Pameran Karya Graffiti di Jaket Jeans oleh Museum of Graffiti

Sebuah bentuk solidaritas bersama gerakan Black Lives Matter, Miami’s Museum of Graffiti baru-baru ini meluncurkan pameran baru berjudul “The Fabric of America: Artists in Protest.” Dalam programnya, lembaga ini meminta lebih dari 30 seniman grafiti lokal dan ilustrator untuk membuat ragam karya seni protes pada jaket denim yang berdasarkan banyaknya papan protes yang dipakai oleh banyak demonstran beberapa waktu lalu di berbagai belahan dunia.

Untuk menemani hadirnya karya-karya berbasis tekstil ini, dibuatlah sebuah mural besar yang berjudul “American History” yang terletak di dekat museum di NW 25th Street dan 3rd Avenue. “Berfokus pada pengalaman dan perjalanan kulit hitam dalam sejarah AS dimulai pada awal 1800-an hingga hari ini, mural raksasa yang dikuratori oleh Museum Graffiti ini menangani subyek kebrutalan polisi, ketidakadilan rasial, dan perlawanan.”

Selain itu, museum ini juga meluncurkan cetakan edisi terbatas oleh Futura, Tristan Eaton, dan Cey Adams. Cetak tiga warna Futura merujuk pada bendera Amerika, tetapi dia dengan sangat berani mengganti garis-garis merah dan putih dengan berbagai kolaso dari beragam gambar. Frasa seperti “rasisme adalah pandemi” dan “diam adalah kekerasan” dmasukkan ke dalam komposisi karya kolase tersebut. Hasil cetaknya tersebut dihargai $ 75 USD masing-masing dan memiliki ukuran 18×24 inci. KArya-karya ini akan dirilis di situs web Museum of Graffiti 29 Juli di waktu siang hari. Semua bagian dari hasil Futura akan didonasikan kepada Empowered Youth, sebuah organisasi nirlaba di Wynwood yang melayani kaum muda kota terdalam.

Museum Graffiti saat ini terbuka untuk umum dengan tetap menjalankan prosedur keselamatan yang sesuai, termasuk sistem antrian yang hanya memungkinkan enam orang untuk memasuki lokasi setiap 15 menit. Di tempat lain, broker real estat dunia seni Jonathan Travis telah menyelenggarakan pameran virtual yang disebut “Life Still” yang mengumpulkan uang untuk Dana Hukum NAACP dan Bank Makanan untuk Kota New York.

Sepanjang akhir 1960-an dan awal 1970-an di kota-kota besar di seluruh Amerika Serikat, anak-anak menemukan banyak bentuk seni baru yang dimulai dengan menuliskan nama mereka di dinding yang ada di lingkungan mereka. Pemerintah daerah meluncurkan kampanye pembersihan dan mengamanatkan agar para seniman muda tersebut ditangkap karena vandalisme yang dibuat oleh mereka, tetapi gerakan-gerakan itu pada akhirnya tidak dapat dihentikan. Kaum muda tersebut tak henti-hentinya terus maju dengan kecepatan tinggi dengan menghadirkan berbagai inovasi kreatif dan dalam perjalanannya banyak generasi baru yang terinspirasi dari gerakan itu.

Dalam waktu singkat, tulisan-tulisan dinding dengan cepat berkembang menjadi lebih rumit dan dekoratif. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya ciri khas unik dan dapat dibedakan seperti panah, mahkota, dan inovasi lainnya melalui desain dan warna, hal ini kemudian diaplikasikan menjadi sebuah cetak biru untuk berbagai produk seni yang hingga saat ini masih bisa dinikmati. Lima puluh tahun kemudian, Museum Graffiti dibentuk untuk melestarikan sejarah grafiti dan merayakan kemunculannya dalam desain, mode, iklan, dan galeri. Program dari Museum tersebut mencakup ruang pameran dalam ruangan, sebelas mural eksterior, galeri seni rupa, dan toko suvenir kelas dunia yang dipenuhi dengan merchandise edisi terbatas dan barang-barang eksklusif dari seniman grafiti paling berbakat di dunia.

Museum Graffiti memamerkan, mendidik, dan merayakan ribuan karya dari seniman grafiti yang telah mengubah dinding di ruang publik kita menjadi karya agung yang memiliki semangat besar di setiap warna yang ada. Museum ini terletak di jantung Wynwood. Daerah yang dulunya merupakan kawasan industri yang sepi, diubah oleh seniman grafiti menjadi sebuah galeri luar ruangan terbesar di dunia. Meskipun menjadi tujuan utama dari museum ini adalah untuk menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungu oleh orang-orang dari seluruh dunia, Museum Graffiti adalah museum pertama di Wynwood. Untuk pajangan utama dari pameran ini akan ada di dalam ruangan, dan Museum telah mengakuisisi beberapa dinding di luar untuk menyajikan karya seniman grafiti top hari ini.

jaket denim di museum of graffiti

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip museumofgraffiti.com

My Bloody Valentine Kritik Spotify Soal Lirik yang Salah

Di antara kalian pasti ada dong yang pernah memutar lagu di Spotify sambil menikmati fitur lirik yang disediakan. Lewat fitur ini, para pengguna Spotify bisa sambil bernyanyi sesuka hati. Tapi,...

Keep Reading

Patahan Imajinasi Masa Kecil di Nomor Terbaru Latter Smil

Latter Smil, duo asal kota Palu yang dihuni oleh Dian dan Eko, dipermulaan tahun 2022 ini kembali melepas karya teranyarnya bertajuk “Kalila”. Lewat single ini Latter Smil mencoba untuk memberikan...

Keep Reading

Perjalanan Skena Musik Ambarawa dalam Album Kompilasi They Hate Us

Terlihat dalam beberapa tahun terakhir, produksi album kompilasi skena musik lokal mulai kembali marak. Tercatat ada beberapa deretan kompilasi yang terbit pada setahun-dua tahun ke belakang, seperti Bikin Kompilasi: Bless...

Keep Reading

Dua Album Milik Semiotika Akhirnya Dilepas Secara Digital

Usai merilis album penuh bertajuk Eulogi, unit post-rock asal Jambi, Semiotika akhirnya merilis dua album terdahulunya Ruang (2015) dan album mini Gelombang Darat (2018) ke dalam format digital. Sementara album...

Keep Reading