Entah konsep apa yang ditawarkan, namun gelaran Ornaments menyajikan sebuah pengalaman yang baik. Setidaknya hal itu terwakili oleh dominasi cahaya merah, instalasi jemuran khas area hunian kumuh, pemandangan di ketinggian, serta tentu saja sajian dari sederet penampilnya.

Totalnya ada 15 penampil lintas negara di acara yang terselenggara atas inisiasi dari Siasat Partikelir dan Studiorama serta digelar di Kuningan City Ballroom dari jam 4 sore hingga pukul 3 dini hari tersebut. Proses kurasinya pun menghasilkan sederet musisi dari beragam genre musik. Hal-hal seperti itu menyebabkan para pengunjung banyak yang bertahan hingga akhir.

Meuko! Meuko!, misalnya. Musisi elektronik asal Taiwan ini menjadi salah satu penampil yang harusnya tidak boleh terlewatkan di Ornaments. Katanya, komposisi lagu-lagu miliknya terbuat dari udara kotor Taiwan serta sisi ketidakteraturan di dalam kota tersebut. Melalui visual apik yang melatari set-nya itu, Pon (nama aslinya) memberikan suguhan musik mengentak yang tidak bisa disepelekan.

Pada perhelatan tersebut, ada pula pertunjukkan dari These News Puritans, sebuah unit post-punk asal Southend-on-Sea, Inggris yang masih berkomposisikan trio Jack Barnett, George Barnett, dan Thomas Hein. “We haven’t played this song for around 5 or 6 years,” ungkap Jack sebelum memulai lagu bertajuk “Elvis”. Mereka juga sempat mengajak Scintii atau Stella Chung yang juga merupakan penampil acara Ornaments untuk berkolaborasi di salah satu tembangnya.

Selanjutnya ada BadBadNotGood. Grup jazz instrumental asal Toronto, Ontario tersebut menjadi salah satu penampil paling menawan di Ornaments. Trio Alexander Sowinski, Chester Hansen, dan Leland Whitty itu menyajikan secara apik lagu-lagu semisal “Speaking Gently”, “Lavender”, serta “And That, Too”. Sang drummer, Alexander, tampak menjadi personil yang paling menonjol. Sebelum memberikan tembang terakhir, ia sempat unjuk gigi dengan memberikan sebuah permainan drum solo.

Lalu, tentu saja ada kelompok rock dari Tanah Kangguru, King Gizzard & The Lizard Wizard. Tujuh personilnya hadir lengkap pada set-nya malam itu dan terlihat sedang mengeroyok telinga penonton dengan menghadirkan sejumlah lagu seperti “Mars For The Rich”, “Crumbling Castle”, serta “The Castle In The Air”. Namun penampilan mereka tampak tidak mencapai klimaks.

Entah kenapa seperti itu, bisa jadi karena durasinya yang tidak cukup banyak, permintaan encore yang tak didengar, atau mungkin gara-gara tembang-tembang dari album Flying Microtonal Banana (2017) yang cukup sering saya putar berulang-ulang, tidak dibawakan.

Oh ya, lini lokal pun tidak kalah seru. Gabber Modus Operandi juga adalah salah satu penampil yang ditunggu-tunggu. Aksi langsung dari duo Ican Harem dan Kasimyn memang selalu menarik untuk disimak. Komposisi yang mereka sajikan cukup membuat gila lantai dansa. Sejauh mata memandang, semua orang tampak seperti kesetanan.

Malam itu, Gabber Modus Operandi juga ditemani oleh Siko Setyanto, seorang penari dan koreografer sebagai kolaborator di atas panggung. Lalu, di salah satu lagunya, duo yang menyebut aliran musiknya dengan istilah “post-alay holistic sound healing” itu tiba-tiba memanggil sosok Barong Jathilan yang melenggang masuk ke tengah-tengah kerumunan penonton.

Penampilan yang tersaji di dua panggung yaitu Ruang dan Raung pada perhelatan Ornaments yang terselenggara pada 15 November 2019 itu membuat banyak pengunjung tampak bersenang-senang. Sembari menenteng minuman hasil dari mengantri panjang di area bar, mereka berpesta dengan terus mengingat bahwa manusia perlu menghargai sesamanya.

Semoga Ornaments akan berlanjut ke edisi berikutnya.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Siasat Partikelir