Nada Siasat Vol. 2.3: Mendung Harapan

Yo balik lagi dengan daftar putar Nada Siasat. Bagaimana kabar kalian? Pasti sedang kesal karena ulah pemerintah yang mengesahkan UU Cipta Kerja yang penuh dengan kontroversi itu. Tak apa, namanya juga hidup, kita mesti terus membela hak-hak hidup yang kita punyai. Banyak hal pasti telah terjadi sepanjang tahun ini, berbagai polemik di masyarakat juga turut mewarnai geliat kehidupan kita. Sembari terus mencari kebenaran di tengah kondisi pelik yang ada, ada baiknya mendengarkan ragam lagu baru dari para musisi-musisi ini. Mereka ada yang baru, tapi ada juga yang sudah lama malang melintang di dunia musik tanah air. Materi-materi yang ada di sini sangat menyenangkan untuk didengarkan dengan jangka yang cukup lama. Silahkan disimak!

Garside – Cruel

Setelah terakhir kali merilis EP bertajuk “should’ve been/could’ve been” di tahun 2018, kini band asal Medan yg sekarang berbasis di Jakarta ini kembali merilis single penyambut album mereka yg berjudul “Cruel”. Lagu ini menceritakan tentang seseorang yg dihadapkan dengan suatu kekejaman dan kebohongan yg berulang-ulang, dan terjebak dalam kondisi mengerikan tak terelakkan yg harus dijalani dengan penuh ketakutan dan penuh pertanyaan, dimana dia berharap mendapat penjelasan terhadap kondisi yg sedang dilaluinya. Singkat cerita, “Cruel” menceritakan tentang sebuah tirani, yg bisa diartikan ke dalam kondisi apapun.

After the last time releasing an EP entitled “should’ve been / could’ve been” in 2018, now the Medan-based band who is now based in Jakarta has released their album’s welcoming single entitled “Cruel”.

Toscasoda – Refraction

Band yang debut perdana pada tahun 2019 ini memainkan musik dreampop yang dibalut dengan nuansa gloomy dari shoegaze. Sebagai perkenalan, dirilislah single “Refraction” ini ke khalayak ramai melalui layanan musik dalam jaringan. Dalam lagu ini, mereka mencoba untuk melepas segala hal yang menjadi pertanyaan seputar kehidupan, perjalanan, dan apa yang harus dilakukan. Setelah mendengarkan lagu ini, yang pertama terbesit adalah musik yang santai sekaligus enerjik. Percampuran warna musik di dalam single ini takarannya sungguh pas, para pendengar akan disuguhkan perasaan bahagia, ceria, dan kelam di waktu yang sama.

Rantau – Wish You Where Here

Setelah meluncurkan single pertama sekaligus debutnya di industri musik Tanah Air, Rantau kembali meluncurkan single terbaru berjudul “Wish You Were Here”. Di karya terbaru ini penulisan lirik serta proses mixing-mastering dikerjakan oleh Indra. Banyak nilai kehidupan yang coba disampaikan Rantau lewat single “Wish You Were Here”. Salah satunya, bagaimana sikap generasi muda yang seharusnya lebih menghargai jasa-jasa generasi tua. Sebab, sedikit banyak yang dilakukan generasi tua di masanya, pasti berdampak bagi generasi saat ini.

“Banyak anak zaman sekarang lupa dengan jasa-jasa pendahulunya, baik yang berjuang buat kemerdekaan Indonesia atau orang tua yang berjuang supaya anak cucunya bisa hidup damai dan bahagia di masa depan,” jelas Indra.

Sekar – In The Middle

Setelah sekian lama disibukkan oleh kegiatan kuliah, anak sastra UGM yang dikenal dengan lagu-lagu pop-folk nya ini kembali memberikan nuansa baru dan emosional di single barunya dibantu oleh Ragil Genna Alfian gitaris dari band Duatiega dan penyanyi solo Fareeq Angkasa di synthesizer. Situasi dan keadaan yang serba terbatas di pandemi covid-19 ini berbuah karya lagu yang dibuat dan dinyanyikan oleh sekar secara emosional. Single ini diperkaya instrumen synthesizer dan diperkuat oleh gitar elektrik menjadikannya lebih unik dan tetap easy listening.

“Pada hari itu di bulan Mei saya duduk dan memikirkan betapa gilanya tahun ini. Saya tidak pernah berpikir bisa begitu emosional dengan situasi pandemi ini. Saya percaya kita semua sadar bahwa segala sesuatu ada akhirnya, dan kita hanya menolak untuk mengingatnya. Apakah kita semakin mendekati akhir dari segalanya? Kita tidak tahu. Tapi kita masih bisa berbuat lebih baik untuk membuat dunia ini tidak terlihat menakutkan. Itulah mengapa saya merasa tidak bisa tinggal diam dan segera mengambil gitar untuk menulis lagu ini.” Tutur Sekar.

