Pada 27 Desember 2018, band asal Bandung yang kini berdomisili di Jakarta, Noirless, meluncurkan debut album mereka. Mini album ini berjudul Choices, berisi lima buah lagu.

Sebelumnya band ini sudah merilis dua singl, yaitu Indecisive (2016) dan Better Left Unsaid (2018). Yang disebut belakangan juga masuk ke mini album ini.

Band ini beranggotakan Rama Mazaya (vokal, gitar), Aryandra Kareem (gitar, vokal latar) dan Bayu Arifianto (bas).
Saat ini, Choices sudah tersedia versi digitalnya. “Bentuk fisiknya belum, dalam waktu dekat,” ucap Izy, manajer Noirless sekaligus orang yang bertanggung jawab membuat artwork Choices.

Kami mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan Aryandra dan bercakap-cakap tentang Choices dan bagaimana proses Noirless menyelesaikannya. Selamat membaca.

Bagaimana ceritanya band ini terbentuk di 2015?

Awalnya ketemu sama Rama dan Sandy (mantan drummer Noirless) di gigs gitu, dikenalin teman bernama Aceng. Dulu Rama dan Sandy punya band, namanya apa ya gue lupa. Tapi nggak jalan kalau nggak salah, karena masalah internal. Gue ketika itu lagi nggak punya band. Dan mereka ngajak, langsung gue iyain. Dulu masih nyari bassis. Pas lagi proses pencarian tiba-tiba Sandy cabut karena urusan pekerjaan. “Waduh sisa berdua nih, apa kita bikin duo vokal aja ya Ma kayak 2D?” Tapi Rama nggak mau, dia pengen tetep ngeband. Terus ketemu Bayu, nah Bayu ini temen SMA nya Rama. Dulu selalu ngajak Rama ngeband tapi nggak kesampaian. Baru di Noirless deh kesampaian hingga sekarang.

Mengenai musik kalian yang kuat dengan unsur noise dan alternative rock, itu memang sudah menjadi keinginan diawal atau ketemu pas seiring waktu berjalan?

Konsep sih nggak pernah kita bicarain. Awal-awalnya banget kita semua ngasih draft lagu. Rama punya beberapa dan gue punya beberapa, dan ada benang merahnya. Kira-kira Noirless sekarang itu adalah gabungan dari draft lagu yang Rama dan gue bikin. Terus disempurakan lagi sama kita bareng-bareng-bareng detail dari materinya. Berarti ketemu pas lagi jalan ya? (Tertawa)

Di 2015 terbentuk, di akhir 2018 launching EP, itu waktu yang ideal atau terlalu lama?

Iya nih. Lama banget sih untuk 3 tahun, karena emang Rama kerja sambil menyelesaikan kuliah. Terus gue dan Bayu di ujung semester waktu itu. Kalo nggak selesai kan sayang banget, jadi kita sepakat untuk selesain urusan pribadi dulu baru ngerjain EP.

Bagaimana respon publik atas dua singe kalian?

Demo Single itu tahun 2016 judulnya Indecisive. Responnya lumayan bikin kaget, padahal itu kita rekam seadanya untuk menandakan kalau ada nih band yang namanya Noirless. Sekedar doang dan ternyata alhamdulillah lumayan yang suka itu demo, kalau Better Left Unsaid memang single buat EP kan dan kita bikin selayak mungkin karena memang materi di dalam mini album. Respon publik juga menarik, makin banyak pro dan kontra. (Tertawa)

Proses kreatifnya dalam pembuatan album ini bagaimana? Apakah tak ada hambatan?

Proses kreatif Choices tuh kita lebih intens briefing bareng-bareng, masak materi dari musik, lirik, referensi dan tema makin dikerucutin. Yang menyulitkan adalah kita tidak punya pemain drum.

Loh, terus gimana?

Tapi tenang bisa diakalin dengan berbagai macam cara, if there’s a will there’s a way. Walah pokoknya pas briefing lumayan kelimpungan menangani instrumen drum. Sampai akhirnya rampung dan didiskusikan bareng-bareng, review-review materi dan pemilihan lagu yang cocok dimasukkan ke dalam EP maupun menyimpan materi yang belum cocok, termasuk demo Indecisive yang terpaksa harus disimpan. Baru deh masuk studio buat direkam. Sebenernya kita lumayan selektif sama drummer, waktu Sandy keluar tuh bingung banget. Nyari drummer sih udah cuma sekalinya dapet yang cocok, eh ada aja halangannya. Ya sudah mungkin fengsuinya bertiga untuk saat ini.

Banyak Band yang bagus secara produksi, tapi ketika live berantakan. Bagaimana dengan Noirless mempersiapkan itu?

Kalo masalah live itu masalah jam terbang sih dan bagaimana band itu menangani trouble di panggung. Terus tim produksi sih yang krusial saat band manggung tuh. Noirless sendiri lumayan banyak mengalami trouble di panggung apalagi dengan musik yang loud dan vokal yang whispery. Itu lumayan repot. Lagi kita cari formulanya nih.

Apa sih yang ingin kalian bicarakan di Choices ini?

Temanya simple, menentukan pilihan untuk yg akan datang. Bukan capres tapi ya (Tertawa). Gini, gini berdasarkan kutipan Bayu, “Dalam proses siklus hidup semua hal ditentukan oleh pilihan, di mana kita berada sekarang ditentukan oleh pilihan kita di masa lalu. Dan di mana kita akan berada kelak ditentukan oleh pilihan kita sekarang.” Pokoknya per track menceritakan seputar itu. Nanti kalo fisiknya jadi beli dan baca liriknya ya!

Nah, mana fisiknya?

Fisik bulan ini semoga udah jadi ya. (*)

Teks dan wawancara: Rio Jo Werry
Foto: Rio Darmawan/ Noirless