Salah satu band yang mencuri perhatian dan jadi kasak-kusuk perbincangan di 2018 adalah Murphy Radio asal Samarinda. Band mathrock ini, merilis debut album penuh mereka dan berkeliling ke banyak tempat. Termasuk di dalam merayakan kejelian melihat peluang untuk membuat tur mandiri yang diawali oleh undangan-undangan yang membuat mereka tidak terlalu memikirkan ongkos pesawat dari kota mereka –yang syukurlah, pada akhirnya punya bandara sendiri–.

Tiga orang personilnya, Wendra (gitar), Aldi Yamin (bass) dan Muhammad Amrullah (drum), menimba banyak pengalaman pergi tur. Dari segi musik, mereka berani menembus batasan-batasan yang ada di dalam diri. Mencoba membentuk ruang main dan kemudian melanggarnya ketika dirasa perlu berkembang pernah terjadi di dalam kasus Murphy Radio. Coba saja dengarkan lagi Naftalena, debut EP mereka dan album penuh Murphy Radio. Terasa sekali batasan digedor dan penemuan pencapaian baru terjadi.

Murphy Radio adalah bukti bahwa keberanian mencari bentuk musik yang bagus, akan terdengar sampai jauh. Tidak peduli di mana musik itu dihasilkan atau kemasannya seperti apa.

Di akhir tahun 2018 kemarin, ketika sedang menjalani Mid-West Java Tour 2018 bersama Hauste, Siasat Partikelir punya kesempatan untuk membicarakan kiat-kiat merangkai tur dan menjalankannya. Silakan disimak. (*)

Tahun 2018 sepertinya menjadi tahun yang cukup menyita waktu kalian di jalanan ya?  Boleh diceritakan bagaimana sih sistem untuk menjalankan sebuah tur mandiri?

Sebenarnya untuk menjalani sebuah tur mandiri itu, tidak ada sistematis yang khusus. Cukup menghubungi teman-teman kolektif atau organizer di kota yang akan dituju, entah lewat teman atau koneksi yang pernah terjalin sebelumnya. Lalu, menentukan keuangan, tempat tinggal, tempat latihan, jarak lokasi serta makan. Yang paling penting dari semua itu adalah jaringan perkawanan yang sudah pernah dibentuk sebelumnya. Kenapa? Karena kami bisa memperhitungkan semuanya dengan mudah dan bisa meminimalisir budget yang akan keluar banyak seperti sewa penginapan dan transport selama di kota itu.

Berarti jaringan yang kalian miliki sudah ada ya sebelumnya? Lalu untuk menjalankannya sendiri apakah termasuk susah atau mudah?

Kalau untuk menjalankan turnya sih tidak. Asal semuanya memang sudah benar-benar niat dan disiapkan dengan matang intern dan eksternnya. Ya mulai dari kondisi kesehatan ataupun keuangan. Keuangan bukan berarti kami harus bawa yang sangat banyak, bukan seperti itu. Paling tidak, kami membawa sesuai budgeting yang sudah diatur dan berkecukupan selama tur.

Kenapa sih kalian pengen banget menjalankan sebuah tur mandiri? Selain untuk promo album tentunya.

Untuk itu sendiri sih tujuannya adalah untuk menambah teman, lalu memperkirakan sampai mana target pasar yang akan kita tuju. Karena menurut kami tidak semua orang bisa dengan mudah menerima apa yang dimainkan oleh Murphy Radio. Mempelajari kultur skena yang ada di tiap-tiap kota juga menjadi hal yang sangat ingin kami lakukan. Beda kota, beda kultur pastinya. Lalu, karena ada permintaan dari berbagai kota untuk kami melakukan tur. Yang terakhir menemani Hauste juga. Oh iya Hauste sendiri merupakan band asal Singapura dan juga teman kami di label yang sama (An Atmos Initiative). Jadi tur ini sendiri juga kejadian karena mereka ingin tur di Indonesia, mumpung mereka lagi libur dan pengennya kami yang menemani untuk tur. Jadilah.

Di tur yang lain, kalian pernah dapat kesempatan main di Kanada karena menang Planetrox. Menurut kalian, bagaimana sih pengalaman ini untuk Murphy Radio? Infrastrukturnya beda kan?

