Penemuan Mati Di Saturnus

Tahun 2018 adalah masa di mana Mas’aril Muhtadin memutuskan untuk memulai solo karir dengan moniker Mati Di Saturnus. Hal yang berawal dari keisengan untuk membunuh rasa bosan di sela aktivitas ini ternyata berbuah keseriusan, yang mana dirinya sendiri pun tak menyangka bila kegiatannya di saat senggang itu berproses hingga beberapa lagu berhasil ditulis dan diciptakannya.

“Semua mengalir begitu saja, mungkin ini karena memang hasrat pribadiku yang selalu ingin membuat proyek musik tapi sampai sekarang belum menemukan partner yang cocok. Waktu awal aku benar-benar bingung karena gak tau perihal produksi rekaman, akhirnya nekat aja datang ke studio Virtuoso dan tanya apa bisa rekaman solo, eh dijawab sama operatornya, ‘jangankan solo, kamu ngorok aja bisa’.” Terangnya akan fase awal dari proyek solonya.

Beberapa lagu berhasil  direkam dan disebar secara gratis kepada kawan-kawannya. Tapi tidak sampai di situ saja, perlahan tapi pasti, Mas’aril mulai belajar tentang berbagai alat dan perangkat lunak komputer agar bisa merekam sendiri karyanya di dalam kamar. Puncaknya adalah album bertajuk Balada Orang-Orang Piknik yang baru saja dirilisnya di beberapa platform musik digital. Album ini memuat beberapa karya terdahulunya yang digarap ulang secara mandiri; mulai dari rekaman, aransemen, hingga instrumen pengiring lainnya.

Balada Orang-Orang Pinik menjadi wadah bagi diri Mas’aril untuk menyuarakan lewat liriknya segala bentuk kegelisahan, kekhawatiran, dan ketakutannya terhadap kondisi sekitar yang menurutnya cenderung negatif dan mengalami kemunduran. Mas’aril mencoba semaksimal mungkin meski keseluruhan proses rekaman dikerjakan secara mandiri di rumahnya. Kesederhanaan kualitas suara yang dihasilkan bahkan ia anggap bisa menjadi kelebihan dari album Balada Orang-Orang Piknik ini. Studio sederhananya tersebut sekaligus difungsikan untuk menjadi sebuah Studio Seni Kakasya, sebuah komunitas lintas disiplin seni; teater, tari, dan musik.

“Intinya, melalui album ini aku mengajak pendengar karyaku untuk berempati bukan membenci sesama karena perbedaan,” harap Aril yang mengaku sedikit banyak terpengaruh oleh musisi macam Andy Shauf, Bob Dylan, Franky Sahilatua, Iwan Fals, Jason Ranti, hingga Silampukau.” Tuturnya.

Album Balada Orang-Orang Piknik sudah dirilis dan bisa dinikmati di berbagai platform musik digital. Selain itu, ada harapan darinya setelah masa pandemi ini berakhir, dirinya berencana akan memproduksi album Balada Orang-Orang Piknik dalam wujud fisik, termasuk di dalamnya rencana untuk menggelar pesta perilisan.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Mati Di Saturnus

Cerita Iblis dan Manusia di Album Kedua Parakuat

Ranah musik elektronik di Indonesia selalu menarik untuk di simak, terlebih geliatnya di arus pinggir. Banyak seniman bunyi muncul dengan coraknya sendiri dan membawa hasil eksperimentasinya masing-masing. Ranah ini terus...

Keep Reading

The Jansen Persembahkan Album Ketiga

Usai melepas nomor “Mereguk Anti Depresan Lagi” yang cukup mencuri perhatian, The Jansen, trio punk rock dari kota hujan Bogor akhirnya meluncurkan album ketiganya bertajuk “Banal Semakin Binal” (29/7) dalam...

Keep Reading

EP Who Suffer?, Jalan Keluar Defy dari Kekacauan Pandemi

Grup metallic hardcore dari kota Palu, Defy, baru-baru ini telah meluncurkan sebuah album mini bertajuk Who Suffer?. Perilisan album ini juga sekaligus sebagai tanda berjalannya kerja sama antara Defy dan...

Keep Reading

Menuju Album Kedua, Modjorido Rilis Nomor "Bebal"

Usai memperkenalkan album perdana self-tittled di tahun 2021 lalu, grup musik dari Bali, Modjorido akhirnya kembali merilis karya teranyar. Kali ini unit yang dihuni oleh Rico Mahesi (Vocal & Guitar),...

Keep Reading