Kuartet cadas asal Semarang, Tiderays, memperkenalkan namanya di industri musik Indonesia dengan merilis debut album 401 pada awal Juli 2019 ini. Band ini beranggotakan Ghozzy El-Yussa (Vokal), Fauby Duvadilan (Bass), DF Ahmad (Gitar) dan Gresia (drum).

Bersama Samstrong Records, label yang cukup konsisten merilis sejumlah album rock lokal, album 401 merupakan hasil dari proses pengumpulan materi yang berlangsung enam bulan sejak September 2018. Album 401 terdiri dari lagu-lagu bernuansa hardcore, punk, crust, doom, sludge, hingga death metal. Lagu At the Eleventh Hour sendiri menceritakan tentang momentum takluknya seseorang atas persoalan hidup yang membuncah, membuatnya jatuh dan makin bertekuk lutut.

Adapun 401 adalah akronim dari For No One; Nihil, tak bertuan.

“Bebas saja jika ingin mengaitkan dengan paradigma Nihilisme milik Nietzche. Toh, pada akhirnya, kita juga saling tak punya kesepakatan siapa tuan dari berbagai permasalahan,” terang gitaris band, DF Ahmad.

Proses rekaman untuk kedelapan buah instrumen di album 401 dilakukan di Watchtower Studio Yogyakarta sejak April 2019. Sebagai catatan, studio tersebut melahirkan album-album cadas diantaranya milik Exhumation, Opus Death (Dunkelheit Produktionen, 2015), serta Warmouth dan Pariah (Samstrong Records, 2016). Sementara sesi rekaman untuk vokal dilakukan di Paw Studio Semarang pada bulan Mei 2019 lalu.

Album 401 telah dirilis bersamaan dengan acara peluncurannya pada 1 Juli 2019 lalu di Gosty Lounge, Semarang. Turut dimeriahkan oleh sederet penampil yakni Hellexist (Malaysia), Peace Or Annihilation (Jakarta), Nightfall (Batang) dan Hearted. Mereka juga akan melangsungkan South East Asia Tour 2019 bersama AK//47 ke berbagai titik di Malaysia, Thailand, Kuala Lumpur, Vietnam, dan Singapura yang akan dimulai pada tanggal 20 Juli ini. (*)

 

Teks: Rizki Firmansyah
Foto: Brigitan Arga