Ulasan: Perjalanan Kosmis Bersama The Artchemists

The Artchemists, telah melepas album mini debut mereka yang berjudul Cosmic Drop akhir bulan lalu. Unit psikedelik asal Ibu Kota tersebut ingin menyuguhkan sebuah perjalanan kosmis dalam enam trek di album mini tersebut.

“Sebuah ekspedisi kosmos bagaimana manusia mencari arti kehidupan dan pembentukan kembali dari jiwa manusia yang telah terkontaminasi,” tulis The Artchemists dalam keterangan persnya.

“Outside the Orbit” dipilih menjadi trek pembuka. Layaknya lagu psikadelia lainnya, vokal Robby Agustiar (yang juga memainkan gitar) ditaruh jauh di belakang. Biarpun banyak bebunyian mengawang, namun trek ini lumayan ngebut dengan mix drum yang lumayan mentereng. Itu ditambah pilihan nada vokal membuat lagu ini lebih shoegaze dibanding psikadelik.

“Awal mula perjalanan seseorang meninggalkan kompleksitas keduniawian,” jelas The Artchemists tentang “Outside the Orbit”.

Lagu pembuka itu ditutup dengan permainan acak panning yang bertransisi dengan halus ke drum intro trek selanjutnya, “Lucidity”. The Artchemist mengurangi sedikit tensi mereka dalam lagu ini. Bahkan, pilihan vokal dan sound gitar pada bridge lagu ini terasa lebih mengarah ke indie pop masa kini, biarpun pilihan nada gitar lumayan menarik karena terdengar melenceng sedikit dari diatonis biasa.

“Bagaimana manusia mengetahui keindahan hidup hanya akan berasal dari diri sendiri.”

The Artchemist beranjak lebih pop lagi di “Scattered Flowers”. Dua akor bergantian dimainkan berulang di verse ditambah ketukan snare dan kick konstan itu sungguh indie pop sekali. Sentuhan psikedelik dalam lagu ini mungkin pada sedikit isian gitar dengan beberapa sentuhan entah efek apa (mungkin phase) tapi nampak dimainkan dengan wah. Mungkin, The Artchemist memang unit pop psikedelik.

“Bukan mencari warna kehidupan baru dari substansi yang kerap dijadikan alasan pencarian jati diri.”

Salah satu tujuan The Artchemists dalam album mini adalah membawa pendengarnya safari di kapal antariksa dan mereka berhasil membuat Cosmic Drop terdengar seperti sebuah perjalanan dengan transisi-transisi antarlagu yang begitu licin. Perpindahan antara “Scattered Flowers” ke “Interstellar” yang menjadi trek selanjutnya sama sekali tidak terasa, kecuali Anda mendengarkannya di akun Spotify bukan premium dan sedang apes bertemu iklan. “Interstellar” bisa jadi yang paling pelan di Cosmic Drop sejauh ini. Dibanding dua trek sebelumnya, tembang ini lebih mengawang, dengan sentuhan sisaan delay di beberapa titik vokal.

“Dalam tahap ini, manusia mengetahui bahwa kita hanya hidup sebagai tamu sementara yang mempunyai pilihan.”

Ternyata, Bryan Achsan (drum), Robby Agustiar (vokal, gitar), dan Nusantara Aditya (gitar utama) beranjak lebih pelan lagi di “Parallel” yang minim ketukan ritmis di awal. Setelah tiga trek dipapar nuansa mayor, The Artchemist memberi nuansa lebih minor di lagu selanjutnya ini. Dengan alunan bas sedikit “Perlahan Tenang”-nya The Paps sebagai jembatan ke akhir, trio ini berhasil menutup lagu dengan klimaks.

“Mencapai tahap dimensi tertinggi untuk bersatu padu kepada energi terbesar, Sang Pencipta.”

Jika di lima trek sebelumnya The Artchemist terdengar mengarah kepada psikedelik modern macam Tame Impala, di lagu terakhir mereka mencoba sedikit old school. “Genesis” menambahkan bebunyian mirip sitar khas raga rock yang sempat musim di masa-masa setelah George Harrison belajar ke Ravi Shankar. Biasanya, dengan musik kesitar-sitaran ini, nada-nada yang dipilih mengarah pada nada-nada India Timur atau Carukeshi. Biarpun hampir serupa, namun The Artchemist terdengar lebih memilih Timur Tengah, dengan langgam mengaji Shoba atau langgam apa pun yang digunakan para qori Aceh, khususnya di setiap ujung bagian vokal.

“Sebagai tahap reinkarnasi kesadaran dalam pembentukan jati diri yang harmonis.”

Beberapa kalimat di tengah tanda kutip di atas adalah penjelasan The Artchemist tentang tiap lagu mereka. Bagaikan pemandu wisata bertanggung jawab, penjelasan-penjelasan tersebut seperti petunjuk di tiap wahana pemberhentian. Akan tetapi, tujuan dari perjalanan kosmis The Artchemist ternyata bukan untuk menjadi abadi. Dibanding moksa dan memutus rantai Samsara, melalui “Genesis”, Robby dan kawan-kawan lebih memilih untuk berenkarnasi, merespons kembali karma mereka namun dengan “jati diri yang harmonis”.

The Artchemist nampaknya memberi petunjuk bahwa mereka memang belum ingin moksa di album mini ini. Seperti didengar, tingkat kemengawangan mereka memang hanya mengangkat pendengar ke ketinggian yang “sedang”, kurang setitik untuk mencapai langit ketujuh. Akan tetapi, The Artchemist juga nampak ingin berpindah ke tingkatan selanjutnya. Ini terbukti dengan tidak ter-loop-nya “Genesis” dengan “Outside the Orbit” seperti yang terjadi dalam Bani Bumi milik Polka Wars. Padahal akan lucu jika memang ternyata setelah reinkarnasi kehidupannya masih sama, melalui hal yang serupa, menciptakan ironi yang menggemaskan untuk orang-orang yang cinta perubahan. Karena itu, semoga tebakan The Artchemist memang ini melangkah sesuai dengan keinginan mereka.

Teks: Abyan Nabilio
Visual: Arsip dari The Artchemists

Rayakan Dua Rilisan Baru, Extreme Decay Siapkan Pertunjukan Spesial

Sebagai pesta perayaan atas dua rilisan anyar mereka. Sekaligus mengajak Dazzle, TamaT, dan To Die untuk ikut menggerinda di kota Malang. Extreme Decay bersama Gembira Lokaria mempersembahkan konser showcase spesial...

Keep Reading

Disaster Records Rilis Album Debut Perunggu dalam Format CD

Pandemi yang sudah berlangsung selama lebih dari dua tahun ini memang membuat segala recana menjadi sulit terwujud. Namun bukan berarti berbagai kendala yang ada menyurutkan semangat para musisi untuk terus...

Keep Reading

Efek Rumah Kaca Bawakan Ulang Lagu Candra Darusman

Candra Darusman, Signature Music Indonesia dan demajors merilis album kompilasi yang menampilkan karya-karya Candra Darusman: seorang musisi, pencipta lagu, penyanyi dan pemerhati hak cipta Indonesia. Kompilasi ini mengedepankan Efek Rumah...

Keep Reading

Ketika BLCKHWK Gambarkan Sisi Alami Sifat Manusia

Di awal tahun 2022 ini, BLCKHWK telah melepas album debutnya bertajuk Decomposing Rotting Flesh. Untuk memperpanjang nafas album, baru-baru ini unit yang dihuni oleh Arison Manalu (vokal),  Billy Rizki (gitar),...

Keep Reading