Sangat-sangat seru sekali. Audience di sana, menurut kami, beda tipis dengan yang ada di Pulau Jawa. Kami sendiri nggak nyangka kalau mereka sangat excited dengan penampilan kami. Tidak hanya menonton, mereka juga membeli cd dan ngajak ngobrol kami saat setelah tampil. Yang cukup menjadi pembeda di sini dan di sana adalah sound engineer. Mereka benar-benar mengayomi anak band, baik dan nggak beda-bedain band apapun walaupun bukan dari negara yang sama. Satu lagi yang menurut kami sangat seru adalah ketika kami ketinggalan pesawat. Itu juga karena kesalahan jadwal dari si maskapai sendiri sih, untungnya mereka sangat bertanggung jawab jadi kami bisa melanjutkan perjalanan tanpa keluar biaya tambahan sepeserpun.

Seringkali kita dengar bahwa PR besar bagi band untuk tur biasanya adalah persoalan gear dan tools yang akan dibawa. Mengingat setiap tur kalian hanya berangkat berempat. Kalau untuk kalian sendiri bagaimana mensiasatinya?

Sebenarnya untuk Murphy Radio sendiri, gears yang kami miliki tidak terlalu banyak dan merepotkan.  Untuk bass hanya amp simulator dan gitar cuma satu efek digital saja. Tapi sejauh ini kami selalu menerapkan membawa barang yang sekiranya diperlukan saja. Bahkan untuk pakaian kita tidak membawa terlalu banyak, yang penting baju untuk perform diamankan. Selain itu kita coba sebisa mungkin untuk tidak membawa koper, kecuali untuk merchandise kami.

Saat kemarin melihat penampilan kalian di Bandung, ada satu lagu yang kata kalian jarang dimainkan jika sedang tur. Lalu, disambung, apa sih beda main di kota sendiri dan di kota orang?

Iya, judul lagunya Post-Holiday. Karena lagu itu kami nobatkan sebagai lagu yang paling sulit di album ini. Butuh fokus ekstra. Kami cuma nggak mau saat dibawain hasilnya nggak maksimal. Makanya butuh pertimbangan khusus untuk bawain lagu itu, salah satunya “dalam keadaan sadar”. Hahaha. Nah, bedanya main di kota sendiri sama di luar cukup banyak ya. Mulai dari audience sampai line up band. Secara “ramah” nya sih sama, tapi apresiasinya yang beda. Habis main nggak sedikit yang beli cd dan merchandise, ngajakin ngobrol, berfoto, dll.

Berarti, tur itu bukan hal susah yang dilakukan. Nah, menguntungkan nggak?

Tur itu sangat mungkin , karena hampir di tiap kota sebenarnya ada organizer atau komunitasnya. Untuk budgeting juga alternatifnya banyak, bisa crowdfunding atau sponsorship. Kalo keuntungan dari segi materi mungkin belum terlalu menguntungkan sih. Tapi kami selalu bisa jualan, dapat teman banyak, jalan-jalan dan  dapet energi baru untuk dibawa pulang.

Pengalaman tur yang paling absurd dan gila?

Ada dan nggak bakal kami lupakan. Dulu waktu tur pertama Murphy Radio di Solo. Di situ mainnya, di situ juga tidurnya. Saat itu mainnya di salah satu kampus yang ada di sana. Penontonnya sebagian besar adalah cowok-cowok gondrong dan banyak ciunya. Haha. Tapi kami selalu ingin kembali ke sana. Pertama kali tapi sangat membekas bagi kami.

Apa sih yang diharapkan dari audience yang menyaksikan kalian main?

Semoga semakin tertantang untuk mendengar warna musik yang baru dan menilai bener-bener dari musiknya bukan dari kemasan, atau lingkungan asalnya.

Tips dari kalian untuk band yang ingin menjalankan sebuah tur mandiri?

Sebagian besar sudah disebutkan diatas, tapi ada satu hal yang selalu kami wanti-wanti dan memang juga harus diterapkan di tiap player adalah menahan ego. Bayangkan saja jika sedang tur tapi ada satu player yang egonya besar sendiri, pasti akan ambyar dan jadi perselisihan di tengah jalan. Tapi sejauh ini kami bisa menahannya. Hehe.

Teks: Adjust Purwatama
Foto: Dokumentasi Murphy Radio