Culture Project adalah Umariyadi Tangkilisan (gitar), Zhul Usman (vocal), Ayub Lapangadong (bass), dan Riyan Fawzi (gitar/synthesizer). Mereka adalah kolektif musik asal Palu yang terbentuk pada tahun 2008 silam. Musik yang mereka mainkan adalah populer world music (begitu mereka menyebutnya).

Masih tergambar jelas diingatan kita soal bencana gempa, tsunami dan likuefaksi yang menimpa Palu dan sekitarnya pada bulan September 2018 silam. Dan hingga kini, masih banyak para penyintas yang belum mendapatkan hak-haknya. Dengan adanya hal-hal seperti itu, Culture Project merasa harus merespon hal tersebut ke dalam bentuk sebuah karya musik yang diberi judul “Palu Dilupa”.

“Apa kabar para Utopis yang selalu menyuarakan kegelisahan? Apa kabar para pemimpin yang obsesinya menjadikan negeri ini berjaya? Apa kabar keadilan yang makin kesini makin timpang? Apa kabar semua harapan baik?.” Begitulah kira-kira berbagai bentuk pertanyaan dari mereka tentang gagasan-gagasan besar yang sudah dirintis para pendahulu.

Single ini sendiri telah dirilis pada 29 Desember 2019. Dalam perilisannya, turut dibuka sebuah ruang untuk berdiskusi, membahas banyak hal yang sedang marak terjadi di negara ini, khususnya kota Palu itu sendiri. Melalui lagu yang berdurasi tiga menit ini,┬áCulture Project meluapkan serta banyak merespon kondisi Palu dan orang-orangnya saat ini. Yang mana menurut mereka, kota ini adalah sebuah ruang hidup yang dekat dengan spirit lokal sekaligus lebur menjadi kota urban, dan┬ákondisi ini terasa mengaburkan jati diri, antara “kota yang kampungan atau kampung yang kotaan”.

Menurut press release yang kami terima, sebenarnya mereka telah menciptakan lagu ini sejak tahun 2011, namun kembali diaransemen dengan memberikan narasi yang masih relevan dengan kondisi saat ini, serta dikemas dengan nuansa musik yang bisa didengarkan oleh banyak kalangan. Single ini sendiri sudah bisa didengarkan di berbagai layanan musik digital.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip Culture Project