Pameran Arsip Besar dari Gulung Tukar

Banyak hal yang bisa menjadi faktor agar kita bisa terus berkarya. Salah satunya adalah kegelisahan akan minimnya geliat kreatif di kota sendiri. Hal itu yang dirasakan oleh kolektif Gulung Tukar yang ada di Tulungagung. Mereka lahir atas dasar keinginan untuk menumbuhkan pergerakan kreatif agar semakin aktif, bergerak bersama untuk menghidupkan bara semangat para muda-mudi di Tulungagung. Saling menggulung menciptakan gelombang dan bertukar kebaikan dalam bentuk apapun.

Setelah berproses selama kurang lebih satu bulan, program pengarsipan dan pertunjukan kolaborasi yang diinisiasi oleh kolektif Gulung Tukar di Tulungagung siap dirilis. Total ada 12 arsip tentang budaya tradisional maupun gerakan seni kontemporer di Tulungagung. Sementara, di program pertunjukan kolaboratif ada 8 seniman/musisi dari Tulungagung yang berkolaborasi dengan seniman/musisi dari luar kota. Hasil arsip maupun pertunjukan akan dirilis dan disiarkan secara daring lewat kanal media sosial Instagram Gulung Tukar (@gulung.tukar). Rilis arsip dan siaran langsung akan dilakukan secara berkala dari 1 Oktober – 1 Desember 2020. Format daring seperti ini dipilih sebagai respons atas situasi pandemi Covid-19.

Dua program ini, yaitu pengarsipan dan pertunjukan kolaborasi, merupakan pre-event untuk acara Gulung Tukar tahun depan. Lewat program pengarsipan, Gulung Tukar ingin menggali kembali memori serta catatan sejarah lokal tentang seni dan budaya dalam skala dan format yang beragam. Sejarah alternatif yang ditulis oleh pelaku-pelakunya sendiri ini diharapkan bisa jadi wacana alternatif dan menempatkan Tulungagung dalam konteks ingatan yang lebih luas. Arsip ini menjadi tonggak untuk memancangkan Tulungagung dalam arus sejarah yang lebih luas, bahwa kota yang biasa disebut tak memiliki pergerakan apa-apa, selama ini sebetulnya selalu jadi ruang tumbuh bagi pegiatnya. Semua hasil arsip dapat diakses dengan bebas secara daring.

 

Misalnya, arsip tentang Tetek Melek yang digarap oleh Excris Endy yang mengulas tradisi khas di Tulungagung semasa pagebluk. Atau penggalian catatan tentang kelompok Siswobudoyo yang telah kondang di Tulungagung dalam bentuk film dokumenter. Ada juga arsip tentang skena musik metal oleh Pradika Lahitama yang menggambarkan pergerakan yang lebih kekinian.

Sementara, selain untuk menunjukkan potensi seni pertunjukan baik modern dan tradisi di Tulungagung, program pertunjukan kolaborasi ini bertujuan untuk membangun jejaring kesenian dengan pegiat dari kota-kota lain. Musisi dari luar kota seperti Jono Terbakar (Yogyakarta), Agus Nur Amal (Aceh), serta kota-kota lain terlibat untuk menggarap pertunjukan bersama seniman Tulungagung, seperti Sunu Wahyu Mahendra (Barong Piknik), Detroak, Sendra Tari Baru Klinting, dan lainnya.

Kurator untuk dua program ini adalah: Benny Widyo, Titah AW, dan Tanaya Pratama; mengaku senang sekali terhadap antusiasme kawan-kawan yang terlibat. Setelah sukses mengadakan acara seni multidisiplin akhir tahun 2019 lalu, acara ini semakin meneguhkan konsistensi Gulung Tukar dalam membangun ekosistem seni di Tulungagung.

“Gulung Tukar itu pingin membangun ekosistem seni di Tulungagung. Jadi nggak cuma memantik acara seni atau seniman, tapi juga pengarsip yang mencatat, serta pertunjukan. Semua sama penting dan saling melengkapi,” jelas Benny Widyo yang juga adalah penggagas kolektif ini.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Gulung Tukar

My Bloody Valentine Kritik Spotify Soal Lirik yang Salah

Di antara kalian pasti ada dong yang pernah memutar lagu di Spotify sambil menikmati fitur lirik yang disediakan. Lewat fitur ini, para pengguna Spotify bisa sambil bernyanyi sesuka hati. Tapi,...

Keep Reading

Patahan Imajinasi Masa Kecil di Nomor Terbaru Latter Smil

Latter Smil, duo asal kota Palu yang dihuni oleh Dian dan Eko, dipermulaan tahun 2022 ini kembali melepas karya teranyarnya bertajuk “Kalila”. Lewat single ini Latter Smil mencoba untuk memberikan...

Keep Reading

Perjalanan Skena Musik Ambarawa dalam Album Kompilasi They Hate Us

Terlihat dalam beberapa tahun terakhir, produksi album kompilasi skena musik lokal mulai kembali marak. Tercatat ada beberapa deretan kompilasi yang terbit pada setahun-dua tahun ke belakang, seperti Bikin Kompilasi: Bless...

Keep Reading

Dua Album Milik Semiotika Akhirnya Dilepas Secara Digital

Usai merilis album penuh bertajuk Eulogi, unit post-rock asal Jambi, Semiotika akhirnya merilis dua album terdahulunya Ruang (2015) dan album mini Gelombang Darat (2018) ke dalam format digital. Sementara album...

Keep Reading