Pemuda Sinarmas adalah Ajis, salah satu cassette jockey (CJ) yang beroperasi di Indonesia. CJ berbeda dengan DJ. Seorang CJ biasanya memiliki dan memainkan playlist dari sebuah kaset pita yang berisi lagu-lagu lawas. Berawal dari kesukaannya pada kaset pita dan rajin mengumpulkannya, akhirnya tercetus ide untuk menjadi seorang CJ. Alasan pertama adalah agar lagu-lagu lawas ini tetap diingat oleh orang banyak dan alasan kedua adalah agar kaset pita koleksinya tidak habis dimakan waktu (rusak). Berawal dari keisengannya memotong-motong lagu di kaset pita untuk menggabungkan dengan yang lain, hal itu yang lalu mengasah kemampuannya lama-kelamaan dalam membuat mixtape dari sebuah kaset.

Sejauh ini Ajis dikenal piawai dalam meramu lagu-lagu dari berbagai jenis genre menjadi satu mixtape. Berbekal hanya dengan sebuah tape deck, mixer dan alat mixing sederhana terciptalah ramuan lagu Indonesia lawas menjadi suatu yang mengasyikkan untuk era sekarang. Beberapa waktu lalu kami menyempatkan untuk mengobrol, membahas seluk beluknya menjadi seorang CJ dan banyak lainnya. Simak wawancaranya di bawah ini.

Sejak kapan mulai tertarik dengan dunia cassette jockey, apa yang menyebabkan elo tertarik?

Awal mula gue tertarik cassette jockey tuh kuliah. Karena makin banyak koleksi di rumah, terus gue bingung mau diapain lagi. Kebetulan di rumah banyak kaset juga, terus kepikiran kenapa nggak coba aja ya, ngedj pake koleksian kaset gue? Karena mau beli alat dj mahal, jadi ya pake aja yg ada di rumah. Sekalian memperkenalkan musik-musik yang rilisnya hanya di kaset.

Yang elo mainkan kan kebanyakan tembang-tembang lawas. Ada alasan khusus memilih lagu-lagu tersebut?

Karena gue ingin mengenalkan musik-musik era dulu yang sungguh beragam dan masih nyaman juga kok di telinga yang serba digital ini. Selain itu, emang koleksi gue kebanyakan rilisan tahun 2002 ke bawah semuanya. Haha.

CJ di Indonesia gimana sih sekarang? Ada regenerasinya?

Sering berpikir juga untuk melakukan regenerasi. Malah gue mau buat cassette party, yang main nantinya CJ dari berbagai macam daerah di Indonesia. Bisa juga dari luar negeri, gue undang. Tapi belum tahu kapan sih. Doakan saja semoga terealisasi.

Kalau menurut lo pribadi, apa sih perbedaan yang dirasakan dari semua format rilisan fisik yang ada dengan kaset?

Yang gue rasakan sisi soundnya. Terus, ketika elo mau pindah dari satu lagu ke lagu lainnya, kaset perlu waktu untuk forward. Nggak bisa langsung next. Jadi biasanya orang malas dan mau nggak mau harus dengerin kaset itu secara penuh. Enaknya, rilisan dalam bentuk kaset masih bisa didengarkan di mana saja dengan Walkman dan mudah dibawa-bawa.

Kaset saat ini digandrungi kembali, tanggapan lo sendiri soal ini gimana? Apakah ini hanya sebatas trend saja atau?

Gue seneng banget kaset digandrungi lagi. Apalagi yang dulunya belum kenal kaset sekarang bisa kenal dan ngulik-ngulik tentang kaset. Dan ini menurut gue bukan sebatas trend aja sih, kaya udah culturenya Indonesia. Apalagi di Indonesia termasuk salah satu Negara yang paling banyak kasetnya.

Penasaran nih, gimana sih cara lo untuk mix lagu-lagu yang ada dari si kaset ini? Mengingat alatnya analog kan?

Cara ngemix nya hampir sama dengan prinsip DJ pada umumnya, cuma lebih ribet aja karena emang dari segi alat yang analog. Kalo gue jelasin detail juga pasti bingung kalo ngga liat langsung. Hehehe.

Untuk peralatan yang lo gunakan sebagai seorang CJ, apakah mudah mendapatkannya?

Dulu sih, susah-susah gampang. Kalau sekarang, susah euy. Gue aja mau nyari alat-alat lagi udah susah sekarang.

Tiap jockey baik itu disc atau cassette pasti ada playlist yang paling sering dimainkan, kalo lo sendiri? Kenapa lagu itu?

Lagu yang sering dimainkan itu Arie Koesmirah – Belum Masanya. Sama Bill&Bord – Anak Singkong. Karena lirik sama lagunya paling mudah dicerna sama orang-orang sih.

Ada rencana yang sedang dijalankan sekarang ini?

Rencana sih bikin single sendiri tahun ini. Yang akan datang udah berencana buat acara soal cassette party itu, ngundang CJ dari seluruh Indonesia dan luar juga.

Klasik nih. Harapan lo untuk industri musik dan rilisan fisik di Indonesia seperti apa?

Harapan untuk industri musik Indonesia, jangan lupakan kultur kita berasal di dalam setiap karya musik dan teruslah merilis rilisan fisik karena itu merupakan asset yang tidak akan pernah hilang sekaligus bisa untuk arsip anak cucu kita nanti. (*)

 

Teks dan wawancara: Adjust Purwatama
Foto: Dokumentasi Pemuda Sinarmas