Pasukan Perang Lego Dalam Videoklip Terbaru Sabaton

Grup musik metal asal Swedia, Sabaton, merilis music video terbaru dari lagu yang berjudul “The Future of Warfare”. Pada dasarnya lagu ini bertemakan perang, pertempuran historis, dan tindakan kepahlawanan yang terjadi dalam Perang Dunia I. Namun ada hal unik dalam videoklipnya kali ini. Jika kita seringkali melihat banyak video musik yang bertemakan perang dengan menggambarkan peristiwa penuh darah –terlebih dalam videoklip musik metal, kali ini Sabaton malah menggambarkan perang dengan menggunakan figur dan mainan susun atau Lego. Video ini sendiri dirilis untuk memperingati 104 tahun pertempuran Flers –Courcelette dalam Perang Dunia I yang berlangsung singkat dari 15 September 1916 sampai 22 September 1916.

“Pada tanggal 15 September 1916, Pertempuran Flers-Courcelette dimulai. Kami menghormati pertempuran ini dengan video yang sangat unik yang dibuat menggunakan… building block !” kata Sabaton dalam website resminya.

Lagu “The Future of Warfare” tercantum dalam album penuh kesembilan Sabaton, “The Great War”, yang dirilis tahun lalu, tepatnya pada 19 Juli 2019 melalui label Nuclear Blast. Album tersebut dirilis bertepatan dengan peringatan 20 tahun band. Secara garis besar lagu-lagu dalam The Great War bertemakan kekacauan dan segala tragedi yang terjadi dalam perang dunia pertama. Album ini sempat menduduki # 1 tangga lagu di berbagai negara termasuk Jerman, Swiss, Swedia dan mendapat sambutan yang meriah dari para  penggemar dan kritikus sejak debutnya di tangga lagu dunia musim panas lalu, The Great War menampilkan banyak single kolosal seperti  ‘Great War’ ,  ’82nd All The Way’, ‘The Red Baron’, dan ‘Fields of Verdun’ .

Sabaton yang kini beranggotakan Joakim Broden (vokal, keyboard), Pär Sundström (bass), Chris Rörland (gitar), Tommy Johannson (gitar), dan Hannes van Dahl (drum) merekam album The Great War tepat 100 tahun setelah berakhirnya Perang Dunia I (11 November 1918). Dalam produksinya Sabaton hanya membutuhkan tiga bulan kerja intensif di Studio Black Lounge dengan dibantu oleh produser sekaligus kolaborator lama mereka, Jonas Kjellgren.

“Ini bukan pertama kalinya kami menyanyikan cerita-cerita dari masa ini, tapi sekarang kami merasa waktunya tepat untuk membuat album konsep lengkap tentang perang ini,” kata Sabataon pasca rilis album The Great War.

Pertempuran Flers-Courcelette sendiri merupakan serangan berskala besar yang dilakukan oleh pasukan tentara  Inggris yang dilancarkan kepada pasukan kekaisaran Jerman selama seminggu (15 Semptember-22 September 1916). Pertempuran ini sekaligus menjadi penanda dimana untuk pertama kalinya tank baja digunakan sebagai senjata dalam perang. Pun dalam music video yang dibuat oleh Sabaton, dimana hal pertama yang ditampilkan adalah tank baja dalam replika lego berwarna abu yang sedang bergerak menuju medan perang.

Buat yang belum familiar sama mereka, Sabaton adalah band bergenre power metal yang berasal dari Swedia. Kebanyakan latar dari lagu-lagu mereka bercerita tentang persoalan perang, pertempuran, dan aksi-aksi heroik bersejarah. Liriknya pun banyak menceritakan ragam kisah perihal sejarah perang yang terjadi di seluruh dunia, mulai dari Perang Dunia II, Perang Dunia I, Perang Vietnam, Invasi ke Irak, bahkan Perang Enam Hari pun pernah dijadikan lagu oleh mereka. Buat kalian yang benci pelajaran sejarah, kalo dengar lagu-lagu dari mereka, bisa saja langsung cinta dengan sejarah. Selengkapnya kalian bisa menyaksikan video musiknya di bawah ini.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip Sabaton

Cerita Iblis dan Manusia di Album Kedua Parakuat

Ranah musik elektronik di Indonesia selalu menarik untuk di simak, terlebih geliatnya di arus pinggir. Banyak seniman bunyi muncul dengan coraknya sendiri dan membawa hasil eksperimentasinya masing-masing. Ranah ini terus...

Keep Reading

The Jansen Persembahkan Album Ketiga

Usai melepas nomor “Mereguk Anti Depresan Lagi” yang cukup mencuri perhatian, The Jansen, trio punk rock dari kota hujan Bogor akhirnya meluncurkan album ketiganya bertajuk “Banal Semakin Binal” (29/7) dalam...

Keep Reading

EP Who Suffer?, Jalan Keluar Defy dari Kekacauan Pandemi

Grup metallic hardcore dari kota Palu, Defy, baru-baru ini telah meluncurkan sebuah album mini bertajuk Who Suffer?. Perilisan album ini juga sekaligus sebagai tanda berjalannya kerja sama antara Defy dan...

Keep Reading

Menuju Album Kedua, Modjorido Rilis Nomor "Bebal"

Usai memperkenalkan album perdana self-tittled di tahun 2021 lalu, grup musik dari Bali, Modjorido akhirnya kembali merilis karya teranyar. Kali ini unit yang dihuni oleh Rico Mahesi (Vocal & Guitar),...

Keep Reading