang menangani band yang sedang tur bersama kolektif YK Booking dan perbincangan mengenai records label bersama Samstrong Records.

Edisi kedua Podomoro lebih meluaskan ruang gerak mereka dengan melibatkan komunitas lain yang bersinggungan dengan musik. Folksy, sebuah majalah yang mengedepankan kreativitas, budaya DIY (Do It Yourself), dan kerajinan buatan tangan menggelar workshop membuat dan mewarnai pot kaktus serta sharing session tentang mengorganisir event independen. Komunitas fotografi panggung musik dan seni, Jogja Stage, membuat lokakarya mengenai teknis fotografi panggung pertunjukan. Video Battle merilis beberapa video tutorial yang tergabung dalam kompilasi Cara Membuat Video Tanpa Kamera.

Dua lapak lain yang menarik di edisi kedua adalah membuat puisi seketika dimana pemesan memilih tema lalu kemudian diketik langsung memakai mesin ketik. Selain itu komunitas Goyang Ketombe membuka stand sketch wajah tidak mirip yang tidak kalah serunya. Edisi 2018 dengan pojok literasi dari Indisczine Partij dan Warning Magz serta jasa reparasi kaset rusak nampaknya akan menjadi stand unik lain yang ditawarkan Pop Up Podomoro.

Selain berkumpulnya toko musik yang berjualan menjadi satu, hal lain yang menjadi nilai lebih Pop Up Podomoro adalah menyediakan ruang untuk sebuah band baru dalam memamerkan materi mereka dalam bentuk konser tunggal. Podomoro tahun perdana dimulai dengan konser tunggal duo drummer dan gitaris unit Stoner/Doom baru, Temaram, yang sekaligus meluncurkan album perdananya. Tahun kedua Podomoro kembali memberikan jalan untuk band Indierock, Riverstone, untuk konser dan merilis album perdana dengan highlight dimana mereka membawa dua motor RX King dan menyalakannya di atas panggung.

Pop Up Podomoro tahun 2018, baru saja dibuka tanggal 10 Desember lalu dan akan berlangsung sampai 28 Desember 2018 nanti bertempat di galeri seni Kedai Kebun Forum. Upaya yang dilakukan untuk melanggengkan jual beli rilisan fisik ini, unik dan belum ada di kota-kota lain di Indonesia. Jaringan yang dihidupkan lewat kolaborasi beberapa pihak, benar-benar memberi contoh bahwa gandengan tangan membawa guna lebih untuk sebuah ide melestarikan keberadaan rekaman fisik dan para penjualnya. Jangan sampai tidak datang, ya! (*)

Teks: Indra Menus
Foto: Andreas Leksana, kecuali Sisir Tanah dan Frau oleh Jogja Records Store Club