Polemik Penggarapan Film Tentang Chris Cornell

Pertengahan tahun ini tersiar kabar bahwa pengerjaan film biografi mendiang Chris Cornell sedang dalam pengerjaan. Film yang berjudul “Black Day” tersebut akan mengangkat cerita hari hari terakhir Chris Cornell sebelum meninggal. Namun baru-baru ini, melansir dari Pitchfork, dikabarkan pula bahwa pihak ahli waris sang mendiang tidak menyetujui dan menyatakan film tersebut tidak sah. Pasalnya selama ini belum ada komunikasi antara pihak produksi film dan pihak Cornell. 

Meskipun demikian, produksi film tersebut masih terus  berjalan dan akan mulai syuting di Los Angeles pada September  bulan depan. Sejauh ini masih sedikit informasi yang tersedia tentang penggarapan film ini, namun yang jelas film biografi ini digarap oleh perusahaan Road Rage Films LLC dan Amerifilms LLC, yang dijalankan oleh aktor cum musisi Johnny Holiday (Kid Memphis). Meskipun perjalanan karir bermusik Chris Cornell terbilang panjang, membentuk Temple of The Dog, bergabung dengan Soundgarden,  membuat projek musik bersama para eksponen Rage Againt The Machine  (Tom Morello, Tim Commerford, dan Brad Wilk) dalam Audioslave, dan kemudian  memilih bersolo karir, namun dalam film “Black Day” yang akan menjadi fokus ceritanya adalah hari-hari terakhir menjelang kematiannya pada 2017, 3 tahun silam.  

Chris Cornell merupakan musisi besar sekaligus salah satu sosok ikonik skena musik Grunge. Dengan vokal ber-oktav tinggi, sejumlah karya monumental pun lahir. Di senjakala abad 20, bersama Soundgarden dengan dibantu oleh label rekaman independen asal Seattle, Sub Pop, ia menghasilkan sejumlah karya yang mampu mempengaruhi iklim musik rock dunia. Memasuki abad 21, bersama Audioslave setidaknya ia menghasilkan 3 album, dengan hits lagu “Like a Stone” yang sangat memorable. Di thaun 2007 akhirnya ia memutuskan untuk bersolo karir dan menghasilkan sejumlah album dan single lagu yang menuai banyak pujian dari para kritikus musik dan mentereng di pelbagai chart musik internasional. Selain dikenal sebagai musisi ia pun kerap terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial. Secara emosional, kita bisa merasakan kepedulian sosial sosok Chris Cornell pada single lagu terakhirnya yang berjudul “The Promise”. Dalam lagu tersebut Cornell menuangkan kegelisahannya tentang Genosida yang terjadi di Armenia. Lagu itu dirilis secara amal untuk membantu kegiatan International Rescue Committee.

Dengan segudang karya dan kontribusinya pada perkembangan dunia musik dunia, maka tak aneh jika kemudian satu tahun setelah kepergiannya seorang seniman pahat bernama Nick Marras membuatkan patung sebagai tanda penghormatannya kepada Chris Cornell. Patung tersebut berdiri di Museum of Pop Culture (MoPOP) di Seattle, Amerika. Namun baru-baru ini tersiar kabar bahwa patung tersebut telah dirusak oleh orang yang tak bertanggung jawab. Istri mendiang, Vicky Cornell sangat  geram sekaligus sedih atas perusakan tersebut. Melalui akun instragamnya ia menulis:

 “Anak-anak saya dan saya sangat sedih mengetahui perusakan patung Chris di Museum Budaya Pop di Seattle,” tulisnya. 

“Patung itu bukan hanya sebuah karya seni tetapi juga penghargaan untuk Chris, warisan musiknya yang tak tertandingi dan semua yang dia perjuangkan. Itu mewakili Chris, yang dicintai tidak hanya di Seattle, tetapi juga di seluruh dunia. ”

“Patung itu akan dipulihkan. Kebencian tidak akan menang. Chris adalah putra Seattle selamanya…” pungkas Vicky.

 

View this post on Instagram

 

My children and I were heartbroken to learn of the vandalization of Chris’s statue at the Museum of Pop Culture in Seattle. The statue is not only art, but a tribute to Chris, his incomparable musical legacy and everything that he stood for. It represents Chris, who is beloved not only in Seattle, but worldwide. In the face of this hate and destruction ( and I want to be clear, this was not in the course of riots or protests. It was a threat that was carried out by a single disturbed individual at 6am in an attempt to besmirch Chris’s legacy). Im so grateful to the fans who stood up to support and showed such immense love- after hearing about it, they made their way there in the middle of the night with supplies and tried to clean it up. When we were told about it today I cried, my kids cried-your gesture was a reminder of how much more good there is out there and how you the fans show up for our beloved Chris. No matter what, ‘you’re never far away… ‘ thank you. The statue will be restored. Hate will not win. CHRIS IS SEATTLE’S SON forever… Thank you Seattle and @mopopseattle #lovealwayswins #chriscornell Forever ?

A post shared by Vicky Cornell (@vickycornell) on

Chris Cornel meninggal di usia 52 tahun, pada 18 Mei 2017. Cornell memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Penyebabnya diduga ia mengalami depresi. Agar tidak terulang lagi kejadian seperti itu, putri sang mendiang, Lily Cornell Silver, sejak kematian ayahnya ia giat berkampanye tentang kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Baru-baru ini ia mengabarkan akan membuat sebuah siaran podcast tentang agendanya tersebut. Dalam podcastnya tersebut ia menggunakan platform Instagram agar lebih mudah menjangkau orang lebih banyak. 

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip Vicky Cornell

Tentang Syukur dan Hidup yang Tak Tertebak di Lagu Terbaru Alahad

Beranjak menjadi solis, Alahad, moniker dari Billy Saleh yang sebelumnya dikenal sebagai gitaris dari band rock-alternative Polka Wars akhirnya kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia melepas sebuah nomor tunggal teranyar...

Keep Reading

Tambah Line Up, Hammersonic Siap Hadirkan 53 Band Metal dan Rock Dunia!

Setelah mengalami beberapa kali penundaan, festival musik metal raksasa Hammersonic akhirnya dipastikan siap digelar pada awal tahun 2023. Sebelumnya salah satu headliner yakni Slipknot telah mengumumkan konfirmasi lewat unggahan twitter...

Keep Reading

Kolaborasi Selanjutnya Antara Yellow Claw dan Weird Genius

Duo Belanda Yellow Claw kembali berkolaborasi dengan Weird Genius mengusung lagu baru bertajuk ‘Lonely’ bersama finalis Indonesian Idol Novia Bachmid. Weird Genius dan Yellow Claw sebelumnya pernah berkolaborasi di lagu...

Keep Reading

Reruntuhan Akhir Dunia di Album Keempat Extreme Decay

Usai melepas beberapa materi pemanasan menuju album barunya, unit Grindcore kota Malang, Extreme Decay, akhirnya secara resmi melepas album keempatnya pada 29 April 2022 lalu yang diberi tajuk Downfall Of...

Keep Reading