Beberapa waktu yang lalu, Kelompok Penerbang Roket (KPR) merilis live session bertajuk Operasi di Galaksi Palapa. Secara keseluruhan, video ini menampilkan karya-karya mereka dari EP berjudul Galaksi Palapa yang juga baru saja dirilis.

Yang menarik dari live session ini adalah konsep yang diberikan untuk memanjakan mata penonton. Mereka menggunakan setting planet antah berantah. Video ini disutradarai oleh Hasbi Sipahutar, seorang videografer skateboard yang telah menghasilkan sejumlah film di scene itu. Simak obrolan kami dengannya di bawah ini:

Apa sih konsep yang coba ditawarkan di live session yang baru dirilis itu?

Konsep keseluruhan live session ini diambil dari penerjemahan album Galaksi Palapa itu sendiri, yaitu tentang sebuah penemuan galaksi baru oleh tiga penerbang roket ini. Yang kemudian diadaptasi ke dalam bentuk visual ilustrasi sebuah daratan planet baru di dalam galaksi itu dan dilanjutkan ke dalam set live session.Yang sekarang berfungsi sebagai rilisan digital, sebelumnya hanya dapat di dengarkan lewat rilisan fisik. buat yang belum punya rilisan boleh coba diburu karena ada kejutan yg berbeda pula didalam vinyl atau cdnya.

Tema yang diangkat adalah sains fiksi futuristik? Kenapa ambil tema itu?

Karena sesuai dengan nama bandnya, judul albumnya dan nuansa musiknya. Jadi cocok aja kalau digarap dengan tema sains fiksi 60an-70an. Setnya sendiri dibuat manual biar lebih klasik dan organik kali ya?

Dalam pengerjaannya sendiri apakah termasuk sulit atau mudah-mudah saja?

Lumayan, cukup membuat saya dan teman-teman dalam tim ngulik. Karena dari kita semua, terutama, tim produksi visual, belum ada yang pernah mengerjakan live session seperti ini. Seperti menentukan treatment kameranya selama 35 menit live kudu ngapain, haha. Lighting juga begitu, dan di proses offline kebingungan filenya gede-gede dan onlinenya lebih banyak hambatan karena workflow nya mesti ke sana-sini.

Waktu pengerjaannya berapa lama sih?

Persiapannya sekitar satu bulan sebelumnya, pembuatan setnya makan waktu dua hari dan produksinya sehari. Post productionnya lumayan lama karena saya tidak bekerja sendirian, melibatkan banyak pihak biar lebih maksimal.

Oh ya, banyak yang bertanya, dinamakan apa planet yang disinggahi KPR di live session ini? 

Nama planetnya BA-11A. Haha, kalau merujuk ke nama-nama penemuan planet baru kebanyakan seperti ini namanya walaupun nggak harus begitu juga. Nah, kalau kita BA-11A itu sebenarnya alamat kantor. Haha.

Proses produksinya sendiri apakah hanya tim KPR sendiri yang bekerja? Atau ada pihak lain yang membantu?

Di project ini, banyak melibatkan pihak-pihak yang diajak kerjasama. Bisa dilihat di credit titlenya. Namun yang memproduksi sendiri adalah Berita Angkasa –label dan manajemen KPR—.

Perbedaan apa yang elo rasakan ketika mengerjakan documenter band dan skateboard?

Kalau kategorinya dokumenter sih, sama-sama saja. Tergantung treatmentnya, bisa lebih mudah atau lebih sulit. Semuanya berasa sulit ketika mengikuti konsep, treatment dan budgetnya. Haha.

Ada rencana lagi untuk bikin dokumenter skateboard?

Mengikuti angin berhembus aja sih. Kalau ada ide atau penawaran yang cocok, ya langsung sikat-sikatin aja. Haha.

Kembali ke musik. Awal elo ampe bisa terjun ke dunia musik tuh gimana?

Mengalir aja. Waktu itu saya punya project skateboard video yang selalu melibatkan musik buat menjadii musik pengiringnya. Lalu teman-teman juga pada ngeband dan memproduksi musik-musik elektronik, terus ya udah dengan adanya kebutuhan dasar di video, akhirnya sering bekerja sama aja.

Menurut pandangan elo sebagai seorang videografer, industri musik Indonesia saat ini gimana kalo soal produksi video klip ataupun dokumenter?

Lebih dashyat pastinya. Udah bukan jamannya lagi ngeliat video musik atau dokumenter Indonesia yang bagus cuma satu dua, tapi udah semua bagus-bagus. Lebih seru karena udah banyak band atau musisi dan manajemennya mau buat berinvestasi lewat karya video yang jor-joran. Haha.

Kedepannya akan mengerjakan apa lagi nih?

Ke depannya mari kita berinvestasi saham. Kalo kata Polkawars, biar kaya dan punya cincin yang gede-gede. (*)

Teks dan wawancara: Adjust Purwatama
Foto: Krishna Mahaputra