Pameran dari 12 Seniman Kulit Hitam di UTA Artist Space

UTA Artist Space, sebuah Galeri yang berbasis di California baru saja meluncurkan sebuah pameran virtual pertamanya di tengah kondisi pandemi coronavirus. Di mulai pada hari ini dan akan berjalan hingga 3 Juli 2020, Galeri ini sendiri akan menjadi tuan rumah dari program pameran yang mereka beri nama Renaissance: Noir, dan akan menampilkan lukisan hasil karya dari| 12 seniman berkulit hitam. Dikuratori oleh Myrtis Bedolla, pemilik Galerie Myrtis, Baltimore, Renaissance: Noir dikatakan akan memperlihatkan ragam perspektif dari “Kegelapan di ragam rangkaian historiografi narasi milik seniman kulit hitam yang memperlihatkan banyak gerakan secara individu dan kolektif, serta bentuk pikiran dan keadaan mereka sebagai orang kulit hitam.” Pameran ini sendiri sengaja digelar guna merayakan budaya dan kebangkitan atas gerakan Black Lives Matter yang menyebar setelah kejadian pembunuhan George Floyd di tangan seorang perwira polisi kulit putih di Minneapolis.

Para seniman yang termasuk dalam Renaissance: Noir adalah Tawny Chatmon, Wesley Clark, Alfred Conteh, Larry Cook, Morel Doucet, Monica Ikegwu, Ronald Jackson, M. Scott Johnson, Delita Martin, Arvie Smith, Nelson Stevens dan Felandus Thames. Pengkaryaan mereka secara kolektif mampu menangkap keberadaan “kesadaran ganda” sebagaimana diciptakan oleh W.E.B. DuBois, di mana seseorang terus-menerus memerangi persoalan “isme”-racism, colorism, sexism, kapitalism, kolonialisme, dan kritisisme melalui aksi aktivisme artistik. Kehadiran dari pameran ini sangatlah penting, karena peluncurannya dilakukan di tengah-tengah meningkatnya kesadaran semua orang tentang ketidakadilan rasial yang terjadi terhadap komunitas kulit hitam, dengan banyaknya protes yang terjadi di seluruh dunia. Acara ini juga sebagai penanda pameran virtual perdana dari UTA Artist Space.

Sebagian besar hasil dari pameran akan disumbangkan kepada yayasan Artist Relief, sebuah koalisi pengumpul donasi yang telah bergerak untuk mendukung seniman di tengah pandemi. Dari pameran itu, Arthur Lewis, direktur kreatif UTA Fine Arts dan UTA Artist Space, mengatakan: “Berkat Myrtis Bedolla saya pertama kali melihat karya Amy Sherald dan Jamia Richmond Edwards. Dia adalah seorang visioner sejati yang terus memberikan visibilitas yang lebih luas ke narasi Blackness.”

Bedolla menambahkan: “Renaissance: Noir lebih tajam dari sebelumnya ketika kami berbagi karya-karya yang membangkitkan pemikiran yang menggambarkan perjalanan sosial, politik, dan historis dari pengalaman orang-orang ini melalui narasi antar generasi. Saya senang bisa bermitra dengan UTA Artist Space untuk menghadirkan koleksi lukisan, cetakan, foto, patung, dan karya konseptual yang tepat waktu, yang mencakup lebih dari 40 tahun produksi artistik.”

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip UTA Artist Space

Efek Rumah Kaca Bawakan Ulang Lagu Candra Darusman

Candra Darusman, Signature Music Indonesia dan demajors merilis album kompilasi yang menampilkan karya-karya Candra Darusman: seorang musisi, pencipta lagu, penyanyi dan pemerhati hak cipta Indonesia. Kompilasi ini mengedepankan Efek Rumah...

Keep Reading

Ketika BLCKHWK Gambarkan Sisi Alami Sifat Manusia

Di awal tahun 2022 ini, BLCKHWK telah melepas album debutnya bertajuk Decomposing Rotting Flesh. Untuk memperpanjang nafas album, baru-baru ini unit yang dihuni oleh Arison Manalu (vokal),  Billy Rizki (gitar),...

Keep Reading

Karya Baru dan Rangkaian Tur Musik Isman Saurus

Di sekitar akhir 2021 lalu, solis asal Lumajang Jawa Timur, Ismam Surus telah melepas album penuh bertajuk Orang Desa. Sebagai rangkaiannya, di tanggal 24 Maret lalu ia telah melepas sebuah...

Keep Reading

Nuansa Anime di Karya Terbaru Moon Beams

Inspirasi untuk membentuk sebuah band bisa datang darimana saja, termasuk dari sebuah  anime. Jika kalian pernah menonton anime lawas berjudul BECK tentu tak akan asing dengan original soundtrack-nya bertajuk Moon...

Keep Reading