Pameran Perdana di Lawangwangi Creative Space

Dengan berlakunya physical distancing di seluruh dunia yang terdampak Covid-19, banyak museum dan kegiatan seni yang dengan terpaksa menutup segala aktivitasnya dari keramaian. Hal itu juga berlaku di sini. Kondisi saat ini dengan segala keterbatasannya memang butuh perhatian khusus, dan memberikan tantangan tersendiri bagi para pelaku seni di seluruh dunia, begitu pula yang dirasakan oleh mereka yang ada di Indonesia. Situasi yang menuntut untuk beradaptasi dengan kondisi agar bisa membuka kemungkinan baru untuk mengakali situasi. Tantangan ini juga memberi kesempatan bagi perupa generasi baru untuk bereksperimen dan bisa memberikan kontribusi serta solusi dalam kehidupan bermasyarat dan menghadirkan sebuah karya yang berfungsi untuk kemaslahatan orang banyak.

ArtSociates dari Bandung perdana akan menggelar sebuah pameran setelah masa swakarantina mulai dilonggarkan. Kali ini, mereka akan menghadirkan ragam karya dari seorang seniman seni rupa modern, Gregorius Sidharta Soegijo. Membingkai karya maestro seni rupa modern dalam konteks seni rupa kontemporer merupakan upaya yang mengandung tantangannya tersendiri. Dalam Poetical Vector, G. Sidharta, seorang maestro seni modern Indonesia yang sudah memperlihatkan gejala eksplorasi estetik yang cair, eklektik, dan plural, akan kemudian dihadirkan bersamaan dengan generasi seniman muda Bandung yang dan aktif berkarya dalam konteks kebudayaan saat ini, antara lain: Erwin Windu Pranata, Gabriel Aries Setiadi, Rendy Raka Pramoedya, dan Mujahidin Nurrahman. Tajuk Poetical Vector dipilih untuk menggambarkan arah perkembangan dan dinamika abstrak di Indonesia, dari periode modern hingga saat ini, yang menunjukkan ragam nilai dan makna sublim yang puitis. 

Di pameran ini, karya dari sang maestro akan berfokus pada seni instalasi patung miliknya. Dalam kehidupan karya serta perkembangan seni rupa modern di Bandung, patung adalah sebuah wadah eksplorasi yang bisa merangkul ragam bentuk eksperimen dan juga sangat bisa untuk dieksplor dengan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Fokus ini kemudian menjadi jangkar pada karakter-karakter partikular sebelumnya yang diperlihatkan Sidharta sebagai landasan yang relevan untuk dipersandingkan dengan generasi seniman saat ini dengan kesadaran berkesenian dan metode penciptaan yang lebih mutakhir.  Meskipun Sidharta aktif berkesenian dalam konteks dan paradigma nilai modern, ragam gejala seni kontemporer yang berciri plural, inklusif, dan terbuka sejatinya sudah terlihat dalam riwayat eksperimentasi artistiknya. 

“Merespon kondisi yang harus dihadapi di tahun 2020, kami percaya bahwa pengetahuan mengenai komunitas budaya dan kesenian perlu tetap disebarluaskan. Upaya kami dalam beberapa bulan terakhir salah satunya adalah memamerkan karya-karya dari rangkaian perayaan 10 Tahun ArtSociates dalam bentuk ruang pamer virtual daring lalu pada Juli 2020 kami melanjutkan upaya kami dengan menghadirkan eksibisi publik guna membuka akses bagi semua penikmat seni. Menggunakan sistem reservasi terbatas dan protokol kesehatan terbaru, kami mengundang anda untuk menikmati pameran kami selanjutnya.” Terang pihak panitia.

poster pameran

Sebagai bentuk penelusuran lebih jauh,keterlibatan sejumlah seniman kontemporer akan memperlihatkan kesadaran formal dan sensibilitas bentuk yang cukup khas dan diutamakan. Basis paradigma seni kontemporer yang tentu melandasi kekaryaan mereka akan melahirkan pendekatan yang berbeda dan juga namun masih dapat ditelusuri keterkaitannya. Wacana representasi seni dan terobosan-terobosan baru di bidang sains sosial tentu hadir sebagai paradigma yang turut mempengaruhi, yang kemudian melahirkan proses pemaknaan yang penuh dengan diversifikasi sekaligus khas berlandaskan pada individualitas masing-masing seniman. Kekhususan ini – disadari atau tidak oleh para senimannya – kemudian berkorespondensi dengan satu atau beberapa fitur kekaryaan G. Sidharta yang menjadikannya secara tidak langsung sebagai ‘pewaris’ nilai dan makna yang terkandung dalam dinamika Mazhab Bandung. Pembukaan dari pameran ini akan berlangsung pada 10 Juli, dan bertempat di Lawangwangi Creative Space. Bagi publik yang ingin hadir melihat berbagai karya ini, diharapkan untuk melakukan reservasi terlebih dahulu, atau menunggu pembukaan pameran secara daring.

poster pameran

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari ArtSociates

Semeti Medley, MV The Dare Besutan Allan Soebakir

Pantai! Lombok! Apa yang pertama terlintas di benak kita mendengar dua kata diatas. Tentunya hamparan garis pantai nan panjang lengkap dengan pasir putih, ombak yang riang dan air laut yang...

Keep Reading

Morgensoll Luncurkan Nomor Ganda “NT/M(o)” dan “Till I’m Forgiven”

Unit post-metal Jakarta, Morgensoll baru-baru ini telah memperkenalkan karya teranyanyar. Kali ini mereka datang dengan nomor ganda “NT/M(o)” dan “Till I’m Forgiven” yang sudah bisa dinikamti di semua kanal musik...

Keep Reading

Cerita Iblis dan Manusia di Album Kedua Parakuat

Ranah musik elektronik di Indonesia selalu menarik untuk di simak, terlebih geliatnya di arus pinggir. Banyak seniman bunyi muncul dengan coraknya sendiri dan membawa hasil eksperimentasinya masing-masing. Ranah ini terus...

Keep Reading

The Jansen Persembahkan Album Ketiga

Usai melepas nomor “Mereguk Anti Depresan Lagi” yang cukup mencuri perhatian, The Jansen, trio punk rock dari kota hujan Bogor akhirnya meluncurkan album ketiganya bertajuk “Banal Semakin Binal” (29/7) dalam...

Keep Reading