Perkenalan Kedua dari Latter Smil

Tak terasa udah akhir tahun aja. Walaupun kondisi belum membaik hingga saat ini. Selain dampak negatif, ternyata pandemi ini juga ada dampak positifnya loh. Apa itu? Tentu saja ide-ide kreatif untuk berkarya dong. Salah satunya dari para musisi. Walaupun mereka sangat terdampak akibat tidak bisa dilakukannya kegiatan konser, tapi hal tersebut ternyata tak mematahkan semangat mereka dalam mencipta sebuah karya. Hari demi hari dilalui dengan selalu menyebar kebaikan dari lagu yang mereka punyai. Satu yang ada, datang dari duo asal Palu yang bernama Latter Smil. Mungkin nama ini masih asing bagi para penikmat musik, tapi catatan perjalanan mereka tidak bisa dipandang sebelah mata loh. Salah satu pencapaian yang sudah mereka torehkan adalah tampil di perhelatan Rock In Celebes Festival 2019 dan juga di rangkaian tur Siasat Partikelir di tahun 2018 yang bernama Siasat Calling On The Road edisi Palu. Musik yang mereka usung bisa dibilang pop ceria, seperti filosofi dari nama mereka yang diambil dari bahasa Denmark, yaitu Latter dan Smil yang bila diartikan menjadi Senyum dan Tawa.

Sebagai perkenalan di awal terbentuknya di tahun 2018 silam, mereka pun merilis satu single yang diberi nama “Summery” di tahun yang sama. Membawa warna musik pop ceria yang kemudian diterima dengan baik oleh orang banyak dan masuk ke dalam daftar putar milik Spotify yang bernama Fresh Finds Indonesia. Tahun ini mereka kembali lagi dengan lagu baru yang tak kalah menyenangkannya dari yang pertama. Single kedua yang diberi judul “Bleary” ini masih mengusung musik ceria, tapi dibalut dengan gaya bahasa yang cukup gloomy. Kok bisa ya? Ya bisa saja. Di sini mereka menggambarkan nuansa muram yang sarkas tapi tetap enak dinikmati. Judul yang juga bisa diartikan sebagai kata muram dalam bahasa ini semula adalah sebuah arsip puisi milik sang vokalis yaitu Fahrunnisah Dian Utami, yang telah ditulisnya pada tahun 2016 silam. Puisi tersebut merupakan wadah bagi Dian untuk melepaskan segala macam bentuk kekesalannya terhadap banyak orang yang menurutnya begitu gampang untuk mengeluarkan kata kasar akan sesuatu yang dinilai dari sampulnya saja,

“Orang-orang seakan berbicara dengan lututnya, begitu tumpul, namun lantang dan dengan percaya diri, terdengar menyakitkan.” Jelas Dian, membedah salah satu bait puisi yang kini menjadi lirik. 

Dari kalimat yang terlontar dari Dian tersebut, alasan kenapa Latter Smil bisa hadir. Dan “Bleary” adalah tulisan pertama yang diperlihatkan ke saya, dan hingga ketika lagu tersebut siap untuk di-take, proyek tersebut belum mempunyai nama. Nah lagu ini sebenarnya lagu pertama yang kami record, waktu itu di studio Cosmogony. Project inilah yang merembukkan bahwa kami harus mempunyai nama, maka terbentuklah LS (Latter Smil).” Tambah Eko menimpali.

Untuk visual dari single ini, Registya Wardani sang peramu menginterpretasikan lagu ini dengan memperlihatkan sebuah kaki yang menggantikan kepala, dengan dihiasi banyak mulut, serta dua tangan yang hampir bersentuhan. Makna besar dari ilustrasi ini adalah untuk memperlihatkan banyak mulut dan sosok yang tidak menggunakan akal sehatnya ketika melihat seseorang, tanpa mencari tahu latar belakang yang ada. Contohnya seperti saat seseorang sukses, orang lain yang iri pasti mulai menduga-duga yang tidak benar adanya, seperti menggunakan kekuatan magislah, atau korupsi lah, padahal kenyataan yang ada tidak seperti itu. Hal seperti ini pun sering kali ditemui di lingkungan sekitar kita.

Latter Smil pun mengungkapkan bila mereka ingin musik yang dihasilkan bisa menjadi wadah dan visual ekspresi diri bagi mereka dan kancah musik di kota tercinta, Palu. Kebanyakan lirik yang hadir pun dibuat atas dasar pengalaman dan keresahan-keresahan yang ada di keadaan setiap hari. Single kedua ini pun didapuk sebagai gerbang awal dari EP yang bila tidak meleset jauh dari jadwal, akan dirilis segera di akhir tahun 2020 ini. Selain dalam bentuk audio, single ini juga dibuatkan versi video liriknya yang sebentar lagi akan dirilis di kanal YouTube mereka. Selain video lirik, rilisan ini dibarengi dengan konten-konten lainnya seperti video live taping, interview, dan review pendengar. Oh ya, mereka juga tercatat pernah menjadi salah satu band yang masuk di dalam album kompilasi seperti, “Pancaswara” oleh Kreatif Tengah (2018) dan “Memorama” yang diprakarsai oleh Forum Sudut Pandang, dengan lagu yang mengangkat isu bencana sosial bertajuk “Membahu” (2019).

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Latter Smil

 

The Box Perkenalkan Formasi Baru Lewat Live Session

Pandemi yang sudah berlangsung selama dua tahun ini telah membuat kita semua kembali dari awal. Menyusun ulang rencana dan mulai menata kembali langkah-langkah yang akan diambil. Kini industri sudah mulai...

Keep Reading

Sajian Ska Berbeda dari Slowright

Slowright, unit ska dari kota Malang baru-baru ini telah melepas album mini teranyarnya bertajuk Believe. Dirilis oleh label rekaman yang bermarkas di Yogyakarta, DoggyHouse Records, lewat rilisannya kali ini Slowright...

Keep Reading

Zizi yang Menyapa Kampung Halaman Lewat Hometown Tour

Setelah menyelenggarakan showcase perdananya yang bertajuk Unelevated Intimate showcase di Bandung pada akhir Februari lalu. Kini, Zizi kembali ke rumah tempat ia tumbuh dan menemukan passion terbesar dalam dirinya. Ia...

Keep Reading

Realita Kaum Pekerja di Nomor Kolaborasi Dzulfahmi dan Tuantigabelas

Dzulfahmi, MC dari kolektif Def Bloc dan Dreamfilled yang bermukim di Jakarta baru-baru ini (6/5) telah memperkenalkan karya terbarunya bertajuk “Rotasi”. Lewat rilisannya kali ini Dzulfahmi menggaet salah satu nama...

Keep Reading