Perjalanan Seorang Seniman Mural Keith Haring

Amerika Serikat adalah medan laga para seniman besar. Dari seniman yang karyanya mentereng di dalam museum sampai seniman yang berlaga di jalanan. Keith Haring adalah satu dari banyaknya seniman yang memulai laganya dengan menjadikan kota sebagai kanvas. Ia terkenal sebagai seniman Graffiti. Stasiun kereta bawah tanah adalah momentum dimana ia memulai aksinya dan mengenalkan karyanya ke banyak audiens. Meskipun tak jarang berujung dengan kejaran polisi atas aksi vandalismenya itu. 

Keith Haring lahir pada 4 Mei 1958. Ketertarikannya akan seni visual menarik ia ke medan yang lebih serius. Tak hanya kemampuannya dalam menggambar, secara  akademi pun kapasitasnya dalam dunia seni cukup mumpuni. Setelah lulus dari sekolah menengah pada tahun 1976, ia mendaftar ke sekolah seni komersial, Ivy Schol of Profesional Art di Pittsburgh. Namun disana ia hanya bertahan selama dua semester, lantas keluar. 

Tak puas berada di Pittsburg, ia pindah ke New York. Lalu mendaftar di School of Visual Arts (SVA). Aktivitasnya di kota ini membuat ia mulai diperhitangkan keberadaannya.  Sejumlah nama besarpun cukup akrab dengan  Haring, salah satunya adalah Andy Warhol. Namun sebelum kenal dengan Warhol, ia terlebih dahulu akrab dengan Jean Michel Basquiat dan Kenny Scarf. Berada di lingkaran yang sama dengan frekuensi yang sama pula, Haring dan mereka kerap berada di dalam satu project. Ia adalah seniman yang gandrung kolaborasi. Dari kolaborasi bersama musisi sampai dengan perancang busana. Maka tak aneh jika kemudian kita sering melihat karya Haring dalam banyak merek dagang. Salah satunya  adalah brand kenamaan, Uniqlo.

Di tahun 1986, keinginannya untuk mendekatkan karyanya ke khalayak yang lebih luas, mendorong Haring untuk membuka toko bernama Pop Shop di SoHo, New York City. Ia menjual poster, kaos dan barang lainnya hasil dari desainnya sendiri. Upaya untuk mendekatkan karyanya kepada orang lain pernah ia tulis dalam buku hariannya yang diterbitkan oleh penerbit legendaris, Penguin Books.

Keith Haring
IslBG

“All kinds of people would stop and look at the huge drawing and many were eager to comment on their feelings toward it. This was the first time I realized how many people could enjoy art if they were given the chance. These were not the people I saw in the museums or in the galleries but a cross-section of humanity that cut across all boundaries.”

Selain dari karakter karyanya yang penuh warna dan imajinatif dengan objek yang unik, lebih dari itu gambar Haring tak sebatas karya seni semata. Di dalamnya ia selalu menyisipkan pesan-pesan sosial maupun politik. Salah satu jargon yang terkenalnya adalah Wrack Is Wack, yang merespon tentang bahayanya penggunaan kokain oleh anak muda di New Yok saat itu.

Selain hobi vandal di tembok pekotaan, haring pun sempat diundang untuk melukis mural di Tembok Berlin, tembok yang menjadi pembatas antara Jerman Timur dan Barat. Hal itu dilakukan untuk upaya perdamain antara  kedua bagian negara yang telah lama bersebrangan. Kepopuleran Haring dalam dunia seni tak lantas membuat ia lupa diri. Ia dikenal sebagai sosok yang dekat dengan komunitas-komunitas akar rumput dan sering terlibat dalam pelbagai kegiatan amal. 

Selain dijalanan, haring pun getol melukis mural di banyak rumah sakit anak, salah satunya adalah Necker Children’s Hospital di Paris. Tak hanya orang dewasa yang menjadi apresiator atas karyanya, tetapi Haring pun membuat karya seni yang ramah anak. Sekali lagi, hal ini dilakukan untuk membuat karyanya lebih dekat dengan siapapun.

“I made this painting to amuse the sick children in this hospital, now and in the future.” Tulis Haring dalam buku hariannya. 

Di umurnya yang baru berusia 31 tahun, pada 16 Februari 1990 ia meninggal karena komplikasi terkait AIDS yang dideritanya sejak didiagnosis tahun 1988. Satu tahun sebelum meninggal. Sadar dengan riwayat penyakitnya yang berbahaya, ia mendirikan Keith Haring Foundation yang mendukung program dan organisasi anak-anak yang didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran akan bahayanya AIDS. Dan itu pula warisan terakhir yang berharga dari Keith Haring, selain dari karyanya yang jenius, imajinatif dan penuh warna itu.  

Keith Haringg
Visiting US artist Keith Haring with the mural he painting at the Art Gallery of NSW. March 01, 1984. (Photo by Stuart William Macgladrie/Fairfax Media via Getty Images)

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip Getty Images

Nada Siasat: Bermimpi di Ujung Maret

Memasuki bulan Maret, pertunjukan musik secara langsung kini sudah diberi lampu hijau oleh para pemangku kebijakan. Gelaran musik dari yang skala kecil sampai skala besar kini sudah mulai muncul ke...

Keep Reading

Galeri Lorong Langsungkan Pameran Seni Bernama IN BETWEEN

Berbagai momentum di masa lalu memang kerap menjadi ingatan yang tak bisa dilupakan. Apalagi jika irisannya dengan beragam budaya yang tumbuh dengan proses pendewasaan diri. Baru-baru ini Galeri Lorong, Yogyakarta...

Keep Reading

Refleksikan Sejarah Lewat Seni, Pameran "Daulat dan Ikhtiar" Resmi Digelar

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta mengadakan sebuah pameran temporer bertajuk “Daulat dan Ikhtiar: Memaknai Serangan Umum 1 Maret 1949 Melalui Seni”. Pameran ini sendiri akan mengambil waktu satu bulan pelaksanaan, yakni...

Keep Reading

Ramaikan Fraksi Epos, Kolektif Seni YaPs Gelar Pameran Neodalan: Tilem Kesange

Seni tetap menjadi salah satu jawaban untuk menghidupkan dan menghangatkan kembali keadaan di masa pandemi. Untuk itu dengan gerakan gotong royong dalam ruang seni baur Fraksi Epos mengajak kolektif seni...

Keep Reading