Bangun di pagi hari setelah pesta yang panjang memang bukan pilihan yang tepat. Tapi kami tidak punya pilihan lain, jam 8 pagi kami sudah pergi menuju venue Playtime Festival, kami punya agenda tampil di hari terakhir festival ini. Setelah sarapan singkat di hotel, kami pergi menggunakan shuttle bus dan melanjutkan tidur di perjalanan. Beruntung lalu lintas pagi itu di Ulaanbaatar dan Gachuurt sangat padat, sehingga tidur kami cukup efektif.

Tiba di Waldo Tent, Playtime Festival jam 09:30, artinya kami memiliki 30 menit untuk persiapan. Di hari ke 3 Playtime Festival ini, kami tampil jam 10 pagi, mengiringi Mandala Yoga untuk sesi acro-yoga. Format ini sebenarnya bukan jadi sesuatu yang baru, namun yang kami kagumi adalah bagaimana organizer mengamati potensi yang kami miliki dan kemudian menggabungkannya dengan konten yang ada. Jadilah satu program yang belum pernah kami alami di Indonesia, khususnya di festival musik.

Tepat jam 10:00 kami memulai sesi acro-yoga dengan bagian meditasi. Kami mengalirkan bebunyian yang bisa menenangkan dan membuat peserta yoga focus untuk meditasi. Sesi acro-yoga pagi itu diikuti oleh sekitar 25 orang dari berbagai negara dan latar budaya yang berbeda. Di sesi ini, kami memainkan improvisasi dan merespon setiap gerakan dan pose pada acro-yoga. Tepat jam 11:20, kami menutup sesi acro-yoga dengan kembali di posisi meditasi. Kami pun cukup lega, akhirnya rangkaian agenda wajib di Playtime Festival selesai, dan saatnya untuk agenda tidak wajib lainnya; makan daging, minum beer, menjaring network dan menikmati penampilan headliner di hari terakhir Playtime Festival.

Setelah berbincang banyak tentang rencana selanjutnya dengan Mandala Yoga, kami memutuskan untuk manikmati daging salmon yang besar dengan beer porsi besar juga untuk makan siang. Kali ini, kami memutuskan untuk menyantapkan di spot favorit kami, samping sungai. Hari terakhir ini begitu lambat, kami banyak menghabiskan waktu di samping sungai sambil menunggu matahari terbenam.

Entah kenapa, tiba-tiba suasana siang menuju sore saat itu begitu kuat energinya, kami pun terinspirasi untuk menulis lagu. Lumayan untuk stock materi baru, mumpung muncul inspirasi. Ternyata, beberapa penonton mulai berdatangan dan mengisi area samping sungai dengan berbagai kegiatan; foto-foto, baca buku, leyeh-leyeh, berbincang ringan, dan segala kesenangan lainnya. Sore itu tampak panjang, kami berkenalan dengan beberapa teman baru yang datang dari berbagai negara dan akhirnya suara musik mulai terdengar dari panggung utama, dan kami memutuskan untuk menontonnya.

Setelah menonton 4 band berturut-turut yang membuat kami tidak berhenti bertepuk tangan dan menggerakan badan bersama ribuan penonton lainnya, kami melipir ke VIP area, mengisi ulang amunisi. Setelah duduk lemas, kami semua berpikir; “capek juga ya, ngantuk lagi, balik aja yuk” hahaha.

Sore itu baru jam 19:00, Mongolia masih terang, sunset baru mulai muncul. Niat yang panjang untuk tinggal di venue dalam rangka menutup hari terakhir di Mongolia ini akhirnya gagal dan kalah oleh kelelahan dan rasa kantuk, atau mungkin juga karena faktor usia, hehe. Akhirnya, perbincangan di VIP area itu seputar voting; pulang ke hotel sekarang apa nggak. Dari 4 orang yang ada, 4 orang memilih pulang ke hotel. Sudah dipastikan, kami pun memilih pulang ke hotel dan tidur. Sungguh cara menutup festival yang aneh, dan ini baru sekarang terjadi.

teks: Angkuy
foto/dok: Saska Paloma Gladina

Tulisan pertama bisa dicek di sini.
Dan tulisan kedua bisa dicek di sini.