Kota & Ingatan, yang dibentuk oleh Indradi Yogatama (gitar), Addie Setyawan (bass), Maliq Adam (gitar), Aji Prasetyo (drum) dan Aditya Prasanda (pelafal teks) ini, mungkin tidak terlalu sering terdengar namanya di panggung musik Jogjakarta. Intensitas naik panggung yang jarang serta setumpuk aktivitas yang menggelantung di pundak masing-masing personilnya membuat band yang dibentuk tahun 2016 ini terdengar samar-samar.

Di tahun mereka terbentuk, ada satu panggung yang meninggalkan banyak kesan terhadap band ini, Artjog 20167. Waktu itu, mereka menjadi sorotan publik ketika dengan lantang menyerukan protes atas ‘penyusupan’ PT. Freeport Indonesia sebagai salah satu sponsor acara tersebut.

“Kami merasa diberi kesempatan untuk bermain di sana, tapi melihat sesuatu yang mengganjal di hati dengan kehadiran Freeport sebagai sponsor, yang sebelumnya kami tidak tahu. Kami merasa banyak teman yang membuat karya tentang kemanusiaan tapi tidak sadar bahwa Freeport terlibat,” ungkap Aditya mengenang peristiwa itu.

Aditya kemudian menambahkan, “Tapi, kami juga sadar bahwa Artjog itu sebuah pasar seni yang bebas dalam mendatangkan sponsor dari manapun juga. Di sisi lain isu di Papua kan sedang mengeras sekali, kami pikir itu satu kesempatan bagi kami untuk ngomongin tentang Papua di acara itu.”

Secara khusus, Aditya terlihat sangat antusias ketika membahas tentang Papua. Ia menceritakan hal yang terjadi di Papua saat ini, yang didapatkannya berdasarkan info dari Filep Karma, seorang warga sipil yang pernah dipenjara dan masih konsisten memperjuangkan isu-isu di sekelilingnya.

Tidak hanya tentang Papua, Kota & Ingatan juga secara tidak langsung ikut andil menolak pertambangan pasir besi yang merebut lahan hidup warga Kulon Progo dengan bermain di acara ulang tahun Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo (PPLP-KP). Begitu juga keterlibatan mereka dalam menolak cara tidak manusiawi yang dilakukan pemerintah dalam membangun bandara baru, New Yogyakarta International Airport.

Di panggung, ketika dirasa cocok dan kesempatannya relevan, Kota & Ingatan tidak segan mengutarakan hal yang menurut mereka penting untuk disampaikan ke publik. “Kalo kami melihat penontonnya tidak perlu ngomong isu penting yang dalem, ya masih bisa menyesuaikan lah. Beda dengan kejadian di acara Artjog 2016 lalu, kami lebih responsif karena ada naluri geram dan gatel gitu,” jelas Aditya lagi.

Tanggal 16 November 2018 lalu, Kota & Ingatan merilis album penuh pertama mereka yang diberi judul Kurun. Album yang berisi sepuluh lagu ini dikerjakan hampir selama tiga tahun dan dianggap mewakili catatan rangkuman peristiwa sosial yang terjadi di Jogjakarta selama kurun waktu 2016-2018.

Isu mengenai kekerasan struktural berupa benturan antar masyarakat, kasus penyelewengan HAM serta penghilangan paksa juga kisah warga di kawasan konflik agraria terlontar di beberapa gumaman lirik Aditya. Kurun bercerita tentang era post truth di mana banjir informasi dari media membuat manusia tidak bisa membedakan mana sebuah kebohongan hoax maupun mana opini dan mana yang fakta. Candu agama yang membuat rasa kemanusiaan dipinggirkan pun tak luput dari torehan lirik Aditya.

Album Kurun juga membahas tentang pemukiman warga yang kesulitan air di sekitar lokasi pembangunan hotel yang begitu masif di kota mereka. Di ranah kehidupan manusia secara personal, album ini juga tidak luput menceritakan kisah-kisah khas kawasan urban yang dekat dengan tendensi bunuh diri dan harapan yang kandas ditelan persaingan. Sesuatu yang sedihnya, bisa dibilang khas dan tidak berjarak dari kehidupan banyak orang muda urban.

Secara umum, ada makna yang coba diberikan dalam kegiatan bermusik Kota & Ingatan. Ada konsep besar yang diusung, bahwa ini adalah sebuah usaha untuk mendokumentasikan manusia dengan segala problema kehidupannya. Karena inipun, label sebagai band politis mau tidak mau tertempel di jidat mereka.

Cap itu, dengan sendirinya menyadarkan mereka bahwa ada resiko yang mengikuti; termasuk sepinya job manggung atau keterarikan media membahas kiprah bermusik mereka.

“Kami sadar musik tidak akan membawa sebuah perubahan besar, tapi musik bisa memberikan pemantik kecil bagi orang untuk membuka sebuah diskusi. Kami menyadari bahwa musik itu adalah sebuah perayaan, sebuah hiburan. Dan di usia sekarang, kami merasa bahwa tidak bisa merayakan sesuatu hanya dengan bermain musik saja. Kami sepakat dan sadar ingin terlibat secara langsung dengan masyarakat, minimal dengan apa yang kami bisa. Kami bisa bermain musik, jadi apa yang dirasa tidak bisa kami sampaikan di pekerjaan, ya disampaikan melalui Kota & Ingatan. Hal yang sangat kecil sekali dan mungkin tidak akan mengubah keadaan menjadi baik-baik saja. Tapi minimal hal itu bisa memantik perbincangan yang lebih dalam,” jelas Aditya menutup perbincangan. (*)

Teks: Indra Menus
Foto: Dok. Kota & Ingatan