Nama Phyla muncul ketika Siasat Partikelir mampir ke Lampung. Pada salah satu rangkaian Stand a Chance On the Road Tour 2019 kemarin, mereka menjadi salah satu pengisi acara selain The Panturas dan Murphys Radio.

Mereka masuk radar. Dari beberapa orang yang ditemui di Lampung, nama mereka beredar dari satu mulut ke mulut lainnya. Jadi, ditelusuri saja.

Band ini terbentuk tahun 2016. Nama Phyla diambil dari kata Oecoephylla. Kata latin dari semut rang-rang yang memiliki sifat menjaga dan memelihara. Persis seperti apa yang diinginkan lewat karya-karya mereka.

“Kami awalnya seperti kebanyakan musisi yang bermain dari satu kafe ke kafe lainnya,” kata mereka membuka cerita. “Lalu kami terpikir, kenapa kita nggak buat lagu sendiri aja dan membawakannya, ketimbang bawa lagu orang lain terus.”

Kemudian proses kreasi berlangsung. “Kami ingin jadi musisi karena orang lain bisa dengar dan tahu ada sesuatu yang ingin kami sampaikan lewat karya,” kata mereka. Dari sana, karya sendiri dikembangkan dan jadi sesuatu yang ditawarkan ke publik.

Prosesnya, memang masih belum panjang. Tapi, kegelisahan dari sekitar ditangkap dan diceritakan kembali. Klise, tapi selalu jadi rumus yang berhasil diterapkan dalam berkesenian.

Contohnya di lagu Bekas Tapak yang diciptakan Huda. Proses dari lagu itu terinspirasi dari kegelisahan seorang kakek tunarungu dan netra. Melalui lagu itu kami mengajak orang-orang agar tidak menyia-nyiakan waktunya sebelum yang maha kuasa mengambil apa yang dia punya. Mengajarkan kita sebagai anak muda yg masih sehat jasmani dan rohani untuk terus bangkit untuk terus mengejar dan meraih mimpi kita. Apapun mimpi kita, mungkin tentang cinta, agama, pendidikan, karir dll. Mengajarkan kita bersyukur selagi kita bisa, sebelum apa yg kita punya diambil,” terang mereka.

Phyla telah menghasilkan sebuah mini album. Selain cerita yang sudah disinggung tadi, secara umum, mereka merayakan kisah-kisah hubungan antar manusia. “Banyak materi kami bercerita tentang alam, menghubungkan relasi antara manusia dan manusia, juga antara manusia dan alam. Di lagu Pain kami bercerita tentang kekecewaan manusia satu dengan lainnya. Hujan Malas bercerita tentang manusia dan hujan di pagi hari. Lenggak-Lenggok menceritakan tentang pohon bambu. Mencumbu Rayu Hujan tentang seseorang yang bahagia menanti turunnya hujan,” ujar mereka melanjutkan cerita.

Setelah mini album, kisah dilanjutkan dengan persiapan album penuh. Targetnya tahun 2019 ini. “Rencananya lima lagu yang ada di mini album kemarin ditambah dengan lima lagu baru lagi,” kata mereka. (*) 

Wawancara: Adjust Purwatama
Teks: Felix Dass
Foto: Arsip Phyla