No Wave; Ombak Besar Tanpa Gelombang

Di arena musik eksperimental yang bising, mungkin kita akan mengenal beberapa nama yang ikonik. Katakanlah salah satunya Sonic Youth. Namun sebelum membentuk Sonic Youth, Thurston Moore dan Kim Gordon sempat menjadi bagian dari sebuah gerakan seni ultra-radikal di New York pada sekitaran akhir tahun 70-an. Gerakan tersebut bernama No Wave. Sekilas mungkin kita akan menyetarakan gerakan ini dengan gerakan-gerakan lain seperti Punk atau  yang kemudian terdengar agak ramah, Post-Punk atau New Wave. Meskipun berada pada periode yang sama, tentu No Wave bukanlah bagian dari kedua gelombang itu. Melainkan sebuah gerakan konfrontatif yang menjungkir balikan estetika seni arus pinggir yang semakin tereduksi semangat dan idealismenya oleh industri yang komersil. Entah itu musik, seni rupa, film, maupun sastra. 

Gerakan ini didasari atas kejemuan para seniman muda dengan fantasi-fantasi semu yang diberikan oleh para seniman yang karya-karyanya mentereng di museum maupun karya musik yang hilir mudik di televisi dan radio. Mereka menolak dan menghancurkan pelbagai standar  estetika seni yang ditentukan oleh para elitis seni di New York, para kurator maupun label rekaman. Gerakan ini menyingkap tirai gemerlap kota New York dan menampilkan realitas kota yang sesungguhnya: gelap dan kotor. Penyair cum musisi yang juga terlibat dalam gerakan ini, Lydia Lunch pada sebuah sesi wawancara dengan New York Times di tahun 2008 menerangkan bagaimana kondisi kota New York pada saat itu.

“New York at that moment was bankrupt, poor, dirty, violent, drug-infested, sex-obsessed –delightful,”

Thurston Moore dan Kim Goordon
Thurston Moore and Kim Goordon

Gerakan No Wave sendiri banyak dipengaruhi oleh paham-paham Nihilisme. Maka tak aneh jika kemudian gerakan ini berumur pendek. Mitos pun dialamatkan pada gerakan ini, pasalnya mereka bergerak secara misterius dan tak jelas juntrungannya. Tak ada regenerasi, daripada menjadikan sebuah gerakan menjadi mapan, mereka memilih untuk menghancurkan diri lalu membangun ulang rel-nya masing masing. 

Tak hanya di ranah musik, gerakan ini pun mengakomodir pelbagai seniman multi-disiplin. Di ranah film kita dapat menemui Jim Jarmusch, seorang filmmaker anarkis yang karyanya identik dengan warna hitam putih, Eric Mitchell, dan Vincent Gallo. Kemudian di ranah visual ada Stefan Eins, Ann  Magnuson, John Fekner, Barbara Ess, Joseph Nechvatal, dan Alan Vega –personel Suicide dan artis visual yang pada tahun 1976 memblokade Museum of Modern Art (MoMA). Sedangkan di ranah musik, gerakan ini melahirkan beberapa nama, diantaranya Lydia Lunch, D N A, Teenage Jesus and the Jerks, Mars, the Contortion, serta duo punggawa Sonic Youth, Thurston Moore dan Kim Gordon.     

D.N.A. group
D N A

Namun tentu, musik masih menjadi sektor yang paling efektif untuk menggambarkan kekacauan yang diberikan oleh No Wave. Brian Eno adalah tangan dingin yang membuat gerakan ini semakin dikenal luas oleh khalayak, terutama para seniman bawah tanah. Dengan nama besar dan keterampilannya meramu musik, ia terlibat dalam album kompilasi bertajuk No New York di tahun 1978. Album ini sekaligus menjadi dokumentasi dan tanda keberadaan gerakan No Wave yang agresif. Album monumental tersebut setidaknya berisi 16 lagu (side A dan side B) dari berbagai band noise yang saat  itu sedang bergeliat di New York, diantaranya Contortion, Teenage Jesus and Jerks, Mars dan DNA. Pada 2005, album ini dirilis ulang dan mendapat sambutan yang cukup meriah dari media maupun kritikus musik.

Selain dari kompilasi album, Keberadaan Thurston Moore menjadi sangat vital. Ia merupakan kurator pada gigs-gigs No Wave yang diselenggarakan pada kelab-kelab underground di New York. Para musikus Noise pun silih bergantian mengisi gigs tersebut. Dan kegaduhan gigs ini pula yang membawa Brian Eno terlibat. 

Selain dalam kompilasi album No New York, jejak gerakan No Wave bisa kita temui juga dalam film Kill Your Idols yang dirilis tahun 2005. Film ini menampilkan wawancara beserta cuplikan gigs yang pernah terselenggara. Atau mungkin di film garapan Jim Jarmusch, Suicide: Punk Attitude Documenter. Yang mengangkat duo eksponen No Wave, Alan Vega dan Martin Rev.  

Diantara gegap gempita industri musik tahun 1970-an akhir, tanpa tendeng aling-aling No Wave hadir sebagai ombak yang siap menyapu apapun yang dilaluinya. Meskipun suaranya tak sebesar gerakan-gerakan lain seperti Hippies ataupun Punk, tapi No Wave memberikan gambaran yang ideal tentang bagaimana seharusnya budaya tandingan bekerja.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Kolaborasi Selanjutnya Antara Yellow Claw dan Weird Genius

Duo Belanda Yellow Claw kembali berkolaborasi dengan Weird Genius mengusung lagu baru bertajuk ‘Lonely’ bersama finalis Indonesian Idol Novia Bachmid. Weird Genius dan Yellow Claw sebelumnya pernah berkolaborasi di lagu...

Keep Reading

Reruntuhan Akhir Dunia di Album Keempat Extreme Decay

Usai melepas beberapa materi pemanasan menuju album barunya, unit Grindcore kota Malang, Extreme Decay, akhirnya secara resmi melepas album keempatnya pada 29 April 2022 lalu yang diberi tajuk Downfall Of...

Keep Reading

KIAMAT Bagi Rekah di Album Perdananya

Sejak kemunculannya di medio 2015 lalu, unit skramz/blackgaze Rekah sudah mencuri perhatian dengan materi-materi musiknya. Tujuh tahun berlalu, bertepatan dengan Hari Buruh Internasional yang jatuh di awal Mei 2022 lalu,...

Keep Reading

Indra7 Lepas Gabriel EP Lewat Dead Pepaya

Di kancah musik elektronik, nama Indra Asikin Isa atau yang lebih akrab disapa Indra7 tentu tak bakal asing di telinga kita. Perjalanannya merentang panjang. Jejaknya bisa kita simak diberbagai medium...

Keep Reading