Horse Planet Police Department – Glory Days

Berangkat dari kenangan-kenangan manis di masa ‘normal’ sebelum adanya pandemi yang menyerang, Horse Planet Police Department (selanjutnya akan ditulis dengan HPPD) resmi melepas “Glory Days”, sebuah nomor balutan kerinduan akan magisnya lantai dansa di ‘normal’ yang terdahulu. Masih berkesinambungan dengan segarnya nuansa ecstatic musik elektronik khas HPPD, “Glory Days” juga menjadi lembar terbaru dari perjalanan diskografi mereka. Hal ini ditandakan dengan masuknya Naufal Dzaky untuk mengisi posisi synthesizer dan vocal. Dirinya menyusul tiga nama dari formasi terdahulu, yakni Ardy Pangihutan (vocal, guitar, synth), Aliefta Putra (guitar, vocal), dan juga Jajung N (bass, guitar). Kembali ke bagaimana HPPD menggambarkan kerinduan mereka akan magisnya lantai dansa tersebut, berjalan selaras dengan pesan yang mereka sampaikan melalui “Glory Days” ini.

Impromptu – Don’t Break

Single yang ditulis sejak Oktober 2019 ini berkisah tentang seseorang yang berusaha tetap melanjutkan hidupnya dengan mencari kebahagiaan setelah melalui berbagai macam problema hidup dan mengalami banyak patah hati. Impromptu. seolah mengajak pendengar lagu ini agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan, karena masih banyak hal-hal lain yang dapat membuat hidup kita bahagia. Lirik lagu ditulis oleh Brigitta Globin Angela (vokal) yang akrab dipanggil Ubi. Ubi mengaku bahwa ia dalam sedang dalam titik terendah dalam hidupnya saat membuat lagu ini. Lagu ini direkam di 101 Music Studio milik Damar Puspito yang dikenal sebagai bassist dari unit Post-Rock asal Yogyakarta, Niskala. Selain merangkap sebagai music producer, Damar juga menggarap proses mixing-mastering dalam lagu ini. Resya (bass) mengungkapkan salah satu kendala yang mereka alami saat menjalani proses rekaman.

“Aku membuat lagu ini biar orang-orang bisa segera bangkit dari keterpurukannya, bisa mencari kebahagiaan lain yang sebenarnya dekat di hidup kita,” ujar Ubi.

Space Cubs – Parleying The Odds

Lagu berdurasi 3 menit 58 detik ini dikeluarkan oleh Space Cubs setelah merayakan bergabungnya mereka dengan Glossarie Records, sebuah label musik independen asal kota Bandung, yang sebelumnya juga telah merilis Pop at Summer dan Troü. Single ‘Parleying the Odds’ bercerita tentang pemikiran mengenai proses negosiasi atau pertimbangan  kejadian yang di alami sehari-hari dan juga yang akan datang, sehingga perlunya membuat rencana yang matang agar tercapainya tujuan yang di inginkan. ‘Parleying the Odds’ sendiri dikemas dengan balutan musik khas Space Cubs dengan nuansa spacey soundscape, harmonisasi vocal yang flamboyant dan jangly guitar yang kental.

Single ini diproduksi oleh Sofyan Nahdi dan Amirul Syahrul dan seluruh bagian proses rekaman single dilakukan secara multitrack di Gumbreg Record, Purwokerto pada tahun 2020. Ini adalah persembahan single perdana Space Cubs sebelum full album yang akan di keluarkan tahun 2021.

SoRRA – The Day Things Sees

Lagu ini sebenarnya telah dirilis pada tahun 2010 silam. Lalu di tahun ini dirilis ulang oleh Tarsius Records di berbagai layanan musik dalam jaringan. Lagu ini adalah salah satu lagu yang paling membuat pusing S0RRA, karena harus dipendam sampai dua tahun sebelum akhirnya dirilis perdana 10 tahun lalu. Bahkan lagu ini sudah ada sebelum EP self titled tahun 2009. Alasannya, mereka kesulitan menemukan lirik bahasa Indonesia yang pas untuk lagu ini. Sampai akhirnya ketika itu mereka menemukan tulisan lirik milik Nishkra, dan akhirnya Ruli menyanyikannya dengan judul The Day Thing Sees. Lagu ini direkam demo live di studio RED, Bandung, selepas kuliah atau bolos kuliah ketika itu. S0RRA sendiri berangkat dari pertemanan satu sekolah di SMA 7 Bandung.

“kami anak negeri,” kata Ari, drummer S0RRA.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading

Superglad Yang Kembali Melangkah

Superglad adalah band yang namanya tidak perlu lagi dipertanyakan di kancah musik tanah air. Setelah diterpa berbagai permasalahan yang sempat terjadi di dalam tubuh mereka, band yang terbentuk sejak tahun...

Keep Reading