Lampurio adalah nama yang digunakan Rio Simatupang untuk menampilkan karya-karyanya. Perupa asal Palu, Sulawesi Tengah ini, mulai menekuni dunia kesenian sejak 2014. Ia pulang kampung setelah berkelana ke Jakarta, Jogjakarta dan Bali. Di Palu, ia mengelola ruang alternatif bernama Rumah Hutan Drupadi.

Ruang alternatif itu, punya kegiatan yang sangat banyak. Mulai dari jadi ruang pamerang, kerja, pendidikan hingga tempat untuk sekedar singgah bagi teman yang datang dari maupun luar Palu. Seperti banyak orang di dunia seni, ia memulainya dari sekedar iseng-iseng.

Ia mencoba menggali potensi yang ada di dalam dirinya dengan mencoba berbagai macam gaya dan teknik dalam menggambar. Ini dilakukan untuk mencari tahu berbagai macam kemungkinan. Apa yang dimilikinya sekarang, merupakan hasil dari proses tersebut yang terasa begitu mengalir dan natural. Rio tidak memiliki latar belakang pendidikan seni. Proses pemupukkan pengetahuan didapatkan dari mengunjungi berbagai macam pameran seni rupa sekaligus bergaul dengan banyak sekali orang yang bersimpangan dalam minat menjalani kesukaan pada ilustrasi. Ia juga aktif mengikuti sejumlah diskusi seni dan tidak lupa menjalani hobi membaca dan menggambar dengan intensitas yang banyak.

Karakter yang miliki sekarang didapat dengan proses dan praktek. Level konstan, bisa dibilang, sudah ia temukan.

Sebelum menekuni dunia gambar, ia sempat bergulat dengan kehidupan di scene fotografi. Dari situlah kegemaran menggunakan warna hitam dan putih berasa. Dulu, ia suka menghasilkan foto hitam putih yang diakui membuatnya nyaman dan santai. Selain itu, hitam dan putih, juga diadopsi dari scene bawah tanah yang biasa menyiasati warna dalam produksi karya visual mereka.

“Saya suka lihat desain kaos, cetakan poster-poster kegiatan, zine-zine, cukil-cukilan punk. Umumnya situs art di scene punk itu kebanyakan hitam dan putih. (Gambarnya) cukup sederhana dan komunikatif. Lingkungan sangat mempengaruhi saya. Di sisi lain saya tidak begitu ahli dalam bermain warna. Saat membuat suatu ilustrasi, tidak pernah terlintas akan dikasih warna apa gambar saya. Menggambar hitam dan putih itu, sederhana yah. Hanya butuh spidol hitam dan kertas putih, atau cat hitam dan tembok putih, atau cat hitam dan kanvas putih, selesai. Namun belakangan ini saya mulai mencoba untuk bermain-main dengan warna. Ternyata cukup mengasikkan. Saya melihat hitam dan putih menawarkan cerita, sedangkan warna menawarkan fantasi,” tutur Rio menjelaskan pilihan warnanya dalam berkarya.

Rio pernah berkolaborasi dengan Navicula dan Senyawa. Untuk Navicula, ia membuatkan sebuah backdrop berukuran 3×5 meter yang dipergunakan di dalam Navicula Australia Tour 2017 silam. Kolaborasi ini disambungkan oleh hubungan yang dekat antara Rio dengan Gede Robi, frontman Navicula. Publisis Navicula yang memintanya membuat sebuah karya untuk band itu. Seentara dengan Senyawa, kolaborasinya bisa terjadi karena permintaan khusus dari Rully Shabara, vokalis Senyawa yang juga berkampung halaman Palu. Tujuan dari kolaborasi ini adalah untuk mencari dana guna merenovasi Rumah Hutan Drupadi, agar ke depannya tempat ini bisa lebih memfasilitasi dan mewadahi semakin banyak orang yang ingin berkarya.

Dewasa ini, scene ilustrasi dan menggambar di Indonesia berkembang dengan pesat. Ada banyak perkembangan karya yang merata, produsennya tidak hanya didominasi mereka yang berasal dari Pulau Jawa atau Bali. Banyak perupa baru yang unjuk gigi dan berasal dari banyak wilayah di Indonesia yang sangat luas ini. Indonesia, menurut Rio sendiri, bisa dibilang sebagai ensiklopedianya ilustrator. Mau cari yang seperti apa, semua ada di Indonesia.

Kembali ke kisah Rio. Setiap karya yang dihasilkan olehnya, punya benang merah. Ia selalu berbicara tentang keadilan. Menurutnya keadilan adalah suatu hal yang penting, merupakan kunci dari keseimbangan. Seperti bertalian, hidup akan berjalan harmonis jika ada keseimbangan. Di sanalah keadilan mengambil peran.

Perjalanannya berwarna. Dalam proses berkaryanya, setiap langkah dijalani sembari merekam kenangan. Ia lumayan romantis, suka mengingat perjalanan ke masa lalu ketika ia melihat karya yang pernah dibuatnya. Termasuk mengingat proses pengerjaan, isu-isu di belakangnya serta orang-orang yang mampir di dalam ceritanya. “Setiap karya, selain ingin mengkomunikasikan sesuatu sebagai gagas, juga jadi semacam arsip waktu dan kenangan untuk saya,” ujarnya menjelaskan.

Secara khusus, pengarsipan merupakan sesuatu yang masih menjadi topik belajar untuknya. Saat ini, belum ada metode khusus yang ia terapkan untuk mengumpulkan arsip karya-karyanya. Tapi di hari mendatang, ia membayangkan membuat data base untuk seluruh karyanya lengkap dengan detail dibuat tahun berapa, di mana, dikoleksi oleh siapa, sudah dipamerkan berapa kali dan lain-lainnya.

Setidaknya, ia sudah memulai memikirkannya.

Ada satu hal lain yang perlu dicatat tentang Rio. Ia juga memiliki sebuah side project yang bernama Skena Liar yang merupakan sebuah katalog berbentuk kaos yang berisikan karya-karyanya. (*)

Teks: Adjust Purwatama
Foto: Dokumentasi Lampurio