Pameran Virtual dari Karya Seni Visual

Dihiasi lampu neon yang memanjang horizontal, plus warna-warna warm tampak begitu memadati latar lukisan abstrak karya seniman asal Amerika Serikat, Mary Weatherford. Entah objek apa yang sedang ia bidik pada lukisan yang ia beri nama dengan A “live” abstraction itu. Namun, berbeda dengan biasanya, lukisan-lukisan Mary kali ini dipamerkan oleh Art Basel dan Art Central secara online di situs Artsy. Tak hanya karya milik Mary, setidaknya ada 235 galeri dari berbagai seniman yang kreasinya ditampilkan pada platform galeri daring yang berkantor di New York itu. Festival seni ini menyebabkan halaman website Artsy dikunjungi 105.000 page views, lebih banyak dibanding satu tahun lalu yang hanya berjumlah 19.000. “Fenomenal,” ujar Direktur Artsy Corey Andrew Barr menanggapi situs online yang dikelolanya dibanjiri banyak pengunjung, sebagaimana dikutip dari Nikkei Asian Review.

Art Basel dan Art Central sejatinya belum pernah menggelar pameran seni visual tahunannya dalam bentuk virtual. Tapi, sejak Covid-19 melanda dunia hingga berdampak pada penutupan galeri dan museum untuk umum, pameran seni yang sebelumnya akan diadakan pada bulan Maret di Hongkong itu pun akhirnya turut dibatalkan. Beruntung, pameran yang seharusnya dihelat di salah satu negara dengan pasar seni terbesar ketiga di dunia itu sukses menarik 250.000 visitor dalam seminggu, lebih besar ketimbang biasanya saat digelar langsung yang hanya dihadiri 90.000 orang. Hal yang sama juga terjadi pada website galeri seni Ocula. Pendirinya, Christopher Taylor mengatakan sejak Covid-19 mewabah memang ada lonjakan besar pengunjung juga di situs miliknya.

Soal pameran galeri seni yang tidak boleh dihadiri langsung karena Covid-19, Andrew Barr mengatakan situasi seperti ini sebetulnya bisa dimanfaatkan oleh pekerja seni dengan menawarkan inisiatif baru. “(Bahkan) Kondisi semacam ini dapat jadi hal yang menyenangkan,” ucapnya.

Pameran virtual di Artsy.net

Kini dengan sebagian besar penduduk dunia tidak diizinkan keluar rumah sampai batas waktu yang belum ditentukan, banyak kalangan yang memperingatkan bila pengelola seni sudah semestinya mengalihkan kegiatan mereka ke dunia virtual. “Sayangnya, industri seni relatif lambat dalam melihat potensi di pasar digital,” kata Andrew Barr memberi keluhan. Hal senada dikeluhkan pula Leo Xu, Direktur Senior David Zwirner Gallery. Menurutnya, hingga dalam keadaan krisis kesehatan global seperti sekarang ini, banyak pengelola galeri dan museum yang belum juga mengagendakan aktivitasnya dalam bentuk virtual. “Harus bergerak cepat,” ujar Xu.

Tak menampik, Direktur Lisson Gallery Shanghai David Tung mengatakan dunia seni memang masih jauh berada di belakang ruang online. Untuk itu, tak ada cara lain pameran seni harus didorong agar dibuka secara daring, di samping wajib memiliki platform digital sendiri. Meski demikian, tampaknya beberapa wilayah di Asia sudah mempraktikkan cara tersebut sejak wabah melanda. Cina, misalnya. Pegiat seni di Negeri Tirai Bambu ini telah melangsungkan pameran seni di ruang online beberapa waktu lalu. “Berkat kegiatan ini pasar seni di Cina terbukti semakin ramai,” ungkap Tung.

Pameran virtual di Artsy.net

Leo Xu menjelaskan penikmat seni di Asia pada dasarnya lebih suka menyaksikan karya-karya seniman di iPhone, WeChat, dan saluran media sosial lainnya seperti WhatsApp, Facebook, dan Instagram. Itulah menurut sang direktur mengapa ketika pemaren seni di Cina dibuka secara online justru bertambah banyak yang berkunjung. “Di ruang inilah para penikmat seni kerap bertuar info,” kata Xu.

Wabah Covid-19 juga membuat sejumlah pengelola museum bereaksi dengan cepat. Di Indonesia, misalnya, belum lama ini Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara alias MACAN yang berkantor di Jakarta itu terpaksa harus menggelar kegiatannya dengan virtual. “Corona membuat kunjungan ke museum di Jakarta menjadi bermasalah,” tutur Direktur MACAN Aaron Seeto. Dibuatnya kegiatan museum lewat jaringan internet sepertinya membawa dampak signifikan. Seeto mengatakan setidaknya ada 16.000 views di situs yang dikelolanya selama kegiatan berlangsung. “Pandemi telah membuat kita semakin menyadari betapa pentingnya platform digital,” terang Seeto.  

Teks: Emha Asror
Visual: Arsip Artsy.net

Efek Rumah Kaca Bawakan Ulang Lagu Candra Darusman

Candra Darusman, Signature Music Indonesia dan demajors merilis album kompilasi yang menampilkan karya-karya Candra Darusman: seorang musisi, pencipta lagu, penyanyi dan pemerhati hak cipta Indonesia. Kompilasi ini mengedepankan Efek Rumah...

Keep Reading

Ketika BLCKHWK Gambarkan Sisi Alami Sifat Manusia

Di awal tahun 2022 ini, BLCKHWK telah melepas album debutnya bertajuk Decomposing Rotting Flesh. Untuk memperpanjang nafas album, baru-baru ini unit yang dihuni oleh Arison Manalu (vokal),  Billy Rizki (gitar),...

Keep Reading

Karya Baru dan Rangkaian Tur Musik Isman Saurus

Di sekitar akhir 2021 lalu, solis asal Lumajang Jawa Timur, Ismam Surus telah melepas album penuh bertajuk Orang Desa. Sebagai rangkaiannya, di tanggal 24 Maret lalu ia telah melepas sebuah...

Keep Reading

Nuansa Anime di Karya Terbaru Moon Beams

Inspirasi untuk membentuk sebuah band bisa datang darimana saja, termasuk dari sebuah  anime. Jika kalian pernah menonton anime lawas berjudul BECK tentu tak akan asing dengan original soundtrack-nya bertajuk Moon...

Keep Reading