Perpustakaan Alternatif dan Upaya Mematahkan Stigma

Konon minat baca (dalam hal ini membaca buku) masyarakat Indonesia masih rendah. Menurut data statistik yang dikeluarkan oleh UNESCO pada tahun 2012 indeks minat baca masyarakat kita berada pada angka babak belur yaitu 0,0001% artinya dari 1000 penduduk hanya 1 warga saja yang memiliki minat untuk membaca buku. Sedangkan hasil penelitian dari PISA (Programme International Student Assesment) yang dipublikasikan oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and  Development) pada tanggal 14 Desember 2012, kemampuan membaca masyarakat Indonesia berada pada ranking bontot yaitu menduduki peringkat ke-64 dari 65 negara yang disurvey.

Hari ini, fenomena mutakhir yang dapat kita lihat dalam geliat dunia literasi di Indonesia adalah semakin menjamurnya perpustakaan alternatif. Yang paling kontras adalah keberadaan perpustakaan jalanan yang nyaris tersebar di setiap penjuru kota. Perpustakaan jalanan ini kerap mengaktivasi ruang-ruang publik, seperti misal trotoar jalan, alun-alun kota, dan tempat keramaian lainnya. Keberadaan mereka mudah ditemui karena pada dasarnya para pegiat ini adalah penjemput bola andal, menjadi kurir ilmu pengetahuan kepada masyarakat yang sebelumnya sulit untuk mengakses buku.

Dengan semakin membiak dan massif-nya perpustakaan alternatif diseluruh Indonesia -dari Sabang sampai Merauke- nyatanya ini adalah sebuah harapan yang harus terus dinyalakan. Salah satu penyebab rendahnya minat baca di negara kita adalah dampak dari sulitnya akses buku yang bisa didapat dan dibaca. Dengan kehadiran para pegiat literasi yang datang dari berbagai lapisan masyarakat melalui perpustakaan alternatif ini agaknya stigma bahwa Indonesia rendah minat baca lambat laun akan terpatahkan.

Perpustakaan alternatif, entah itu Aliansi Perpustakaan Jalanan, TBM (Taman Baca Masyarakat), Pustaka Bergerak, dan lain sebagainya memberikan peluang dan kontribusi yang sangat besar menuju masyarakat Indonesia yang melek-huruf. Mereka tidak hanya bergerak untuk memantik minat baca saja, tetapi juga melakukan aktifitas lain yang cukup inovatif dan menarik untuk menunjang pengembangan SDM  yang tetap beririsan dengan literasi.

Seperti contoh Noken Pustaka yang berbasis di Papua, selain rutin  berkeliling dari daerah satu ke daerah lain mereka pun kerap melakukan Pelatihan Jurnalistik untuk anak-anak di Papua dan pengadaan pojok baca di tempat-tempat publik. Tidak hanya di  Papua  saja, di berbagai belahan daerah pun kegiatan semacam ini  rutin di lakukan, dari mulai diskusi, pelatihan, seminar, dan lain sebagainya. Terlebih tiap Komunitas literasi ataupun TBM memiliki agendanya masing-masing. Seperti misal banyak dari kolektif perpustakaan jalanan yang menerbitkan produk tulisan berupa Zine, buletin, pamplet, maupun bentuk publikasi lainnya.

Meskipun terkadang kegiatan-kegiatan yang dilakukan kurang mendapat respon yang baik dari oknum aparat pemerintah. Semisal dulu beberapa tahun ke belakang kerap terjadi kasus-kasus semacam persekusi ataupun pembubaran lapakan baca teman-teman perpustakaan jalanan hanya karena ada buku yang dianggap ‘berseberangan’. Sangat ironi memang. Seperti misal kejadian yang menimpa kawan-kawan Perpustakaan Jalanan Bandung yang pada tahun 2016 dibubarkan oleh TNI ataupun pun Lapak Baca Asmanadia yang dibubarkan paksa oleh Satpol PP ketika mereka menjajakan buku di alun-alun Kabupaten Cianjur. Belum lagi perampasan buku dan lain sebagainya. Tentu hal demikian seharusnya tak boleh lagi terjadi.

