Ulang tahun dan perayaan adalah dua hal yang berkaitan. Entah sejak kapan tradisi ini dimulai, tapi mungkin cara terbaik untuk mensyukuri umur yang bertambah adalah dengan menggelar pesta. Ya, pestanya bisa kecil, bisa besar. Bisa di rumah, atau bahkan di tempat yang tidak umum untuk berpesta. Di museum, misalnya.

Bagaimana rasanya berpesta di museum?

Pada 30 November2019 lalu, diadakan sebuah perayaan ulang tahun dari Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara atau lebih dikenal dengan akronimnya yaitu Museum MACAN. Pesta itu pun digelar di dalam museum yang pertama kali dibuka untuk umum pada 4 November 2017 tersebut.

Lokasi yang biasanya tenang karena mengakomodir para pengunjung yang berniat serius untuk mengapresiasi pajangan seni, seketika dibuat super meriah pada malam itu. Sebenarnya ini bukan kali pertama, karena acara dengan tajuk “Malam Di MACAN” ini merupakan program tahunan dari Museum MACAN.

“Malam di MACAM ini memang acara tahunan di Museum MACAN ini, gelaran ini dibuat dengan tujuan agar banyak orang-orang baru yang datang ke museum dan menghilangkan kesan ‘tinggi’ dari sebuah museum,” ungkap Shesira Said selaku Membership Officer Museum MACAN.

Agar memberikan sentuhan berbeda pada Malam Di MACAN edisi kedua ini, Museum MACAN pun melibatkan Siasat Partikelir dan Studiorama sebagai kolaborator. “Dalam program Malam Di MACAN ini kita memang selalu berusaha untuk memberikan sesuatu yang berbeda, nah sebagai langkah nyatanya, tahun ini pun kami mengajak Studiorama dan Siasat Partikelir, karena kami rasa mereka cukup berpengalaman untuk menggarap event musik seperti ini,” kata Shasira.

Acara tersebut pun tergelar apik pada dua area Museum MACAN: Public Area dan Rooftop Terrace. Para musisi penampil  secara bergantian memberikan sugguhan yang cukup ampuh dalam membuat dansa pengunjung tidak berhenti hingga akhir.

Misalnya saja penampilan dari Mondo Gascaro yang menyajikan lagu-lagu andalannya seperti “Rainy Days on the Sidewalk”, “Dan Bila…”, dan “Sanubari”. Lalu, ada juga Jamie Aditya yang tampil penuh kharisma sembari menyuguhkan musik-musik bernuansa jazz and swing era 1920-an sambil sesekalli membiarkan para musisi pengiringnya berunjuk gigi dengan bermain solo.

Ada juga aksi dari Sunmantra. Trio Jonathan Pardede, Bernardus Fritz, dan Andreas Barlenando tersebut memberikan asupan-asupan dari dosis tinggi substansi psych rock, post techno, hingga electronic fusion yang digerus jadi satu menjadi entitas musikal yang mampu menyihir para hadirin untuk setidaknya bergoyang pelan kalau tidak kesetanan.

Kemudian, Gabber Modus Operandi tentu saja tidak kalah gila. Dengan Melibatkan Siko Setyanto, Resiko Berkelompok, juga Barong PIknik, duo Ican Harem dan Kasimyn ini tidak hanya sekedar menyuguhkan musik, tapi juga sebuah pementasan teatrikal penuh tarian serta sedikit sandiwara.

Seiring dengan bertambahnya usia Museum MACAN, tentu bertambah pula pengharapan orang-orang yang dialamatkan kepadanya. Seshira misalnya, ia berharap agar, “semakin banyak orang yang mau berkunjung ke MACAN, dan menganggap museum ini sebagai tempat yang tidak elite, namun sebagai tempat yang mampu menerima tiap kalangan”.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Mas Jawjaw