Mengutip Mochtar Loebis, ia pernah mengatakan: “Buku: Senjata yang Kukuh dan Berdaya Hebat untuk Melakukan Serangan maupun Pertahanan terhadap Perubahan Sosial, termasuk Perubahan dalam Nilai-nilai Manusia dan Kemasyarakatan”. Nah kalau akhirnya fenomena pembubaran perpustakaan jalanan ataupun perampasan buku masih terjadi, apakah kita punya ‘pertahanan’ atas perubahan zaman yang terjadi?. Agaknya tidak berlebihan jika kita meng-Amini apa yang ditulis oleh Mochtar Loebis tersebut. Zaman pasti terus berubah dan peran buku akan tetap sama, setidaknya yaitu untuk mempertajam kepekaan hati dan memperluas wawasan.

Selayang pandang tentang minat baca masyarakat kita, pada tahun 2015, PERPUSNAS (Perpustakaan Nasional) membuat kajian tentang minat baca di masyarakat, hasil dari kajian tersebut menunjukan angka 25,1 atau masih rendah. Kajian dilakukan pada 28 kota/kabupaten di 12 provinsi dengan 3.360 responden. Indikator utama kajian ini yaitu frekuensi membaca per minggu, lama membaca per hari, jumlah halaman dibaca per minggu, dan alokasi dana untuk belanja buku per tahun. Hasilnya: 63% membaca 0-2 jam per hari, , 31% membaca 2-4 jam, 4% membaca 4-6 jam, 2% membaca lebih dari 6 jam.

Selain itu dari sisi jumlah halaman dibaca: 62% membaca 0-100 halaman per minggu, 32% membaca 101-500 halaman, 5% membaca 501-1.500 halaman, 1% membaca lebih dari 1.500 halaman. Adapun, frekuensi membaca: 26% 0-2 kali per minggu, 44% 2-4 kali per minggu, 16% 4-6 kali per minggu, 14% lebih dari 6 kali per minggu.

Melihat angka-angka tersebut agaknya persoalan minat baca di Indonesia harus menjadi perkerjaan rumah bersama. Tentu, untuk mematahkan persoalan tersebut harus dengan terobosan-terobosan yang segar dan  tidak monoton, entah itu dari pemerintah ataupun masyarakatnnya itu sendiri. Kemunculan dan peran perpustakaan alternatif hari ini adalah hal yang perlu kita dukung bersama, mereka mampu untuk menciptakan iklim membaca dan ruang belajar yang lebih terbuka dan tentu saja aktivitas membaca menjadi lebih menyenangkan.

Teks dan Visual: Dicki Lukmana

Sebuah Pertanyaan Residensi, Mengapa Jalan-jalan untuk Seniman itu Penting?

Seperti apa sebenarnya peran residensi seni, dan bagaimana dampak sebuah kunjungan sementara terhadap proses kreatif seniman? Karena makin ke sini istilah residensi jadi template untuk sekadar program plesir yang dilakukan...

Keep Reading

Tambah Line Up, Hammersonic Siap Hadirkan 53 Band Metal dan Rock Dunia!

Setelah mengalami beberapa kali penundaan, festival musik metal raksasa Hammersonic akhirnya dipastikan siap digelar pada awal tahun 2023. Sebelumnya salah satu headliner yakni Slipknot telah mengumumkan konfirmasi lewat unggahan twitter...

Keep Reading

Tahun ini, Synchronize Fest Balik Lagi Secara Luring!

Penantian panjang akhirnya terjawab sudah! Synchronize Fest memastikan diri akan digelar secara offline pada 7, 8 , 9 Oktober 2022 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Mengusung tema “Lokal Lebih Vokal”,...

Keep Reading

Mocca Gelar Konser di Metaverse

Di ranah musik, kini istilah blockchain bukan lagi suatu hal yang asing. Sebelumnya, penjualan karya lewat NFT sudah banyak dilakukan oleh musisi, kini konser musik di metaverse pun menjadi salah...

Keep Reading